237 views

Belajar Kearifan Hidup dari Para Filosof

VISUALISASI NEGATIF: BELAJAR KEARIFAN HIDUP KEPADA FILSUF STOA

Oleh: Zaprulkhan*

Walaupun sudah klise, tapi tetap merupakan suatu kebenaran bahwa hari ini sebagian kita digiring ke dalam budaya yang serba instan. Semuanya serba cepat berubah dan berganti wajah baru. Sesuatu yang baru dan fresh tahun lalu dan bulan lalu, minggu lalu bahkan hari kemarin, ternyata tahun ini dan bulan ini, minggu ini atau hari ini, menjadi hilang pesonanya dengan produk-produk mutakhir. Belum lama kita menikmati milik kita yang baru yang begitu mempesona hasrat kita, ternyata muncul produk baru. Di hadapan produk terbaru, kebaruan milik kita tiba-tiba menjadi usang. Kita terseret ke tengah-tengah pusaran orkestrasi gelombang besar arus era disrupsi yang menciptakan berbagai perubahan bentuk secara eksponensial.

Parahnya lagi, fenomena ini menyeret kita ke dalam semacam kedahagaan hedonistik yang tidak pernah terpuaskan: sebuah hedonic treadmill. Kita selalu mendambakan sesuatu yang bersifat lebih. Meskipun tabungan uang sudah melimpah, kita menginginkan deposit di bank yang lebih banyak lagi. Meskipun baru bulan lalu memiliki mobil terbaru, bulan ini kita tergoda dengan model mobil terbaru. Walaupun status sosial dan jabatan institusional kita sudah cukup bergengsi, kita tetap mengincar jabatan yang lebih bergengsi lagi. Walaupun sebagian besar kekayaan, kemewahan, dan kemegahan duniawi sudah berada dalam genggaman tangan kita, kita masih terus berpacu untuk mengumpulkam beragam bentuk kekayaan, kemewahan, sekaligus kemegahan perkakas duniawi.

Berhubungan dengan kedahagaan hedonistik ini, para psikolog menyatakan bahwa kini ada jutaan orang yang menderita penyakit psikologis yang disebut dengan kegelisahan status, status anxiety. Yakni kita begitu terobsesi untuk selalu melampaui situasi dan kondisi kita saat ini. Kita begitu berambisi untuk senantiasa melampaui keadaan (status) kita saat ini, meskipun kita telah memiliki segala-galanya. Walaupun semesta kesenangan dan kenikmatan duniawi telah berada dalam genggaman tangan kita, hasrat berburu kesenangan ini ternyata tak pernah terpuaskan.

Lalu bagaimana mengatasi kedahagaan hedonistik yang tidak pernah terpuaskan tersebut? Bagaimana kita dapat keluar dari perangkap penyakit psikologis berupa kegelisahan status ini? Saya tertarik dengan salah satu solusi yang ditawarkan oleh para filsuf Stoa klasik. Para filsuf Stoa ini mengenalkan sebuah teknik reflektif yang disebutnya dengan visualisasi negatif, negative visualization. Dengan visualisasi negatif, kita membayangkan bahwa kita akan kehilangan segala sesuatu yang telah kita miliki, segala sesuatu yang paling kita hargai, senangi, dan cintai.

Kita membayangkan bahwa semua kekayaan yang kita miliki, satu saat pasti akan lenyap. Kita membayangkan bahwa kemewahan dan kemegahan mobil terbaru dan rumah terindah yang kita nikmati, tidak butuh waktu lama akan menjadi usang. Kita membayangkan bahwa kesehatan prima yang menemani hari-hari kita saat ini, satu waktu akan rapuh digerogati usia senja. Saat kita mencium anak-anak kita, sadarilah bahwa kelak kita akan meninggalkan mereka. Saat kita mendekap istri terkasih kita, hayatilah bahwa suatu saat kita pasti akan berpisah dengannya. Tatkala kita menikmati segala bentuk kesenangan dan kenikmatan duniawi, bayangkanlah bahwa seluruhnya pasti akan kita lepaskan.

Teknik visualisasi negatif ini barangkali kedengarannya tidak menyenangkan bagi kebanyakan kita. Tapi para filsuf Stoa mempunyai maksud terapitik di sini. Mereka mengajak kita untuk memahami bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dalam kehidupan ini sekedar dipinjamkan oleh Tuhan Yang Maha Kaya kepada kita. Sebagian dari semua kenikmatan duniawi yang kita miliki atau bahkan semuanya, sangat mungkin diambil kembali dalam sekejap oleh Sang Pemilik Mutlaknya. Kesadaran inilah, pertama-tama yang mesti kita endapkan ke dalam relung-relung batin kita.

Selanjutnya, dalam tilikan filsuf Stoa, lazimnya sebagian besar kita terjebak psikologi hasrat ini dalam dua problem sekaligus. Pertama, kita melalaikan makna pada segala hal yang telah kita raih dan miliki selama ini. Karena kelalaian inilah, kita tidak lagi menghargai semua kenikmatan yang telah kita miliki. Padahal semuanya bisa saja lenyap setiap saat. Kedua, psikologi hasrat menjebak kita dalam pengejaran kesenangan tanpa henti; sehingga kita lalai untuk menyadari bahwa seindah dan sehebat apapun milik kita, satu waktu pasti akan kita tinggalkan.

Karena itu, melalui visualisasi negatif, kaum filsuf stoa menawarkan advis bijak bagi problem pertama kita: Love what you have now, before life teaches you to love what you lost; “Kita harus belajar untuk mencintai segala hal yang sudah kita miliki saat ini, sebelum kehidupan mengajarkan kepada kita untuk mencintai segala hal yang telah lenyap dari dekapan kita.”

Dengan kata lain, kita perlu memiliki kesadaran bahwa semua yang telah kita raih hingga hari ini, terlepas dari apapun bentuknya, sangat layak untuk kita hargai; sangat layak untuk kita apresiasi; sebelum semuanya meninggalkan kita dan menorehkan sebuah penyesalan tak bermakna.

Di sini kita tidak boleh terlalu begitu terobsesi dengan pelbagai target yang ingin kita gapai dengan menafikan semua kekayaan hidup yang telah kita miliki. Sebab lagi-lagi, pemujaan hedonistik kita terhadap hal-hal yang bersifat eksternal tidak akan pernah membuahkan kepuasan yang lengkap. Pemburuan eksternal kita malah menjadikan hidup kita semakin rapuh secara psikologis, mental dan spiritual.

“Segala perkakas eksternal yang Anda sembah,” ujar David Foster Wallace, “akan memakan Anda hidup-hidup. Jika Anda menyembah uang dan harta benda—jika uang dan harta adalah objek tempat Anda menaruh makna sejati dalam hidup—maka Anda tidak akan pernah merasa cukup. Pujalah tubuh Anda sendiri dan keindahan serta daya tarik seksual Anda, maka sepanjang hidup Anda akan selalu merasa buruk rupa. Dan ketika putaran sang waktu dan usia mulai tampak senja, Anda akan mengalami sejuta kematian sebelum Anda dikubur. Sembahlah kekuasaan, niscaya Anda akan merasa lemah dan takut sehingga Anda akan memerlukan lebih banyak lagi kekuasaan terhadap orang lain untuk menghalau ketakutan Anda sendiri. Sembahlah kecerdasan Anda dan sembahlah anggapan orang memandang Anda pintar, maka hidup Anda akan berakhir dengan perasaan sebagai orang bodoh, penipu, dan selalu berada di tubir kecemasan akan kepandaian”.

Sedangkan bagi problem kedua, melalui visualisasi negatif, para filsuf stoa mengajak kita semua untuk benar-benar menyadari bahwa semua yang kita miliki tidak ada yang bersifat abadi. Semua hanya bersifat sementara. Kesehatan prima yang kita rasakan, tidak jarang diselingi dengan letupan-letupan penyakit, entah penyakit-penyakit ringan maupun berat. Segala bentuk kesenangan dan kenikmatan hidup yang menemani kita, serangkali diinterupsi oleh berbagai kegetiran dan kepahitan hidup. Bahkan ruh kita yang bersifat abadi pun, satu waktu meninggalkan fananya jasad kita yang rapuh. Semua ini sebagai isyarat bahwa tidak ada yang abadi dengan segala kenikmatan duniawi. Ada siklus ketidakabadian di sana. Ada putaran kesementaraan di dalamnya. Kesadaran inilah yang perlu benar-benar kita miliki.

Tampaknya bagi kebanyakan kita, selusi kedua dari para filsuf Stoa tersebut sudah kita pahami. Kita sudah betul-betul mengerti. Tapi lagi-lagi, kita keliru jika mengukur maksud para filsuf Stoa dengan standar pengetahuan teoretik kita hari ini. Tujuan yang diinginkan oleh para filsuf Stoa dengan visualisasi negatif itu bukan sekedar pengetahuan dan wawasan semata, tetapi harus menyelami sebuah penghayatan dan pengalaman. Visualisasi negatif tidak boleh hanya berhenti sebatas pengertian an sich, tapi harus menembus jantung kesadaran terdalam kita. Kesadaran intrinsik inilah, yang akan menjadi semacam kompas moral-spritual yang memandu setiap langkah dan keputusan yang kita ambil agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara kita dengan hukum universal kehidupan.

Pada puncaknya, dengan kesadaran intrinsik ini pula, kita akan memiliki semacam keteguhan autentik: pain is not a punishment and pleasure is not a reward, Segala macam ujian dan nestapa kehidupan yang mengunjungi hidup tidak lagi membuat kita tenggelam dalam duka, sebagaimana segala macam kesenangan dan kenikmatan yang menyapa kita tidak lagi mejadikan kita larut dalam euforia. Antara suka dan duka. Antara nikmat dan derita. Antara senang dan nestapa. Antara tangisan dan senyuman. Kita mendekap keduanya dengan tenang dan damai. Kita mendekap keduanya dengan senyum ketulusan. Kita mendekap keduanya dengan penuh kehangatan. Kita berpelukan mesra dengan keduanya bersama keharmonisan abadi. Itulah pesan intrinsik yang disuarakan oleh para filsuf Stoa dengan visualisasi negatifnya.

*Penulis adalah Dosen Pemikiran Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: