437 views

Resensi Buku “Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia”

Teologi Profetik-Liberatif Basis untuk Membela Kemanusiaan

Oleh: Dani Saputra*

Judul buku: Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia; Penulis: Aksin Wijaya; Penerbit: PT Mizan Pustaka; Tebal buku: 262 halaman; Cetakan I: Juni 2018; ISBN: 978-602-441-067-04

Buku ini adalah ikhtiar untuk melihat dari sudut pandang yang lain dalam mengurai persoalan keagamaan. Aksin dalam bukunya mengawali dengan fakta, bahwa di era digital seperti sekarang ini, masyarakat mendapat suguhan beragam berita, termasuk berita kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan wacana. Hal ini menjadi penting sebagaimana kecepatan teknologi juga turut hadir menyumbangkan dan menyebarkan segala jenis pemahaman. Sejauh pengamatan, buku tersebut mencoba menelisik kembali makna beragama yang tidak cenderung kaku; menghakimi yang berbeda. Selain itu juga dapat menjadi filter atas berbagai informasi yang masuk yang seolah-olah kita sulit untuk menolaknya.

Hal ini diperkuat ketika Aksin menguraikan tentang sasaran kekerasan yang mengatasnamakan agama dan Tuhan tidak saja menyasar orang-orang non-Muslim atau orang-orang Barat, tetapi juga orang-orang Islam sendiri yang berbeda keyakinan, aliran, pemikiran, pilihan politik, ideologi, atau kewarganegaraan.  Mengapa mereka begitu yakin dan merasa absah melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan tanpa merasa bersalah sedikitpun? Dalam melihat fenomena-fenomena tersebut, buku ini cukup gamblang menawarkan pembacaan yang lebih humanis.

Berkelindan dengan itu, fakta bahwa banyak di antara kita yang mulai pesimis terhadap agama, mulai salah persepsi tentang Islam, banyak yang diam-diam merasa bahwa agama adalah sumber masalah, awal persoalan dan konflik, bahkan agama adalah sebuah problem itu sendiri. Buku ini hadir sebagai jalan tengah, Aksin berusaha menjelaskan idenya bahwa agama adalah solusi, petunjuk, penuntun, dan bekal untuk kita. Agama itu membebasakan kita dari belenggu dunia; sosial, politik, ekonomi. Memperjuangkan agama, bahkan membela Tuhan tidak melulu persoalan teologis yang klasik. Memperjuangkan agama tidak bolej melepaskan teologi yang membumi, tidak lepas lepas dari tugas kita sebagai hamba yang hidup di bumi

Memahamai bahwa keimanan (yang dimaksud oleh Aksin) adalah upaya untuk paham, artinya beriman yang tidak hanya pasif, tetapi ingin berusaha memahami keimanannya. Dengan asumsi bahwa dengan berusaha memahami akan membuat keimanan kita menjadi baik. juga dapat menumbuhkan pemahaman tentang iman yang coraknya adalah pembebasan. Kemudian sekiranya penting melihat bahwa buku ini ternyata juga berkaitan dengan teologi pembebasan yang saya pahami berbicara mengenai kondisi eksistensial yang sifatnya dinamis.

Bagaimana cara-cara itu dilakukan atau apakah mereka yang melihat Islam dengan wajah “sangar” itu benar-benar mewakili agama dan Tuhan dalam melakukan kekerasan? Ataukah mereka hanya membajak otoritas agama dan Tuhan untuk menjustifikasi ideologi kekerasannya? Meskipun buku ini sudah cukup jelas menguraikan persoalan, namun, sekiranya juga perlu melihat dengan perspektif lain. Perspektif yang saya kira juga berkesinambungan dengan maksud Aksin dalam bukunya.

Pertama, belajar kembali mengenai semangat profetik dan liberatif kenabian Muhammad di Makkah. Dari pembacaan yang seksama dan mendalam akan jelas bahwa Nabi tidak berkeinginan membentuk masyarakat dengan penduduk homogen kaum muslim saja, tetapi cita-cita sebenarnya adalah menhancurkan kedzaliman, kesenjangan, dan diskriminiasi yang ada pada zaman itu.

Kedua, tauhid. Tauhid tidak hanya mengacu pada keesaan Allah, namun juga mengimplikasikan kesatuan manusia (unity of mankind). Kesatuan bukan saja mengenai perkara aqidah, tetapi adalah kesatuan dalam keadilan yang melintasi batas-batas keyakinan. Oleh karena itulah, untuk masyarakat “tauhidi”, tidak akan membenarkan diskriminasi, baik dalam bentuk ras, agama, kasta ataupun kelas sosial. Sebab, pembagian kelas secara tidak langsung menegaskan dominasi yang kuat atas yang lemah, kelas yang satu menindas yang lain, ketidakadilan, tirani dan penindasan. Dominasi inilah yang menghalangi upaya pembentukan masyarakat yang adil.

Misalnya, kafir tidak hanya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga termasuk mereka yang melawan segala usaha yang sungguh-sungguh untuk menata ulang struktur masyarakat agar lebih adil dan egaliter, tidak ada konsentrasi kekayaan di segelintir orang, serta tidak ada eksploitasi manusia atas manusia yang lain.

Ketiga, iman. Kata iman berasal dari kata amn yang berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Untuk itu iman tidak hanya soal kepercayaan kepada Allah, tetapi orang yang beriman harus dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan meyakini nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Iman kepada Allah akan menghantarkan manusia pada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Keempat, jihad. Jihad memiliki makna literalnya sebagai pejuangan. Kita hendaknya memaknai jihad sebagai perjuangan menghapus eksploitasi, korupsi, dan berbagai bentuk kedzaliman. Perjuangan harus dilakukan secara dinamis dan istiqamah agar kelaliman yang dilakukan manusia sirna dari muka bumi. Untuk itu, jihad tidak dimemaknai sebagai perang militer, tetapi aktivitas dinamis-progresif untuk melakukan pembebasan masyarakat dari realitas penindasan yang menimpa mereka. Jihad untuk pembebasan, bukan jihad untuk peperangan (aggression). Dan buku ini tak lain adalah bagian dari jihad itu sendiri.

Akhirnya, kesimpulan yang dapat diambil adalah, bahwa perbedaan-perbedaan sosial adalah suatu sunnatullah dari kekayaan kita dalam masyarakat, namun tidak berarti Islam toleran terhadap terjadinya ketidakadilan sosial. Justru setiap muslim dituntut untuk menegakkan kesetaraan (egalitarianisme) dan keadilan sosial, bahkan dipandang sebagai memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi. (*Alumni IAIN Ponorogo, Santri Ponpes Al-Fadlili Gentan, Jenangan, Ponorogo. Sekarang sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: