350 views

Tentang Buku

KONTESTASI MEREBUT KEBENARAN ISLAM

Aksin Wijaya*

Judul : Kontestasi Merebut Kebenaran Islam Di Indonesia

Penulis : Dr. Aksin Wijaya

Penerbit : IRCiSoD

Tebal : 228 hlm

Tahun : 2019

Bagaimana memahami buku ini

Saya akan mendudukkan persoalan yang melatarbelakangi munculnya buku ini, serta metode yang digunakan agar sahabat-sahabat mahasiswa bisa memahami argumen utama buku ini. Yang melatarbelakangi buku ini adalah munculnya ayat-ayat al-Qur’an yang terkesan kontradiksi (al-Baqarah:62 dan Ali Imran:85), sehingga melahirkan pemahaman yang beragam tentang Islam. Selama ini kita memahami Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saja dengan bekal ayat Ali Imran:85; di sisi lain, al-Qur’an menyebut Islam sudah ada sebelum kehadiran nabi Muhammad, dan dianut oleh semua nabi dengan berbekal al-Baqarah:62. Pemahaman atas persoalan yang melibatkan dua ayat ini mempengaruhi pemahaman mereka tentang sikap al-Qur’an terhadap penganut agama di luar agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, terutama Yahudi dan Nasrani. Karena itu, akan dibahas dua masalah utama, yakni esensi Islam; dan sikap al-Qur’an terhadap Yahudi dan Nasrani.

Karena banyaknya sarjana muslim Indonesia yang terlibat dalam diskusi tentang kedua masalah ini, akan digunakan tipologi eksklusif, inklusif dan pluralis untuk memudahkan pemilihan para sarjana muslim yang akan dilansir dalam buku ini, sebelum ahirnya saya menawarkan pemikiran saya sendiri tentang kedua masalah tersebut. Dari ketiga tipe sarjana muslim itu, akan disingkap argumen mereka dalam memahami Islam dan sikap al-Qur’an terhadap Yahudi dan Nasrani dengan menggunakan dua metode, yakni analisis wacana kritis dan kritik-apresiatif/aprsiatif-kritis. Metode yang pertama yang memuat beberapa langkah: diferensiasi, dominasi, marjinalisasi, dan justifikasi digunakan untuk menyingkap argumen ketiga tipe sarjana muslim Indonesia dalam memahami “esensi Islam”, sedang metode kedua yang memuat strategi “menjadikan lawan dalam berpendapat, sebagai kawan dalam berdiskusi/ dan menjadikan kawan dalam berpendapat sebagai lawan dalam berdiskusi” digunakan untuk menyingkap argumen ketiganya dalam memahami “sikap” al-Qur’an terhadap Yahudi dan Nasrani.

Tiga argumen dalam memahami Islam

Pertama, Sarjana muslim eksklusif. Para sarjana muslim eksklusif menggunakan metode berfikir dialektika-dikotomis dan mempercayai adanya nasikh-mansukh di dalam al-Qur’an. Mereka lantas menyebut al-Baqarah:62 yang mempunyai semangat inklusif yang mengapresiasi Yahudi, Nasrani dan Soabiun dinasakh oleh Ali Imran:85 yang mempunyai semangat eksklusif, bahwa hanya Islam yang dibawa nabi Muhammad yang benar dan menawarkan jalan keselamatan bagi manusia. Mereka memperkuat keyakinanya itu dengan menampilkan ayat-ayat al-Qur’an akan kebenaran dan kesempurnaan Islam, di samping ayat-ayat al-Qur’an yang menjustifikasi adanya hubungan biologis dan teologis nabi Muhammad dengan nabi Ibrahim. Ibrahim adalah kakek buyut nabi Muhammad, dan nabi Ibrahim adalah beragama Islam, bukan yahudi dan nasrani. Muhammad diperintah untuk mengikuti agama kakeknya.

Nalar Islam seperti itu dapat mengeluarkan Yahudi dan Nasrani dari barisan monoteisme Islam dan Ibrahim, baik secara biologis maupun teologis dengan menyebut mereka sebagai kafir karena mengakui trinitas Tuhan. Mereka lantas mendahulukan sikap kritisnya terhadap kedua agama samawi itu daripada sikap apresiatifnya, dengan menampilkan ayat-ayat al-Qur’an yang bernada kritik atas Yahudi dan Nasrani. Bahkan, tidak jarang mereka melupakan sikap apresiatif al-Qur’an atas Yahudi dan Nasrani.

Kedua, sarjana muslim inklusif. Para sarjana muslim inklusif menggunakan metode berfikir dikotomis-inklusif, dan menolak adanya nasikh-mansukh di dalam al-Qur’an. Karena itu, mereka mengakui eksklusifitas Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad (Ali Imran:85), tetapi pada saat yang sama menghargai keberadaan dan keyakinan Yahudi, Nasrani, dan Sobiun (al-Baqarah:62). Jadi, di satu sisi, mereka masih mengakui dikotomi agama: Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad; dan non-Islam, seperti Yahudi, Nasrani dan Soabiun. Namun, mereka juga menghargai penganut selain Islam, sembari mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang sama. Atas dasar itu, mereka mendahulukan sikap apresiatinya terhadap Yahudi dan Nasrani, tetapi terkadang melupakan sikap kritisnya.

Ketiga, sarjana muslim pluralis. Para sarjana muslim pluralis menggunakan metode berfikir demonstratif-pluralis, menolak adanya nasikh-mansukh dan sinonimitas di dalam al-Qur’an. Al-baqarah:62 tidak dinasakh oleh Ali Imran:85, begitu juga istilah Islam berbeda (tidak sinonim) dengan istilah iman. Mereka memulai pemahamannya dengan cara membagi Islam menjadi dua kategori: Islam dalam arti sikap kepasrahan, dan Islam dalam arti proper-name. Esensi Islam adalah sikap kepasrahan, dan semua nabi mengambil sikap kepasrahan pada Tuhan; dan manifestasitasi sikap kepasrahan itu mengambil bentuk syari’at yang berbeda-beda: syari’at Yahudi, Nasrani dan Islam. Mereka menyikapi syari’at Yahudi dan Nasrani lebih apresiatif, bahkan terkadang melupakan sikap kritisnya.

Sintesis

Sebagai sintesis atas ketiga argumen tersebut, saya menggunakan metode berfikir demonstrative-pluralis, menolak adanya nasikh-mansukh dan sinonimitas di dalam al-Qur’an, sembari melanjutkan argumen Islam yang ditawarkan para sarjana muslim pluralis. Saya meyakini, Islam itu tunggal karena lahir dari yang Maha Tunggal. Islam yang tunggal itu berintikan tiga ajaran dasar, yakni percaya pada Allah, hari akhir dan amal shaleh (al-baqarah:62), dan disampaikan kepada umat manusia melalui para nabi-Nya yang diutus pada waktu dan tempat yang berbeda-beda.

Ketunggalan Islam itu ditandai oleh kesatuan akidah dan usul shari’ah, dan keragaman para nabi ditandai oleh keragaman di bidang furu’ syari’ah sebagai manifestasinya. Karena ketunggalan ajaran dan keragaman para nabi yang membawa ajaran itu, berarti yang membedakan ajaran yang tunggal itu adalah nabi-nya yang menjadi shahadat kedua dalam berislam, dan tentu saja juga manifestasi lahiriahnya yang disebut syari’at. Atas dasar itu, agama-agama samawi itu bisa disebut dengan istilah Islam Yahudi, Islam Nasrani dan Islam imani. Islam yahudi adalah Islam yang nabinya adalah Musa, Islam nasrani adalah Islam yang nabinya adalah Isa, dan Islam imani adalah Islam yang nabinya adalah Muhammad.

Syari’at yang dibawa oleh ketiga Islam itu sama dari sisi ushulnya, dan yang berbeda hanya dari segi furu’iyahnya, baik dalam bidang ibadah maupun muamalah. Dalam bidang ushul syari’ah, ketiganya mengajarkan shalat, puasa, haji dan mengeluarkan zakat, dan yang berbeda adalah teknik pelaksanaannya; sedang dalam bidang muamalah ketiganya mengajarkan keadilan, menghormati kedua orang tuanya, larangan saling membunuh, sikapa rahmat, saling berbuat baik, dan lain sebagainya.

Dengan argumen Islam seperti itu, al-Qur’an mendahulukan sikap apresiatifnya terhadap penganut Yahudi dan Nasrani, karena mereka merupakan bagian dari monoteisme Islam dan hanifiyah Ibrahim. Perbedaan di antara ketiganya hanya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang bersifat furu’iyah, bukan ushuliyah, baik akidah maupun syari’ah. Karena itulah, al-Qur’an mengajarkan umatnya agar bersikap toleransi kepada Yahudi dan Nasrani, bersikap bijak, memberi nasehat yang baik, dan jikapun harus berdialog, maka berdialoglah dengan cara yang paling baik “ahsan”. Selamat membaca! (*Penulis Buku)

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: