217 views

Pluralisme Gus Dur untuk Kedamaian Penduduk Bumi

Oleh: Dani Saputra

-Selamat jalan, Gus, cinta kami padamu lebih agung ketimbang doa-doa semesta-

Sebelum memulai menulis tentang Gus Dur, terlebih mengenai pluralismenya, pertama-tama perlu untuk berangkat dari permasalahan-permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama soal perbedaan yang disikapi dengan jalan yang “cukup ekstrem”. Hingga kemudian memunculkan kembali kritik dari filsuf Perancis bernama Durkheim. Ia mengatakan demikian: agama hanya dipandang sebagai suatu khayal untuk mempertahankan atau melestarikan kelompoknya sendiri.

Apa yang dikatakan oleh Durkheim tersebut memang tidak perlu disikapi dengan kemarahan yang berlebih. Memang begitulah kenyataan yang mengilukan. Seyogyanya perkataan tersebut digunakan agar kita lebih dewasa lagi dalam beragama, baik dari wilayah pemaknaan maupun aplikatifnya. Sebab, bagaimanapun ukhuwah yang ditafsirkan secara kolot dan salah malah justru akan membenarkan pendapat Durkheim.

Sudah saatnya kita memperjuangkan persaudaraan yang sama-sama pasrah dan tunduk kepada-Nya, dan bukan persaudaraan sesama Islam atau Kristen, maupun  atas satu agama saja. Saya meyakini setiap agama apa pun pasti mengajarkan kepada pemeluknya untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan kepada alam, selain ia “dibebani” untuk taat kepada Tuhan. Sama-sama memperjuangkan hak kita sebagai manusia. Makna jihat adalah kerja memanusiakan manusia demi terwujudnya cinta di dunia. Sebab, sebuah penafsiran yang salah justru malah akan mengerdilkan kemanusiaan kita,

Oleh karena itu, belajar dari Gus Dur, kita hendaknya jangan sampai kehilangan cinta: kepada Tuhan, kepada sesama makhluk, kepada alam, serta cinta kepada diri sendiri. Pengakuan jujur tentang keterbatasan kita sebagai manusia dan juga sikap terbuka dalam usaha berakhlak mulia dalam kreativitas di segala hal harus segera direalisasikan.

Paling tidak Gus Dur mengajarkan, bahwa dalam memandang sebuah kebenaran bukan berdasarkan orang yang mengatakan, melainkan melihat  kebenaran sebagai kebenaran. Ini adalah peringatan pada kita bahwa jangan lagi mudah menyalahkan, karena perjuangan orang-orang yang kita benci sekalipun bukan berarti untuk sesuatu yang kurang mulia. Kebencian itu didasarkan atas ketidaktahuan, maka jangan meletakan pengetahuan kita pada kepercayaan yang sempit. Sebuah perbedaan pun harus kita sikapi secara dewasa dengan tidak merasa paling benar. Mudah-mudahan kita sadar, bahwa sikap yang hanya mengakui dan membenarkan satu pendapat saja adalah dekat dengan kekafiran dan pertentangan. Dan tidak ada satu pun keuntungan bagi kita untuk mengkafirkan seseorang hanya karna kesalahan di dalam Takwil.

Dengan pendekatan pluralisme dapat dilihat bahwa tujuan manusia adalah bagaimana hidup secara baik di dunia dan nanti di kehidupan mendatang. Dengan ini kita mampu melihat perjuangan kebenaran seperti apa yang sebenarnya dicari. Apakah perjuangan yang tidak rela melihat pertumpahan darah sesama manusia ataukah perjuangan yang hanya didasarkan nafsu untuk menguasai dan nafsu merasa paling benar?

Sudah terlalu banyak manusia yang menganggap keyakinannya sebagai sesuatu yang mutlak, meski hal ini memang tidak salah dan akan menjadi keliru jika digunakan untuk menyalahkan kesalahan setiap perbedaan. Ada kalanya orang berada pada sisi yang salah, ada saatnya tidak. Maka yang salah jangan dicaci maki, apa lagi yang beda. Yang benar pun jangan terlalu dijunjung, takutnya itu malah kesalahan yang sementara masih berkamuflase.

Bukankah sudah jelas dalam setiap sabda, bahwa manusia memang diciptakan dengan berbagai macam warna agar mereka saling membaur, menyapa dan menjaga demi menciptakan warna pelangi yang indah. Perbedaan itu seakan-akan memang sengaja diciptakan agar  manusia tidak terlalu menyombongkan diri. Kita saling membutuhkan, baik benar maupun salah. Tidak akan ada pengakuan benar jika salah tidak ada, tidak akan pernah merasa salah jika benar tidak ada. Jika ada golongan yang merasa paling benar dengan anggapan kalau yang berbeda harus dihilangkan, mungkin mereka sedang terlupa oleh sejarah, minimal mereka lupa berterima kasih kepada yang telah dianggapnya salah.

***

Tidak bisa dibayangkan jika dalam sejarah bangsa ini tidak mengenalmu, Gus, serta memahami pluralisme yang engkau perjuangkan dan ajarkan. Betapa akan memunculkan kekacauan-kekacauan di mana-mana jika harus dipaksakan berdiri pada sajadah yang sama. Darimu, Gus, saya belajar bahwa perjuangan memanglah tidak harus berhenti pada ambisiusitas individu, kelompok dan agama yang diyakini sekalipun guna menyalahkan yang berbeda. Engkau, Gus, dengan pluralisme mencoba mengajak semua manusia untuk sama-sama memperjuangkan prosesnya menjadi manusia. Dari pluralisme yang engkau ajarkan membuat saya mengerti bahwa perjuangan secara universal tidak akan berhenti selama kita masih bernafas. Dari engkau saya belajar, bahwa saya, yang sama dengan saya, yang berbeda dengan saya, yang mencintai saya dan yang membenci saya sekalipun sama-sama mempunyai hak bernafas yang juga ingin dihelahkan

Dari pluralisme yang engkau ajarkan, Gus, saya mengerti bahwa Allah memberi saya hidup dan juga orang lain sebagai manusia. Tidak harus ada perselisihan yang berlebih jika hal itu disadari, tidak harus saling mencaci secara menjadi-jadi, serta tidak perlu saling menyalahkan karena semuanya pun akhirnya bermuara pada satu sumber yang sama.

Kini seiring waktu berlalu tidak sedikit yang menentang niat muliamu tersebut, Gus. Banyak yang menganggap apa yang engkau perjuangkan adalah sebuah kesalahan. Dan bagi saya itu adalah soal pemahaman yang barangkali kurang sempurna. Saya tidak bisa membayangkan jika tanpa pluralisme tersebut apakah mereka (yang menganggap pluralisme adalah salah) bisa berkeliaran bebas memperjuangkan dirinya, kelompok sampai keyakinannya sekalipun. Apakah tanpa pluralisme itu mereka dapat bebas berbicara bahwa mereka yang paling benar dan yang berbeda adalah sebuah kesalahan sehingga harus dilenyapkan?

Dengan pluralisme, Gus, engkau telah membangun rumah yang sederhana namun begitu ramah. Rumah itu tidak berpagar tinggi, dan dikelilingi bunga-bunga indah sebagai penghiasnya. Engkau membiarkan orang-orang, siapapun itu untuk memasukinya. Pada mereka yang sama dan mereka yang berbeda engkau beri kebebasan untuk melihat rumahmu dengan cara masing-masing. Namun sekarang tamu rumah tersebut banyak yang tidak punya sopan santun, meski engkau masih begitu sangat baik. Ketika orang-orang yang memasuki rumah itu banyak  yang mengolok-olok tidak pernah engkau marahi. Mereka yang mencoba merubah warna cat rumahmu atau bahkan sampai berusaha merubuhkan rumahmu tidak pernah engkau usir. Dan kini benar, Gus, dengan kebaikanmu,  rumah yang engkau bangun dengan niat baik itu masih tetap berdiri: tangguh tanpa angkuh dan tegak tanpa berlagak.

Riwayat Penulis:

Dani Saputra Alumni IAIN Ponorogo. Sekarang sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Gambar :

nasional.okezone.com

Dani Saputra
Latest posts by Dani Saputra (see all)
Dani Saputra

Dani Saputra

Alumni IAIN Ponorogo. Sekarang sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengelola komunitas literasi Pustaka Gerilya yang fokus pada isu-isu Lingkungan, Buruh, dan Perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: