598 views

Sejarah Pemikiran Berislam dengan Hadis

Sejarah Pemikiran Berislam dengan Hadis

Oleh: Aksin Wijaya*

Saya diminta untuk memberi pengantar dalam diskusi virtual oleh Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Bukit Tinggi dengan tema “Living Hadis dan Pendekatan Baru dalam Studi Hadis”, pada tanggal 9 Juni 2020. Kendati kajian tentang hadis tidak semenarik kajian dengan tema-tema lain dalam pemikiran Islam, tema ini terasa menarik karena ada nuansa kontekstualitas di dalamnya, dan tema ini relatif baru dalam jagad studi hadis. Kajian living hadis, dan tentusaja juga living Qur’an diperkenalkan pertamakali untuk konteks Indonesia oleh dosen-dosen UIN Sunan Kalijaga. Karena sudah ada buku yang mengulas tema seperti ini, seperti Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, yang ditulis oleh Sahiron Samsuddin dkk, serta Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks dan Transmisi yang ditulis oleh Saifuddin Zuhri dan Subkhoni Kusuma Dewi, saya tidak akan mengulas lebih mendalam apa itu Living Hadis dan pendekatan yang sejatinya digunakan. Saya lebih fokus pada sejarah pemikiran tentang hadis sampai munculnya kajian Living Hadis.

Saya ingin memulainya dari al-Qur’an, karena hadis merupakan bagian tak terpisahkan dari al-Qur’an. Al-Qur’an adalah teks yang aktual dan hidup, karena ia hadir dari Tuhan untuk menjawab pelbagai persoalan yang dihadapi nabi Muhammad dan umat Islam periode awal. Tidak ada peristiwa yang terlewatkan oleh al-Qur’an, kecuali menyangkut persoalan-persoalan teknis dan global yang terkadang maksud al-Qur’an itu tidak dipahami oleh para sahabat dan umat Islam kala itu. Di situlah nabi diberi otoritas oleh Tuhan untuk memberikan penjelasan terhadap ayat al-Qur’an yang bersifat teknis dan global tadi, selain peran sebagai penyampai risalah ilahi. Dengan peran sebagai penjelas itu, nabi mempunyai otoritas kedua setelah Tuhan, kendati bukan otoritas pembuat syari’at (Syari’). Jadi, nabi Muhammad merupakan penyampai dan penjelas wahyu ilahi.

Ketika al-Qur’an sudah sempurna dan nabi Muhammad sudah paripurna dalam mengemban risalah ilahi (wafat), al-Qur’an yang masih berbentuk teks lisan itu disepakati untuk dibukukan, dan pembukuannya secara sempurna terjadi pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan. Berbanding terbalik dengan al-Qur’an, para sahabat nabi belum melakukan pembukuan terhadap hadis, karena nabi Muhammad sendiri pernah melarang membukukan hadisnya. Hadis nabi pun masih menjadi teks lisan dalam waktu yang begitu lama, namun justru ia menjadi teks yang hidup yang oleh sebagian orang disebut Sunnah. Hadis yang masih bertengger di kepala dan hati para sahabat nabi itu senantiasa dijadikan pijakan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan yang muncul di masyarakat, baik secara implisit maupun ekskplisit.

Secara implisit karena para sahabat itu terlibat langsung dalam peristiwa wurudul hadis, sehingga pesan asasi dari hadis nabi, baik hadis fi’liyah, qauliyah maupun taqririyah, menyatu dengan urat nadi kehidupan mereka. Jika al-Qur’an merupakan cermin kehidupan nabi, bisa dikatakan, hadis merupakan cermin kehidupan para sahabat nabi. Secara eksplisit misalnya ketika Umar bin Khaththab mengambil kebijakanaa dalam situasi tertentu. Suatu ketika, Umar bin Khaththab sempat menggagalkan untuk pergi ke Syam karena di kota itu sedang ditimpa wabah penyakit menular yang disebut tha’un. Menyikapi masalah ini, Umar bin Khaththab bertanya kepada para sahabatnya tentang apa yang harus dilakukan. Sebagian sahabat mengemukakan pendapatnya agar tidak masuk ke sana dengan menggunakan hadis nabi ketika menyikapi penyakit menular. Umar dan pasukannya ahirnya memutuskan untuk tidak pergi ke sana, dan pada saat yang sama, orang-orang yang ada di sana dilarang keluar. Inilah yang kemudian dikenal istilah karantina di era pandemi covid-19 saat ini.

Ketika Islam semakin meluas dan banyak orang-orang non-Arab yang masuk Islam; disisi lain, banyak hadis nabi dijadikan justifikasi oleh seseorang atau penguasa tertentu, sebagian ulama lantas berinisiatif sendiri membukukan hadis nabi. Hal itu terjadi kira-kira satu setengah atau dua abad (H) dari kehidupan nabi Muhammad. Dari sekian banyak perawi hadis yang muncul saat itu, hanya al-Muwaththa’ karya Imam Malik (w. 179 H), Shaheh Bukhari (808-869 M), Shaheh Muslim (817-875 M), Musnad Ahmad bin Hambal (780-855 M), sunan Abu Daud (817-888 M), dan Al-Nasa’i (830-915 M) dan sunan Ibn Majah (822-876 M), yang bertahan hingga saat ini. Yang lain hilang karena proses sejarah. Yang penting dicatat pada periode ini adalah: pertama, yang dibukukan oleh para perawi hadis adalah teks dan maknanya, tidak peristiwanya. Sejak itu, hadis menjadi teks yang mati. Kedua, sejak itu pula, hadis nabi mengalami otonomi relatif, baik dari nabi sendiri maupun konteks kelahirannya. Otoritasnyapun bergeser, dari nabi kepada para perawi hadis. Ketiga, bagitu juga terjadi pergeseran relasi, yang semula dari nabi Muhammad ke para sahabat dan umat Islam, ke relasi dari para perawi hadis ke umat Islam.

Yang muncul pada periode ini adalah pertarungan pemegang otoritas, baik otoritas perawi maupun wacana. Perebutan itu menjadi semakin menarik ketika muncul syarah kitab-kitab hadis itu, karena syarah hadis dapat memperkokoh otoritas perawinya. Ketika perawinya mendapat otoritas, saat itu pula, wacana atau pemikiran yang lahir dari hadis nabi itu menjadi otoritatif. Tidak jarang, para penulis dan penceramah agama menukil hadis disertai dengan perawinya untuk memperkuat pemikirannya. Ketika hadis itu disebut dengan perawi Bukhari dan Muslim, hadis itu diyakini shaheh dari nabi dan karena itu ia layak digunakan dan diikuti oleh umat Islam. Setiap kali muncul peristiwa di masyarakat, mereka mencarinya dari hadis Bukhari dan Muslim jika tidak ditemukan secara eksplisit di dalam al-Qur’an.

Karena banyaknya hadis yang bertentangan dengan hadis lain, bertentangan dengan al-Qur’an, dan munculnya hadis-hadis palsu, belakangan muncul kritik hadis, baik kritik sanad maupun kritik matan. Debat para intelektual dalam masalah ini berlangsung dalam waktu yang begitu lama, tetapi tidak menemukan sesatu yang baru di dalamnya kecuali pengurangan jumlah hadis yang shaheh, dan munculnya kritik terhadap para ulama’ yang senantiasa menggunakan hadis da’if dalam menuangkan pemikirannya, seperti kritik terhadap imam al-Ghazali di dalam karyanya Ihya’u Ulumiddin.

Lalu, sebagian intelektual muslim khususnya di Indonesia dan lebih khusus lagi di UIN Sunan Kalijaga memunculkan kajian tentang hadis yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang dikenal living hadis. Sejak itu pula, terjadi pergeseran relasional, dari relasi perawi hadis dan umat Islam, ke relasi antara teks hadis dengan masyarakat dalam bentuk tradisi. Mereka mentradisikan atau menghidupkan hadis nabi, yang bisa dikatakan berislam dengan hadis. Karena itu, secara epistemologis, ia juga mengalami pergeseran, dari kajian yang berbasis pada teks, ke kajian yang berbasis pada masyarakat. Begitu juga, di sini tidak berlaku hukum yang berlaku dalam ilmu-ilmu hadis, seperti shaheh dan tidaknya hadis yang mereka tradisikan. Pergeseran yang sama terjadi pada pendekatan. Karena Living Hadis berkaitan dengan bagaimana hadis hidup di masyarakat, maka digunakanlah teori-teori sosial dalam kajian hadis yang hidup tadi, seperti sosiologi, antropologi, fenomenologi, hermeneutika sosial, semiotika dan lain sebagainya. Pilihan teori-teori itu tergantung pada dimensi yang dikaji dari hadis, apakah mengkaji pandangan masyarakat tentang teks hadis, praktik hadis di masyarakat, sejarah terbentuknya tradisi masyarakat yang berpangku pada hadis, atau implikasi hadis terhadap kehidupan masyarakat. Dua buku hadis yang ditulis para dosen UIN Sunan Kalijaga di atas bisa dijadikan model penelitian hadis di Indonesia. (Penulis adalah Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo). [AR]

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: