119 views

Saring Dai di Tengah Kontestasi Pandangan Keagamaan di Media Sosial

Saring Dai di Tengah Kontestasi Pandangan Keagamaan di Media Sosial

Oleh: Abu Muslim*

Menarik menyimak pernyataan KH. Ma’ruf Amin yang disampaikan pada sambutan di Konferensi Besar Nahdlatul Ulama / Konbes NU Rabu (23/9) yang menekankan pentingnya  penggunaan media sosial (WhatsApp, Facebook, Instagram, Youtube dan media sosial lainnya) sebagai sarana atau alat berdakwah, baik di masa kini serta di masa depan. Kenyataan ini memang logis melihat perkembangan teknologi, hampir dipastikan dari saat ini hingga masa yang datang akan terus berkembang. Hal tersebut juga tidak terlepas tren penggunaan media sosial berbasis teknologi digital dan jaringan dalam ceramah dan penyebaran pandangan keagamaan.

Memang, sosial media menghapus batas-batas manusia untuk bersosialisasi, baik ruang maupun waktu. Dalam penggunaan media sosial dapat berkomunikasi satu sama lain dimanapun berada dan waktu kapanpun, tidak terbatas jarak dan waktu. Selain itu, karakteristik media sosial bahwa suatu pesan tidak hanya disampaikan hanya untuk satu orang, melainkan dapat lebih luas jangkauannya.

Ruang terbuka media sosial tenyata seringkali dimanfaatkan secara leluasa oleh para agamawan seperti dai dan penceramah untuk menyampaikan kotbahnya atau pandangan keagamaannya. Dengan Kesadaran media online terjangkau oleh siapapun atau semua kalangan pengguana dan pembaca dari mana pun serta kapan pun, menjadi pertimbangan untuk memutuskan memilih media online sebagai media untuk mendemonstrasikan fatwa atau pandangan keagamaannya.  

Kendati demikian, pada dasarnya fatwa dikeluarkan ketika terdapat suatu persoalan sehingga perlu di tanyakan dari seseorang yang disebut mustafti kepada mufti atau orang memiliki otoritas berfatwa. Istilah untuk proses mengajukan pertanyaan ini disebut dengan istifta’, sedangkan upaya ijtihad seorang mufti adalah respons terhadap pertanyaan mustafti, dinamakan ifta’ atau futya.

Fatwa personal yang dimaksudkan di sini adalah segala bentuk gagasan dan pandangan seseorang dalam merespons dinamika keagamaan yang kemudian diekspos di media mereka sebagai wadah untuk menuliskan. Jika dahulu, membutuhkan ruq’ah untuk menuliskan pokok persoalan, sekarang media tersebut telah digantikan dengan media dan tata cara yang sudah sangat jauh berbeda.

Persoalan sekarang adalah bagaimana kita menempatkan gejala atau fenomena fatwa personal atau pandangan keagamaan personal yang dilakukan oleh sebagian dai atau penceramah dalam mengeluarkan yang dapat dijadikan pedoman? Utamanya terkait dengan penggunaan online media sebagai basis penyebaran gagasan mereka?.

Dalam pandangan Robert W. Henfer sebagian Muslim Indonesia terdapat ketidakkesepakatan siapa pemegang penuh syarat untuk berbicara sebagai pemegang otoritas keagamaan dan sejauh mana keseriusan Muslim Indonesia menerima pernyataan dari para dai atau ulama. Memang, beberapa dekade terakhir kemunculan sebagian dai dan penceramah sebagai pemegang otoritas baru sering kali membuat gaduh, sehingga dipertanyakan kemampuannya. Meskipun begitu pencermah agama atau dai cukup berpengaruh atas otoritas agama karena sering muncul di media sosial sehingga mudah terkenal, dalam bahasa Siti Mariatul Kiptiyah “Kyai selebriti”.

Najib Kailani dan Sunarwoto berpandangan bahwa untuk menjadi otoritatif dalam sebuah tradisi keagamaan, merujuk pada kriteria serta standar yang relatif disepakati oleh tradisi keagamaan tersebut. Otoritas keagamaan dapat mengacu pada figur-figur yang memperoleh pendidikan ke-Islaman yang ketat. Selain itu, otoritas terkait dengan rantai sanad tradisi keilmuan keislaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain mereka seharusnya mempunyai kemampuan menghafal serta menguasai secara mendalam al-Qur’an dan Sunnah serta teks-teks klasik Islam lainnya. Maka dengan ukuran tersebut mereka disebut penceramah, ulama atau mufti yang merupakan sumber rujukan dalam menjawab persoalan-persoalan keagamaan yang dihadapi masyarakat Muslim saat ini. Sunarwoto menambahkan, tidak serta merta karena kapasitas kemampuan dan pengetahuan agamanya saja, namun juga pada sikapnya.

Lantas bagaiamana otoritas keagamaan dapat disematkan pada dai atau penceramah jika dikaitkan pada pandangan di atas?. Dalam hal ini tepat kirannya melakukan sertifikasi dalam rangka menerapkan standar profesional, serta meningkatkan tingkat praktik. Dalam Hal ini guna menjadi acuan bagi semua tempat di mana seorang akan mendengarkan dan menerima pandangan keagamaan oleh dai atau penceramah.

Di sisi lain, sertifikasi digunakan untuk mengetahui seberapa kompetensinya seseorang dalam keahlian atau kemampuan dalam menginterpretasikan al-Qur’an dan teks-teks keagamaan lainnya. Uji Kompetensi merupakan proses penilaian baik aspek teknis maupun non teknis, untuk menentukan apakah seseorang kompeten atau belum, artinya kompeten pada kualifikasi atau unit kompetensi menjadi seorang dai atau penceramah.

Sebab itu otoritas keagamaan dapat dilihat melalui standarisasi atau sertifkasi dai oleh lembaga Negara yang menangani persoalan keagamaan, yakni Kemenag. Dalam praktiknya dapat bekerjasama dengan organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya yang memiliki otoritas keagamaan terpercaya di kalangan muslim Indonesia. Dengan begitu, dapat untuk menyaring penceramah atau dai baik online mapun ofline yang pandangan keagamaanya dapat dipertanggugjawabkan sehingga problem kehidupan dapat teratasi dengan didasarkan interpretasi yang baik pada ayat al-Quran maupun hadis dan teks-teks klasik. (*Penulis adalah Pemerhati persoalan sosial-keagamaan, Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga)

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: