186 views

Potret Santri Ideal di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Fathorrahman*

Santri biasanya, oleh beberapa pakar pendidikan pesantren misalnya Abdullah, didefinisikan sebagai orang yang belajar di pesantren. Menurutnya, kata santri berasal dari kata “sastri” berasal dari kata Sansekerta, berarti orang yang melek huruf. Dari kata tersebut dapat dipahami, santri adalah siswa/murid yang belajar agama Islam di sebuah pesantren, biasanya pengetahuan agama yang mereka miliki berasal dari kitab kuning.

Dengan demikian, santri menetap di pesantren semata-mata untuk belajar, memahami, dan mendalami kitab kuning yang diajarkan oleh kiai atau ustadz senior (Abdullah, 2011: 167).

Terdapat beberapa cara santri belajar dan mendalami isi kitab kuning, di antaranya dengan cara bandongan (santri secara berkelompok mendengar, menyimak, dan mencatat bacaan kitab kuning yang dibaca kiai), sorogan (santri membacakan kitab kuning di depan kiai, hal ini untuk mendapat ijazah), dan halaqah (santri berdiskusi untuk memahami isi kitab).

Cara tersebut bertahan sampai sekarang yang digunakan oleh pesantren untuk menjaga khazanah keilmuan dan tradisi kitab kuning di pesantren (Mastuhu, 1994: 61).

Namun demikian, khazanah dan tradisi emas pesantren di atas sudah lama mengalami kemerosotan yang agak tajam, ini dapat dibuktikan oleh fakta-fakta di lapangan. Saat ini banyak pesantren baik salaf seperti Pesantren Lirboyo dan Pesantren Sidogiri maupun modern seperti Pesantren Annuqayah, Pesantren Al-Amien, dan Pesantren Sekurejo, santri-santrinya mengalami penurunan dalam penguasaan kitab kuning, jika hal ini dibandingkan dengan periode tahun 90-an.

Dan ini bagi penulis, menjadi lampu kuning, karena tidak menutup kemungkinan penurunan penguasaan kitab kuning santri akan semakin menukik ke bawah, jika kondisi ini tidak cepat diantisipasi oleh pesantren.

Bisa jadi, suatu saat nanti, tidak tahu kapan itu akan terjadi, kitab kuning hanya menjadi pajangan lemari santri karena mereka sudah tidak lagi mampu membacanya.

Gejala-gejala ini sudah mulai nampak ke permuakaan. Akankah pesantren terus membiarkan kondisi ini semakin memburuk? Tinggal tunggu jawabannya. Besar harapan, semoga pesantren cepat mengambil tindakan konkrit untuk mencegah musibah hilangnya kitab kuning dari sumbernya, yakni pesantren.

Bagi pesantren, kitab kuning merupakan warisan ulama salaf sekaligus menjadi khazanah Islam yang harus terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Kitab kuning akan terlestarikan jika ada yang melestarikannya, kitab kuning akan terjaga jika ada penjaganya, dan berdasar historis peradaban Islam baik di Timur Tengah maupun di Indonesia, yang menjadi penjaga adalah madrasah dan pesantren (Atiqullah, Surabaya: 2).

Adapun salah satu caranya, ulama dan kiai mengajar kitab kuning di lembaganya masing-masing kepada murid atau santri-santri. Dengan demikian, madrasah dan pesantren menjadi benteng terakhir yang dapat menjaga khazanah kitab kuning (Fathorrahman, Yogyakarta).

Jika kembali pada masalah di atas, mengapa santri mengalami penurunan dalam menguasai kitab kuning. Maka di sini dapat dikatakan, karena pesantren dan kiai mulai kendor dalam melakukan transformasi kitab kuning.

Kajian-kajian kitab kuning di pesantren mulai menurun, tidak seintens dulu. Fenomena ini melanda pesantren, ketika pesantren mulai berkenalan dengan muatan kurikulum umum milik pemerintah. Sejak itulah, pesantren terlalu asyik bercengkrama dengan pelajaran umum. Sejak ini, pesantren mulai berlomba melakukan formalisasi lembaga pendidikannya, dengan mendirikan sekolah formal dari tingkat paling rendah sampai tingkat perguruan tinggi.

Dari segi pendidikan formal, pesantren mangalami perkembangan yang pesat, namun perkembangan itu menyisakan masalah baru, pesantren mulai kehilangan tradisi kitab kuningnya. Gejala santri-santri mengalami penurunan dalam menguasai kitab kuning mulai muncul, dan terus menggelinding seperti bola salju, semakin ke bawah bola itu semakin besar.

Tidak mustahil kita menemukan santri tidak bisa baca kitab kuning, karena rupanya orientasi santri masuk ke pesantren juga mengalami perubahan, untuk sekolah di pesantren dan mendapatkan ijazah.

Masalah yang melanda pesantren seperti di atas menjadi warning, karena menjadi masalah bersama, yang membutuhkan penanganan serius dari stakeholders pesantren. Penanganan itu dibututuhkan untuk memutus mata rantai santri tidak tahu baca kitab kuning, dan mengembalikan santri ke khittahnya sebagai ahli kitab kuning dan ahli dalam bidang keislaman.

Rahasia Pesantren Mampu Melahirkan Aktor-Aktor Global

Jika kembali ke masa silam, pesantren dulu mampu melahirkan aktor-aktor global yang kreatif, inovatif, kritis, dan kosmopolit. Taruhlah seperti Syaikh Nawawi, Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Hasyim Asya’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdurrahman Wahid, dan banyak yang lainnya, merupakan bukti kehebatan pesantren dalam mencetak ulama dan cendekiawan berkaliber nasional dan internasional.

Kemampuan pesantren yang cemerlang ini didukung oleh potensi-potensi pesantren yang tersembunyi. Dalam arti, pesantren sebenarnya memiliki rahasia-rahasia sukses yang telah mentradisi, sebagaimana dijelaskan oleh Jamal Ma’mur Asmani (2011:3) yaitu: pertama, pesantren mengedepankan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, bahasa Arab, ilmu balaghah, dan ilmu mantiq. Inilah yang menjadi kelebihan pesantren. Santri terlebih dahulu dibekali ilmu alat untuk dapat menyelami lautan ilmu.

Penguasaan ilmu alat sangat berguna bagi santri, karena nantinya santri dapat mengembangkan keilmuaannya secara mandiri. Pesantren, apapun kemajuan yang akan dan telah dicapai tidak boleh meninggalkan tradisi ini. Karena hanya inilah jalan satu-satunya untuk merawat tradisi pesantren; tradisi kitab kuning.

Kedua, pesantren mendorong santri untuk aktif munadharah (diskusi), mutharahah (debat), muthala’ah (membaca secara mendalam). Cara demikian sangat membantu santri dalam menguasai keilmuan Islam.

Ketiga, pesantren menanamkan spirit optimisme yang tinggi. Dengan spirit ini santri selalu mampu mengatasi masalah, siap berproses dalam menjalani pahitnya mengaruhi lautan ilmu pengetahuan, selain itu, santri memandang kehidupan dunia dengan tatapan masa depan yang cerah, karena tujuannya untuk menggapai ridha Allah.

Keempat, untuk saat ini, pesantren melatih santri melek organisasi, melek teknologi informasi.  

Santri Ideal di Era Revolusi Industri 4.0

Santri masa depan adalah jawaban semuanya, karena digadang-gadang mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman yang semakin pesat. Zaman yang pesat seperti yang kita saksikan ini adalah zaman yang ditandai dengan merebaknya digitalisasi, yang menghiasi berbagai elemen dasar kehidupan manusia. Masyarakat dunia menyebutnya, zaman yang masuk ke ruang dan kondisi yang serba baru, yakni revolusi industri 4.0 (Hoedi Prasetyo dan Wahyudi Sutopo, 2018:19).

Pertanyaan yang menarik untuk diangkat, bisakah santri menghiasi dan mewarnai revolusi industri 4.0 yang melanda kehidupan saat ini?. Bagi penulis sendiri, santri bisa menjawab tantangan itu semua. Jawabannya sederhana, karena santri yang dicetak di pesantren sekarang ini adalah santri yang diharapkan mampu mengisi kehidupan, apapun bentuk dan jenis kehidupan itu, termasuk revolusi industri 4.0 ini.

Output santri sekarang berbeda dengan output santri masa lalu, jika santri masa lalu hanya menguasai keilmuan Islam yang terhimpun di dalam kitab kuning, maka santri sekarang selain menguasai kitab kuning juga menguasai sains dan teknologi serta menguasai berbagai keterampilan.

Lengkaplah modal santri sekarang. Dan sebenarnya, jika hanya untuk menjawab, mengisi, dan mewarnai kehidupan dunia yang berbasis digital, santri sangat bisa. Mari kita ambil contoh satu pesantren seperti uraian di bawah ini.

Dari ribuan pesantren di Nusantara, Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk termasuk pesantren yang mampu melahirkan output santri masa depan, santri yang memiliki multi modal, santri yang siap mengisi revolusi industri 4.0.

Menurut salah satu pengasuh, KH. Syafi’i Ansyori, Pesantren Annuqayah layaknya super market, di dalamnya semuanya ada, santri yang belajar di sini seperti menyelam ke lautan ilmu yang luas, karena pesantren ini menawarkan dan menyediakan berbagai cabang keilmuan, dari keagamaan hingga IPTEK, juga santri dibekali berbagai keterampilan.

Dengan demikian, santri Annuqayah memiliki kedalaman keilmuan Islam seperti kitab kuning, memiliki kedalaman pengetahuan sain dan teknologi, dan memiliki keterampilan. Modal-modal tersebut dirasa cukup untuk bertarung dengan kehidupan nyata saat ini.

Jika disimpulkan, Pesantren Annuqayah bisa sukses demikian, karena stake holders-nya dapat mempertahankan tradisi pesantrennya, yaitu tradisi kitab kuning, dan melakukan upaya pengembangan kelembagaan dengan cara mendirikan sekolah formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, pesantren juga menyediakan sekolah keterampilan-keterampilan, sebagai alat pendukung keilmuan santri. (* Penulis adalah Dosen STIDAR Sumenep). [AR]

Referensi

Atiqullah. 2016. Perilaku Kepemimpinan Kolektif Pondok Pesantren: Studi Multisitus pada Pesantren Bani Djauhari, Pesantren Bani Syarqawi di Sumenep, dan Pesantren Bani Basyaiban di Pasuruan. Surabaya: Pustaka Radja.

Fathorrahman. 2021. Penjaga Tradisi Pesantren: Kepemimpinan Kiai Kampung di Madura. Yogyakarta: Bildung.

Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.

Asmani, Jamal Ma’mur. 2016. Peran Pesantren dalam Kemerdekaan dan Menjaga NKRI. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Hoedi Prasetyo dan Wahyudi Sutopo, Industri 4.0: Telaah Klasifikasi Aspek dan Arah Perkembangan Riset, Jati Undip: Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 1, Januari 2018.

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: