241 views

Rukun Tanpa-Tumpes Kelor

Rukun Tanpa-Tumpes Kelor (RTK)

Murdianto An Nawie*

sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”
Pepatah Jawa”

Banyak perspektif antropologis yang meletakkan Konflik dalam kultur Jawa sebagai ‘unsur’ tabu dalam kultur Jawa. Perbedaan pendapat dan bahkan perbedaan pendapatan sekalipun kadangkala akan coba di tutupi dengan idiom ‘rukun’, yang merujuk pada suasana penuh harmoni. Namun kita akan terbelalak jika membaca sejarah ‘pusat pusat kekuasaan Jawa’ – sebutlah Kraton yang dalam sejarah selalu lekat dengan perbedaan pendapat dan bahkan konflik yang cenderung terbuka. Banyak juga tradisi kraman, kultur oposisi dan bahkan pemberontakan yang dilakukan oleh laskar-laskar santri yang terekam kuat dalam aksi dalam daerah-daerah otonom (krajan agung) seperti Tembayat, Wedi atau daerah-daerah otonom yang terekam dalam sejarah Jawa sebagaimana diungkap para pakar.

Jawa yang penuh imajinasi rukun dan kompak itu sesungguhnya adalah impian dan cita-cita mulia, tapi hampir nihil dalam kenyataan, apalagi jika dikaitkan dengan dinamika kelas menengah dan kekuasaan dari masa ke masa.
Rukun dalam pengertian ini rukun memang mengimpikan harmoni tanpa batas. Cita-cita rukun semacam ini sesungguhnya mengandung ‘ancaman berbaya’ yakni ‘tumpes kelor’ atas pikiran yang berbeda. Yang berbeda pemikiran, berbeda tafsir, berbeda sikap dan komando dengan pemegang otoritas selalu dianggap subversi.


Harmoni yang tak terbatas, akan lahir jika situasi sosial kita tanpa ketimpangan, tanpa kesenjangan. Sementara fakta, betapa kelas sosial sangat beragam, pendapatan sangat beragam, penguasaan khazanah pengetahuan juga amat beragam dan bahkan nyata dihadapan kita terdapat kenyataan tergelarnya kesenjangan mendalam antara tiap kelompok sosial. Apalagi jika kesenjangan ini menyentuh hal mendasar dalam kehidupan keseharian yakni terhadap kesenjangan atas akses ekonomi dan sumber sumber kekuasaan.

Keragaman, perbedaan pendapat dan bahkan konflik dalam berbagai kajian sosiologi justru menjadi penggerak perubahan. Bukankah banyak pesantren dan pusat-pusat kebudayaan justru lahir dari mereka yang kalah dari peristiwa konflik. Mereka menghindar dari memilih tempat yang aman dari tempat-tempat jauh. Konflik yang dapat mencapai ‘titik ketegangan maksimal’ akan menghasilkan kematangan situasi untuk perubahan itu sendiri.


Namun amat berbahaya jika perbedaan konflik berakhir pada upaya peniadaan liyan, yang berbeda. Sebagai contoh monopoli dan tafsir tunggal atas ideologi negara atas nama terminologi rukun sering berakhir pada penindasan dan tumpes kelor atas tafsir yang berbeda. Contoh mutakhir dari itu semua adalah Era Orde Baru, yang menyuguhkan kenyataan bahwa jargon ‘persatuan’ digunakan untuk membungkam tafsir yang berbeda atas ideologi negara, dan bahkan tumpes kelor atas kelompok yang memandang kekuasaan secara kritis.

Rukun yang Dinamis
Tradisi Jawa yang adiluhung, biasanya akan mengkaitkan peristiwa dalam kehidupan dalam ungkapan moral, dengan merujuk pada pepatah yang masyhur yang terlahir dari para pujangga masyhur di tanah Jawa. Ke-Jawa-an kita harusnya membuat kita mengembalikan penilaian benar tidak, baik buruknya perilaku pada soal rasa.

Rukun yang ideal sesungguhnya adalah rukun yang berporos pada pusat (ros) peradaban Jawa yakni ‘rasa’. Dalam situasi konflik, rukun hanya dimungkinkan dalam situasi tepo sliro. Tepo sliro, bermakna kelompok dan kelas sosial berbeda, mesti tetap mendapatkan perlakuan yang layak. Bahkan musuh sekalipun.

Rukun harus termaktub dalam pembagian peran, dan pengakuan atas kemampuan khusus dari kelompok yang berbeda. Dalam situasi konflik atau kompetisi kita tidak boleh melupakan bahwa ‘tanyakan kembali pada rasa’ ini terwujud dalam peribahasa penting yakni: ”sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”. Orang yang mengaku terlahir sebagai manusia Jawa berarti mengikuti kesadaran bahwa perlu pengaturan dan dasar-dasar yang menjadi panduan hidup bersama.


Rukun adalah berarti pelepasan ego dan kepentingan kelompok ekslusif dalam kelompok masyarakat lebih besar. Situasi ini akan membuat perbedaan kepentingan yang teraktualisasi dalam konflik politik tidak berkembang menjadi pertikaian sosial yang berlarut-larut, dan tidak menutup kemungkinan lahirnya kebiasaan tumpes kelor, tumpas habis. Kelompok yang mengalami penindasan tanpa kompromi pada akhirnya juga mendapatkan legitimasi rasa, jika tingkat ‘penindasan tak tertoleransi’ maka mereka juga akan melakukan perlawanan dengan jargon yang tak kalah mengerikan: Tiji Tibeh ‘mukti siji mukti kabeh, mati siji mati kabeh’. Jargon penting RM Mas Said alias pangeran Sambernyawa ini terbukti menghasilkan laskar paling militan dalam sejarah Jawa yakni Laskar Mangkunegaran.


Rukun adalah gerak dinamis, gerak yang mengandaikan keseimbangan antara berbagai keragaman. Rukun bukan situasi statis, yang meninabobokkan, ketika semua tunduk dalam komando kekuasaan tunggal. Pada akhirnya orang Jawa memandang kebudayaan sebagai suatu yang utama, yakni dalam kehidupan bersama dibutuhkan sikap kerja sama dan tepa slira yang diatur melalui kebudayaan.

*Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo, terlahir sebagai orang Jawa

Sumber ilustrasi gambar: beautynesia.id

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: