377 views

Tentang Buku Dinamika Pemikiran

Dinamika Pemikiran dan Kehidupan Beragama di Indonesia

Oleh : Abu Muslim*

Judul Buku: Dinamika Pemikiran dan Kehidupan Beragama di Indonesia
Penyunting: Prof. Dr. Aksin Wijaya
Penerbit: IRCISOD
Tebal Buku: 542 Halaman
Tahun Cetak: 2022
ISBN: 978-623-6166-89-5

Sejak zaman reformasi 1998 perhatian para sarjana terhadap dinamika gerakan-gerakan Islam di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dilatarbelakangi oleh suburnya kajian wacana keislaman, khususnya kajian pada aras pemikiran perubahan dan dinamika politik. Kendati demikian, sebagian pendekatan yang bias cenderung melingkupi beberapa para pemikir Islam di Indonesia. Wacana yang didengungkan berorientasi pada sikap keberagamaan yang ekslusif.

Pemikiran dan gerakan Islam sesungguhnya tidak bisa terlepas dari tarik menarik dengan kekuatan-kekuatan politik yang sedang berlangsung sekarang ini. Di sisi lain, pemikiran dan gerakan mencoba merespon momentum yang sedang atau akan segera berlangsung, baik dalam skala lokal maupun nasional.

Menaggapi derasnya dinamika dan perubahan pemikiran serta gerakan di atas, hadir di tengah kita buku berjudul “Dinamika Pemikiran dan Kehidupan Beragama di Indonesia”. Buku ini merupakan bentuk refleksi dan respon terhadap realitas kehidupan keberagamaan di Indonesia.  Enam belas penulis terlibat dalam penyusunan buku ini. Mereka menghadirkan berbagai ragam tulisan, baik yang bersifat teoritik-konseptual maupun yang bersifat empirik. Buku ini menarik karena terlihat seperti mozaik. Ada yang membahas dari sisi epistemologis, metodologis, hingga dikaji melalui sisi sudut pandang sosial antropologis.

Buku ini merupakan kompilasi karya sejumlah cendikiawan dan pemikir muda progeresif yang mempunyai minat dan perhatian khusus terhadap pemikiran Islam dan realitas keberagamaan di Indonesia. Meskipun buku ini adalah kumpulan artikel yang telah terbit 2004-2020, namun buku ini terasa tak lekang oleh waktu. Mengapa? Karena buku ini secara teoritis dan empirik membahas isu-isu sentral agama dan keberagamaan dalam konteks kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia.

Untuk mempermudah para pembaca, buku ini dikelompokan menjadi empat bagian sesuai dengan inti gagasan yang setema. Bagian pertama yang masing-masing ditulis oleh Aksin wijaya, Ahmad Rafiq, Ach. Maimun, Jajang A Rohmana. Kemudian bagian kedua oleh Mujamil Qomar, Ngainun Naim, Abid Rohmanu, Asfa Widiyanto.

Sementara pada bagian ketiga masing-masing ditulis oleh Achmad Muchaddam Fahham, Islah Gusmian, M. Khusna Amal & Ahmad Fajar Sodiq, Toto Suharto dan Saman Hudi. Pada bagian Keempat tentang “Fenomena keyakinan terhadap sesuatu yang magis dan gaib” masing-masing ditulis oleh Ayatullah Humaeni dan Nur Rif’ah Hasany.

Bagian pertama, berjudul “Al Qur’an, Interpretasi dan Kolonialisme”. Pada bagian ini  Aksin Wijaya mengawali dengan tulisannya yang berjudul “Menafsirkan al Qur’an Secara Bijak : Ber-uswah Hasanah pada Cara Berkomunikasi Tuhan”. Dalam tulisannya, Aksin hendak menawarkan pendekatan baru dalam mengkaji al Qur’an yakni dengan analisis wacana.

Untuk itu bahasan difokuskan pada dua hal: pertama, cara penyampaian pesan Tuhan kepada manusia dan kedua adalah bentuk wacana al Quran.  Penggunaan metode ini menurut Aksin bisa menghindarkan penafsir dari kesewenaangan atau manipulasi dalam menafsir teks al Qur’an. Ini sebagaimana sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok eksklusif.

Berikutnya Ahmad Rafiq dengan tajuknya “Pembacaan Atomistik al Qur’an: Fungsi dan Relasi Al Qur’an bagi Muslim”. Pada artikel ini Rafiq berupaya mengeksplorasi arah perkembangan pembacaan atomistik terhadap al Qur’an dan relasinya dengan pembaca.

Temuan Rafik ini mengejutkan, bahwa cara pembacaan terhadap pembacaan atomistik sudah ada sejak zaman Nabi. Kemunculan cara pembacaan atomitik sejak turunnya wahyu menurut Rafiq memberikan ruang karena dihadapkan pada konteks yang berbeda-beda, padahal menurutnya cara pembacaan ini merupakan penyimpangan dari pesan menyeluruh al Qur’an.

Ketiga, artikel ditulis Ach. Maimun “Resistensi Terhadap al Qur’an di Indonesia: Pemetaan Varian dan Kepentingan”. Dalam artikel ini penulisnya menawarkan metode hermeneutik sebagai cara membaca atau dan menafsir al Qur’an. Berangkat dari keresahan penulisnya karena dinamika ilmu-ilmu metodis penafsiran al Qur’an menghendaki perlunya metode pengungkap makna yang benar. Untuk kepentingan ini Ach. Maimun menawarkan metode hermeneutik.

Meski begitu Ach. Maimun mencatat beberapa lembaga atau sarjana yang menolak hermeneutik sebagai metode pembaca. Penolakan itu memiliki keseragaman, baik beragumen secara teologis, ideologis dan metodologis. Argumen-argumen tersebut sebenarnya memiliki kepentingan-kepentingan ideologis seperti puritan fundamentalis, tradisionalis hingga sains.

Keempat, Jajang A Rohmana “Al Qur’an dan Kolonialisme: Respon KH. Ahmad Sanusi terhadap Penjajahan dalam Tafsir Malja’ath-Thalibin”. Tulisan ini mengulas kitab tafsir sebagai media kritik melawan penjajah sebagai bentuk pembelaan terhadap kaum pribumi. Tafsir yang berbahasa Sunda ini menjadi media penyampai pesan kepada pembaca yang mayoritas berasal dari kelompok Muslim daerah Bandung. Dalam upaya membedah makna kitab tafsir yang ditulis Sanusi ini, Rohmana menggunakan alat analisis wacana kritis yang dipadukan dengan pengakajian sejarah sosial keagamaan.

Tulisan ini menyimpulkan bagaimana kecermatan Sanusi sebagai ulama pondok melawan penjajah yang tidak harus dengan penggunaan senjata. Perlawanan dilakukan melalui kritik dengan menggunakan media penafsiran al Qur’an yang disebarkan kepada masyarakat wilayah Bandung untuk membentuk wacana tersebut. Pada bagian pertama ini merupakan refleksi atas respon kehidupan sosial, politik, keagamaan dan kebangsaan di Indonesia. Bentuk respon tersebut dengan menunjukkan peta pandangan dan sikap penggunaan metode interpretasi terhadap teks al Qur’an.

Bagian kedua berjudul “Keragaman dan Mistifikasi Pemikiran Islam “. Pada bagian ini terdapat empat penulis : pertama, Mujamil Qomar berjudul “Ragam Pengembangan Pemikiran Teologi Islam di Indonesia”. Kedua, Ngainun Naim tentang “Fiqh Kebinekaan: Dari Nalar Teologis-Normatif Menuju Kontekstual Progresif”,ketiga, Abid Rohmanu berjudul  “Mistifikasi Epistemologis Penalaran Hukum Islam Kaum Puritan”, dan keempat,  Asfa Widiyanto berjudul “Bangunan Ilmu Pengetahuan dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Telaah dan Kontekstualisasi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr”.

Bab ini berupaya membaca arah hubungan Islam dan ilmu-ilmu yang berkembang di era kontemporer ini. Keempat tulisan ini dengan jernih berhasil menunjukkan Islam dapat memperluas pengaruhnya dan menghadirkan tantangan nyata bagi kelangsungan hidup umat Islam di Indonesia.

Usaha tersebut dilatari oleh keyakinan teoretis bahwa ada hubungan signifikan antara Islam dengan ilmu-ilmu yang sedang berkembang saat ini di tengah tantangan kehidupan beragama dan berbangsa. Pada bab ini ingin meletakkan pandangan serta sikap terhadap kondisi masyarakat Muslim Indonesia sebagai sebuah upaya bernegosiasi dengan keadaan, dan dengan demikian mempertahankan relevansi mereka dalam kehidupan publik dan kemasyarakatan.

Bagian ketiga berjudul “Dinamika Kehidupan Beragama”. Memang tiap tulisan ini mempunyai titik tekan yang berbeda. Akan tetapi tema besar pada bab ini berupaya mengeksplorasi arah perkembangan yang terjadi di dalam dinamika kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia. Misalnya Achmad Muchaddam Fahham “Dinamika Hubungan Antar umat Beragama: Pola Hubungan Muslim dan Hindu di Bali”, mengkaji pola hubungan antara agama Hindu dengan Islam. Kajian ini menarik karena sudut pandang yang dipakai, yakni sosio-kultural. Dengan sudut pandang ini Fahham berhasil menunjukkan dimensi keragaman di wilayah tersebut dan pola hubungan harmonis yang terbentuk.

Kedua, Islah Gusmian tentang “Gerakan Islam Kiri di Surakarta Era Revolusi”. Pada artikel ini menunjukan bagaimana dinamika ber-Islam di Surakarta yang memiliki keeratan dengan kekuasaan pada saat itu yakni Keraton Surakarta. Ditengah dinamika tersebut muncul tokoh Muhammad Misbcah sebagai gerakan kiri.

Sisi menarik dari pemikiran Misbach ini ialah spirit perlawanan terhadap para penindas dan penokan terhadap kapitalisme seperti yang dilakukan oleh Belanda, Residen Surakarta dan Pakubuwono X. Gerakan Misbach ini terlihami oleh Karl Marx yang ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas dan keyakinannya atas Islam sebagai petunjuk dan keselamatan bagi seluruh lapisan umat manusia. Misbach dalam perjuanganya menggunakan media massa pada saat itu, dan Islah Gusmian menyebutnya sebagai gerakan revolusioner.

Ketiga, M Khusna Amal & Ahmad Fajar Sodiq berjudul “Konflik Sunni-Syi’ah di Indonesia Kontemporer: Polarisasi, Diskriminasi, dan Kekerasan Agama”. Keempat, Toto Suharto menawarkan “Mendidik Muslim Moderat: Ketidakmemadaian Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Membendung Radikalisme”. Kelima, Saman Hudi dengan gagasan “Dwi Fungsi Kial. Menyingkap Teologi Politik Kiai Jember”.  Pembahasan pada ketiga artikel tersebut sebagai bentuk penawaran atau rekonsiliasi terhadap beberapa kasus redikalisme. Beberapa stakeholder yang ada di setiap wilayah mempunyai kemampuan yang berbeda, ada yang memadai dan tidak. Sehingga ini menjadi peluang kelompok radikalis tumbuh subur.

Bagian keempat berjudul “Fenomena Keyakinan terhadap yang Gaib”. Pada bab ini masing-masing ditulis oleh Ayatullah Humaeni tentang “Kepercayaan kepada Kekuatan Gaib dalam Mantra Masyarakat Muslim Banten” dan Nur Rif’ah Hasaniy “Fenomena Kiamat Lokal’ di Ponorogo: Menyingkap Tabir Komersial di Balik Simbol- Simbol Agama”.

Pada bagian ini juga menarik, karena berupaya memahami hasil pengamatan fenomena dalam masyarakat dalam merespons dinamika kehidupan hingga perkembangan kekinian ternyata tidak menggeser praktik mistis dan magis dalam masyarakat. Hal itu ditandai menguatnya pengaruh magis dan mistis yang diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Praktik ini secara fungsional digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan spritual atau teologis dan kebutuhan pragmatis manusia atau kebutuhan dalam sehari-hari.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi kita. Sebab dengan memperhatikan wawasan yang disajikan dan kedalaman analisis dalam tiap babnya dicoba dihadirkannya. Buku ini penting penting untuk dibaca.

Buku ini hadir, meminjam istilah Noorhaidi Hasan, untuk memberikan “terobosan Metodologi” dalam kajian Islam dan masyarakat Muslim di Indonesia. Buku ini meretas kebekuan atas kajian Islam yang sebagian besar masih masig normatif-apologetik. Buku ini menghadirkan pendekatan-pendekatan yang mencerahkan.

Amin Abdullah menegaskan bahwa pendekatan yang mencerahkan ditandai adanya pembaharuan metode pemahaman atas agama Islam dengan pendekatan multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin. Selamat membaca! (* Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo). [AR]

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: