533 views

Sebelum Pergi

Sebelum Pergi

Oleh: Nayla Rusydiyah Hasyin*

Sinar mentari pagi ini tak secerah biasanya. Alam menyapa pagiku, kicauan burung hinggap di jendela kamar.

Aktivitas pagiku dimulai, tak lupa dengan seruan ibu dari dapur yang berusaha membangunkanku beberapa kali. Ibuku terpontang panting kesana kemari, sibuk menyiapkan perbekalan kami dan berberes rumah. Keistimewaan ibu, tak hanya tangan dan kaki saja yang sibuk melakukan aktivitasnya, tapi juga mulutnya. Dia selalu mengoceh ketika di antara kita lupa tidak mengembalikan barang yang telah dipakai pada tempatnya.

Kita? Ya. Aku dan ketiga saudaraku dan tak lupa juga Ayahku. Dalam keluargaku hanya Ayahku lah yang paling ganteng, karna tak ada laki laki lain selain Ayahku di rumah itu.

Cerita ini ku tulis tepat di malam sebelum aku kembali ke pondok. Dengan mata yang kantuk, namun jemariku lihai mengetik di atas laptop yang ku pinjam dari Ibu, semoga saja dia tak marah.

                                                         ***

Sepasang mata ini menatap hampanya plafon kamar ber-cat putih polos. Ragaku sedang rehat, namun otakku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Tak sempat ku bereskan kamar, karna masih mengantuk.. Mungkin setelah ini Ibu akan mengomeli ku setelah melihat kamarku.

Aku sedang memikirkan sesuatu.  

Beberapa pertanyaan muncul di benakku.

“Sebenarnya aku ini siapa? Hanya seorang santri yang malas belajar. Apa aku bisa memberi hadiah untuk kedua orang tuaku?.”

Lantas benar saja, Ibu datang dan mengomeliku.

“Azka?! Apa kau bertingkah lagi untuk membuat ibumu ini cepat tua dan mengalami darah tinggi? Coba hitung umurmu sekarang? Apa tak cukup untuk tau diri?.” Ibu mengomel di depan pintu. Aku hanya bisa diam, mendengarkan di atas ranjang.

“Iya bu, akan ku bereskan.”

“Syukurlah kalau kau mau membantu ibu.” Ibu mencium keningku masih dengan intonasi marah.

Aku melamun mencerna kata-kata ibu barusan. Dia bertanya tentang umurku?, penyakit darah tinggi? Cepat tua? Apa maksud dari itu?

Setelah ku bereskan kamarku, aku pergi keluar rumah untuk menyapa beberapa tetangga yang berlalu lalang di depan rumah. Dengan secangkir kopi susu di meja.

Ayah menghampiriku.

“Sedang apa disini?”

“Hanya ingin menyapa beberapa tetanga kita sambil menikmati alam pagi.”

“Oh, gimana tentang sekolah dan asramamu.” Ayah menanyakan sesuatu yang membuat suasana pagi ini tak lagi ku nikmati.

“Ya.. masih seperti biasanya, tak ada yang berubah.” Jawabanku setiap kali ditanya tentang sekolah dan asrama.

“Apa kau tak mau ku ceritakan masa lalu ku?” Kalau masalah cerita bercerita, aku semangat menerimanya.

“Boleh.”

“Dulu ayah hidup tak se-nikmat saat ini. Sekarang Azka enak, ketika Azka lapar, kamu tinggal makan. Dulu ayah harus mencari sebutir nasi dulu untuk dapat mengobati rasa lapar. Kenapa ayah masih bertahan sampai sekarang? Karna ayah mau berusaha.”

“Kalau begitu, ayah makan dengan apa?”

“Dulu di asrama, ayah bersama beberapa teman ayah sering melakukan kerjasama untuk mendapat nasi, meski itu sisa, yang penting tidak basi.”

“Hahah, kalau nasi itu basi, pasti nanti perut ayah sakiit.”

“Iya, kami dulu selalu mengambil sisa nasi yang ada di bascom nasi bekas orang sambang. Ayah merendamnya dengan air, supaya nasi yang ada di bascom tersebut terkelupas dari wadahnya dan mengembung. Setelah semuanya terkumpul, kami memasaknya di dapur menggunakan wajan bekas menggoreng ikan asin, supaya apa? Supaya nasi itu berasa tanpa harus di bumbui, hahah.”

“hahah.” Meskipun tak terlalu lucu, tapi kalau ayah yang menceritakannya pasti pendengarnya ikut tertawa. “Tunggu yah, bukannya ayah sudah menceritakan ini ya?.”

“Iya kah? Ayah tidak ingat.”

“ Iya yah, ayah menceritakan kisah itu sudah berpuluh puluh kali lo.” Kataku sambil tertawa. Kisah itu memang sering diceritakan olehnya.

Cerita tentang nasi yang direndam air adalah cerita legend ayah.

Ayahku selalu menceritakan kisahnya di masa lalu. Masa dimana ayah bejuang, bekerja keras hanya demi ilmu. Aku ingin seperti ayah, sukses bersama jerih payahnya sendiri. Menjadi orang yang wibawa, sukses, dan berhasil.

Ayah tak mengenal kata menyerah. Apapun dia lakukan demi ilmu. Dia pernah berpesan. “Ketika kau pergi ke toko buku, jangan berfikir dua kali ketika akan membeli buku, tapi jika pergi ke supermarket, maka berfikirlah dua kali untuk membeli barang tersebut.”

Aku kembali dalam lamunanku, menyadari bahwa minumanku telah habis diminum oleh ayah.

“Persiapkan dirimu untuk kembali ke pondok besok.” Ayah mencium keningku lalu pergi untuk menjalankan aktivitasnya di kantor.

Aku kembali teringat dengan asrama dan sekolah. Entah apa aku selalu gelisah ketika aku mendengar kata pondok atau semua yang menyangkutnya.

Aku kembali masuk kembali ke kamar karna tak ada aktivitas lain. Aku kembali menatapi plafon kamarku. Aku mulai menanamkan diri untuk selalu berusaha dan pantang menyerah. Kali ini akan ku usahakan, supaya aku dapat memberi hadiah kepada kedua orang tuaku. Ku mulai perjuanganku dari sini. Semua yang kulakukan adalah untuk masa depan.

Esoknya saat aku akan kembali kepondok, lagi lagi ku disemangati olehnya. “Masa depan Azka di tentukan mulai hari ini. Niatkan dirimu untuk menuntun ilmu di pondok.”

Doaku akan terus mengalir untuk kedua orang tuaku. Terimakasih yang tak terhingga.

Kumulai hari hari di asrama hanya untuk Tholabul Ilmi.

Tunggu aku menyapamu di negri orang lain nanti.

Bukan karna tak cinta tanah air, aku ke negri orang. Tapi untuk membawa nama harum tanah air ke negri orang.

Suatu saat akan ada daun yang tertiup angin membawa salam rinduku untuk kedua malaikat duniaku.

(*Penulis adalah Santriwati Kelas I MTs Plus Undar Jombang Pondok Pesantren Hidayatul Qur’an)

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: