414 views

Resensi : Fenomena Berislam (Geneologi dan Orientasi Berislam Menurut Al-Qur’an)

Judul Buku: FENOMENA BERISLAM (Geneologi dan Orientasi Berislam Menurut Al Qur’an)
Penyunting: Prof. Dr. Aksin Wijaya
Penerbit: IRCISOD
Tebal Buku: 228 Halaman
Tahun Cetak: 2022
ISBN: 978-623-5348-02-5

Islam pertama kali muncul di Makkah banyak masyarakat yang terasa asing dengan kehadirannya. Kehadiran Islam untuk mengajak masyarakat setempat untuk bertauhid kepada Allah. Dengan mendeklarasikan “La Ilaha ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah)” sebagai titik tolak cara untuk penghapusan kebodohan serta penindasan yang marak pada masyarakat pada waktu itu.

Selain itu juga digunakan untuk pencerdasan intelektual hingga untuk menegakan keadilan. Karena tujuan tersebut dan keterasingan itu, menjadikan perjuangan Nabi Muhammad mengalami banyak rintangan untuk mendakwahkan Islam yang menjanjikan keselamatan dan kedamaian.

Tapak demi setapak Nabi Muhammad Mendakwahkan Islam kepada masyarakat Arab. Seiring waktu berjalan, banyak masyarakat yang simpati kepada Nabi Muhammad dan memeluk Islam. Hingga dalam perjalanannya wahyu turun ke bumi yang berangsur-angsur tak pelak terkadang para sahabat yang baru memeluk Islam mengalami kesulitan memahami isi pesan yang dikandungnya. Dalam menghadapi persoalan itu, mereka sering kali menanyakan kepada Nabi. Sehingga mempermudah untuk menjalankan perintah dan larangan yang ada di al-Qur’an.   

Setelah tiga abad kemudian, Islam berkembang diberbagai negara. Islam hadir bergaul dengan diberbagai peradaban dunia, seperti Yunani, Persia, India, Cina hingga perdaban modern sekarang ini.

Begitu juga perkembangan Islam di Indonesia, seiring pergaulannya dengan peradaban modern juga memunculkan beragam aliran. Mereka mencoba ber-Islam dengan berbagai ekspresi dan kepentingan, baik teologis hingga politis, hingga muncul berbagai aliran keberagamaan, ada yang puritan, liberal hingga moderat.

Memang di Indonesia setelah era revormasi berkumandang, dalam landscap demokrasi muncul berbagai aliran-aliran Islam: dari golongan pemahaman yang konservatif, liberal hingga moderat dengan berbagai kepentingannya.    

Sampai di sini saya bersyukur diberikan buku berjudul “FENOMENA BERISLAM (Geneologi dan Orientasi Berislam Menurut Al Qur’an)” karya AksinWijaya ini. Setelah saya baca, buku ini memang syarat dengan wacana dengan nuansa kritisme dan progresif. Aksin menyimpan kegelisahan atas fenomena keberagamaan dalam masyarakat.

Berbagai konflik keberagamaan dalam masyarakat sebagian besar karena faktor politik-teologis seperti merebut kekuasaan melalui baju agama. Hingga persoalan metodologis atau interpretasi terhadap teks keagamaan al Qur’an yang dipolitiasasi untuk kepentingan mereka sendiri, bukan karena sesuai dengan ide moral atau hikmah dalam al Qur’an sebagaimana mestinya.

Pada buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian  pertama : menyingkap dan mengahdirkan pesan al Qur’an ke dalam konteks kekinian dan ke depan kehidupan umat islam. Bagian ini terdiri dari dua artikel, yakni berjudul : “Tafsir Maqashidi : Menyingkap dan menghadirkan Maqashidi Ilahi Qur’ani ke dalam Konteks Kekinian”. Selanjutnya, artikel kedua berjudul: “Menghadirkan Pesan Tuhan yang Bermakna : Dari Epistemologi Ke Aksiologi”.

Artikel berjudul “Tafsir Maqashidi : Menyingkap dan menghadirkan Maqashidi Ilahi Qur’ani ke dalam Konteks Kekinian” Aksin gelisah dengan metode tafsir Maqashidi yang masih rapuh dan masih mempunyai kekurangan dari sisi teologis hingga epistemologis. Sehingga dia dalam artikel ini menyingkap bagaimana sejatinya bentuk tafsir Maqashidhi dengan landskap hermenutika filosofis.  Menarik pada apa yang dia temukan, bahwa pesan maksud Allah dalam ayat-ayat al Qur’an mempunyai sisi yang bersifat spirit-kontekstual. Tafsir Maqashidi memadukan tiga pendekatan, yakni tahlili, hermenutika objektif dan hermenutika filosofis.  

Artikel berjudul “Menghadirkan Pesan Tuhan Yang Bermakna : Dari Epistemologi Ke Aksiologi”, Aksin tampak menawarkan prinsip hermeneutis. Di mana dia menjelaskan, apabila suatu penafsiran dilihat dari sudut tujuannya maka seharusnya dalam menyingkap pesan Tuhan berorientasi pada pesan “yang berarti” baik bagi penafsir dan masyarakat pengguna. Yang kemudian dia sebut sebagai penafsir yang bijak.

Sedang bagian kedua berjudul “Geneologi dan Orientasi Berislam Menurut al Qur’an” . Pada bagian ini terdapat tiga artikel. Pertama, Berislam Fanatik: Menyingkap Argumen Masyarakat Arab Memeluk Islam. Aksin mengawali tulisan ini dengan landasan pertanyaan tentang bagaimana sikap masyarakat Arab ber-Islam, padahal sebelumnya sudah ada agama-agama seperti Animisme, Yahudi dan Nasrani. Selain itu bagaimana bisa masyarakat Arab mudah menerima serta memahami Islam dalam kondisi berlabel jahiliyah atau ummi. Aksin menemukan bahwa masyarakat Arab dalam ber-Islam disebabkan karena beberapa faktor, di antaranya ialah faktor kualitas kepribadian Nabi Muhammad dan faktor fanatisme sosial kultural yakni sama-sama dari Bangsa Arab.

Kedua, “Berislam Secara Etis: Dari Teologi kebencian ke Etika Beragama”. Pada artikel ini Aksin mengawalinya dengan kegelisahannya atas fenomena ber-Islam sebagian masyarakat Indonesia yang memahami agama secara teologis dan Ekslusif. Atas cara pemahamannya tersebut mereka menghadirkan Islam yang berwajah kaku dan berlaku keras. Selain beragama dengan kebenaran teologis, mereka melupakan beragama pada sisi kebenaran etis beragama. Sebab itu, Aksin dalam artikel ini mefokuskan diskusinya bagaimana ber-Islam dengan beretika.

Memang buku ini memiliki penawaran yang variatif dalam memahami Islam dalam setiap artikelnya. Misalnya ditengah kontestasi maraknya penggunaan metode tafsir dengan pendekatan-pendekatan dari luar (outside) yang kemudian memunculkan wacana baru dalam menemukan pesan al Qur’an yang objektif, Aksin masih berpegang teguh dengan penggunaan metode penafsiran dari tradisi Islam sendiri (inside) yakni tafsir maqashidi yang dikenal di kalangan Islam sebagai metode tafsir alternatif moderat. Di sisi lain Aksin juga menawarkan prinsip hermenutis untuk menafsirkan pesan Tuhan untuk tidak semena-mena yakni menjadi penafsir yang bijak.

Dalam lanscap pemetaan dalam Khazanah tafsir Indonesia yang digagas Islah Gusmian, di mana banyak penafsir masih berjibaku pada persoalan metodologis dan persolan kepentingan ideologis saja. Maka berbeda dengan apa yang digagas Aksin wijaya yang lebih memerhatikan hal yang mendasar lagi, yakni di mana sebuah penafsiran berorientasi pada tujuan “yang berarti” bagi penafsir sendiri dan masyarakat pengguna. Hal tersebut memposisikan Aksin melebihi gagasan intelektual sebelumnya.  

Begitu juga ber-Islam di Indonesia. Semenjak pertarungan gubernur DKI hingga pilpres 2019, Islam di seret dalam perpolitikan lima tahunan tersebut dengan dialasi sajadah dan dikerudungi sorban. Lebih mendasar lagi, sebenarnya hal itu mendiskusikan tentang hubungan agama Islam dan bernegara. Peristiwa tersebut dalam bahasa Yusdani sebagai upaya legal Formalistik. Dan Meski mereka sering gagal.

Sebab  itu, buku Aksin Wijaya ini dapat dijadikan referensi, bagaimana membangun hubungan Islam dengan antar umat beragama, Masyarakat Multikultural hingga bernegara. Di mana pemikiran Aksin ini merefleksikan prinsip egalitarianisme dan berkeadilan menghadirkan Islam yang humanis.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi kita. Sebab dengan memperhatikan wawasan yang disajikan dan upaya-upaya kritis analisis pada tiap artikel yang dihadirkannya, buku ini jelaslah penting dibaca sekaligus bisa diacu. Sebab telah menampilkan bentuk lain dan perspektif baru cara menafsirkan al Qur’an dan bagaimana merawat dan melestarikan perdamaian dengan menampilkan Islam berwajah humanis. Sehingga pemikiran Aksin yang cemerlang ini dapat memberikan arah baru dan bermanfaat bagi umat beragama di Indonesia. (Abu Muslim: Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ponorogo). [AR]

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: