152 views

Peran dan Fungsi Agama Islam dalam Menanggapi Wabah Covid-19 dan Pencurian

Oleh

Gibran Zahra Abida Rilana

Tindakan sosial (perilaku manusia) banyak dipengaruhi oleh doktrin-doktrin dari ajaran Agamanya. Menurut di dalam buku “Pip Jones, Liz Bradbury, dan Shaun Le Bouttiller (Pengantar Teori-Teori Sosial)” tindakan sosial merupakan produk dari suatu keputusan untuk bertindak, sebagai hasil dari pemikiran, hampir semua tindakan manusia adalah tindakan yang disengaja: kita mewujudkan tindakan tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang dikehendaki.

Max Weber seorang sosiolog memberi argument dalam penelitian “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1904)’’ dalam buku tersebut Weber memberi pandangan bahwa terdapat keterkaitan antara kehidupan yang di pengaruhi oleh Agama Calvins yang diberi pedoman dari Agama mereka atau tindakan perilaku manusia telah terdapat doktrin dari ajaran Agama mereka. Dalam buku tersebut Weber membahas masalah antara berbagai kepercayaan keagamaan dan etika praktis, khususnya etika dalam kegiatan ekonom. Hal tersebut tidak memungkiri bahwa pemeluk-pemeluk Agama lain juga memiliki doktrin untuk tindakan yang di lakukan oleh pemeluknya. Salah satunya adalah Agama Islam.

 Saat ini sedang maraknya tentang wabah Covid-19 dan pencurian. Bagaimana masyarakat Muslim dari doktrin agama Islam dalam menyikapi situasi seperti ini? Penulis mengambil sampel situasi yang terjadi di dalam masyarakat Dsn. Weru, Ds. Sidolaju, Kec. Widodaren, Kab. Ngawi, Provinsi Jawa Timur.

Dalam doktrin dalam ajaran Islam di antaranya adalah manusia harus memiliki sikap ta’awun atau tolong-menolong. Doktrin pertama yaitu ta’awun atau tolong menolong ini juga termasuk tindakan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Penjelasan mengenai tolong menolong telah disampaikan oleh Malinowski (Koentjaningrat, 1992) bahwa sistem tukar-menukar (tolong-menolong) kewajiban dan benda dalam banyak lapangan kehidupan masyarakat merupakan daya pengikat dan daya gerak masyrakat. Dsn. Weru, Ds. Sidolaju, Kec. Widodaren, Kab. Ngawi, Provinsi Jawa Timur doktrin ta’awun antara lain ditunjukkan dengan cara membagi makanan antar tetangga, membagikan masker gratis, dan bergilir untuk menjaga keamanan dusun. Tujuan dari tindakan ta’awun (tolong-menolong) di antaranya adalah hablum minannas (menjaga hubungan antar manusia) mempererat hubungan sosial antar masyarakat, dan menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat diantara masyarakat

Kedua, doktrin husnudzan atau berbaik sangka. Dalam hal ini berbaik sangka dibagi menjadi dua yaitu berbaik sangka terhadap sesama dan berbaik sangka terhadap Allah. Berbaik sangka terhadap sesama yang di tunjukan oleh masyarakat di dusun tersebut adalah ketika ada saudara atau tetangga yang mengalami gejala seperti penularan virus covid-19, mereka tidak langsung panik atau langsung di bawa ke dokter. Melainkan hal yang mereka lakukan adalah dengan segera memberi parutan jamu (jahe, kunir, dan jeruk lemon) untuk yang merasakan gejala tersebut. Kemudian, berbaik sangka terhadap Allah masyarakat di dusun tersebut cara menyadarkan mereka dengan cara ceramah yang di sampaikan pada saat sholat tarawih. Tujuan dari doktin husnudzan ini adalah menciptakan hubungan persaudaraan antar masyarakat agar lebih harmonis.

Pandangan dari teori Emile Durkheim yang mengatakan bahwa agama sebagai potensi yang menciptakan pergerakan dan dapat mengubah tatanan sosial, kemudian ada suatu symbol yang religus atau yang memiliki makna sakral dapat mengikat pada kebersamaan masyarakat bersama. Hal ini juga berlaku di dalam masyarakat Dsn. Weru, Ds. Sidolaju, Kec. Widodaren, Kab. Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Di antara lainnya adalah masih diterapkan pelaksanaan salat berjama’ah, jum’at dan tarawih di masjid walaupun dalam situasi pandemic covid-19. Mengapa tindakan tersebut masih terjadi walaupun dari pihak pemerintah untuk menghimbau agar tidak berkerumun? Hal itu terjadi sebab salat-salat berjama’ah telah menjadi sesuatu yang sakral. Kemudian untuk menanggulangi berkerumunan akan tetapi masih melaksanakan ibadah yang sakral tersebut masyarakat di dusun tersebut tetap melaksanakan ibadah salat jama’ah di masjid sebab masjid telah menjadi tempat untuk mengikat masyarakat dalam proyeksi bersama, akan tetapi perindividu masyarakat ketika melaksanakan ibadah yang sakral ini mereka diwajibkan untuk memakai masker dan menjaga jarak (kira-kira satu shaff) untuk perindividunya.

“Apakah hal ini diperbolehkan? Bagaimana hukum memakai masker dan melonggarkan shaff ketika sedang salat di saat waktu pandemic Covid-19 ini?” kira-kira begitulah pertanyaan yang terjadi di tengah masyarakat yang dimana terdapat doktrin dan menjadi folkways (kebiasaan) bahwa sebelumnya ketika sedang melaksanakan ibadah salat mereka tidak menggunakan masker dan harus merapatkan shaff (tempat salat). Artinya, mengubah tatanan konstruk atau yang sudah menjadi kebiasaan itu tidak mudah, akan timbul pertanyaan atau bentrok yang terjadi di dalam masyarakat. Kemudian hal ini dapat di tengahi ketika salah satu penceramah di masjid mengatakan “Menyimpulkan dari hadits-hadist menggunakan masker di tengah pandemic Covid-19 ini diperbolehkan bahkan mampu menjadi sesuatu hal yang diperintahkan, terutama untuk masyarakat yang memiliki gejala-gejala seperti batuk, flu, dan pilek, begitupula dengan melonggarkan shaff ­salat”

Selain, di hadapkan dengan problem-problem yang muncul di tengah pandemic Covid-19 masyarakat di Dsn. Weru, Ds. Sidolaju, Kec. Widodaren, Kab. Ngawi, Provinsi Jawa Timur ini juga di hadapkan dengan maraknya pencurian di setiap rumah warga. Dengan begitu masyarakat membagi tugas untuk menjaga keamanan lingkungannya, ada yang menjaga pos kamling secara bergilir dan menyiapkan kopi atau makanan secara bergilir untuk penjaga pos kamling tersebut.

Kesimpulan yang dapat di tarik oleh penulis adalah teori-teori doktrin agama dalam kehidupan masyarakat sangatlah berpengaruh untuk kelangsungan hidup dan keharmonisan bersama. Kemudian, Pandangan dari teori Emile Durkheim yang mengatakan bahwa agama sebagai potensi yang menciptakan pergerakan dan dapat mengubah tatanan sosial, kemudian ada suatu symbol yang religus atau yang memiliki makna sakral dapat mengikat pada kebersamaan masyarakat bersama juga telah ditunjukan dengan cara tetap melakukan salat berjam’ah di masjid setempat.

Penulis

(Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Prodi Sosiologi Agama )

Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQJjzanAmqXPGBJOWPkXVGSwU68XTq0NIhAKF_mALZR985LRWYr&usqp=CAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: