165 views

Pengetahuan, Kebenaran, dan Akhlak

Kebenaran dan Akhlak
(Tradisi Keilmuan Pesantren)
Oleh: Aksin Wijaya*

Di hari santri nasional ini, saya ingin menulis tentang tradisi keilmuan pesantren yang paling inti, yang berbeda jauh dengan tradisi keilmuan lainnya, yakni hubungan antara kebenaran dan akhlak. Kita mendengar beberapa ungkapan yang dinisbatkan kepada Nabi: “Katakanlah yang benar walau membawa kepahitan”. Ungkapan ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk tidak takut menyuarakan dan menyampaikan kebenaran, walaupun dengan resiko yang dia hadapi. Ungkapan ini terasa aneh. Bagaimana bisa, kebenaran berhubungan dengan resiko. Bukankah sejatinya, kebenaran itu membawa kebaikan.

Ungkapan ini paling sering digunakan oleh penganut Islam radikal yang semarak akhir-akhir ini. Mereka mengklaim apa yang disampaikan adalah kebenaran bahkan satu-satunya kebenaran, sembari menafikan kebenaran pihak lain. Kebenaran yang mereka yakini disampaikan apa adanya, bahkan dengan nada memaksa, marah dan penuh kebencian, bukan hanya terhadap penguasa tetapi juga masyarakat biasa yang kebetulan berbeda pandangan dengan mereka.

Prinsip “Katakan yang benar walau membawa kepahitan” tidak berefek negatif kepada mereka. Kepahitannya itu berefek pada masyarakat biasa, yang kebetulan berbeda agama, aliran, organisasi dan kepentingan politik, karena tidak hanya dituduh sebagai kafir, sesat tetapi juga dianggap halal darahnya. Kekerasan terhadap pihak lain pun dianggap biasa, bahkan sebagai ajaran agama.

Mengapa?

Karena menekankan kebenaran, apalagi kebenaran tunggal, mereka lebih menekankan ber-nahi mungkar dalam menyampaikan kebenaran tunggal itu daripada ber-amar makruf. Akibatnya, dalam ber-nahi mungkar, tidak jarang mereka melakukan kekerasan, baik fisik maupun wacana seperti menebar kebencian, berbohong, memprovokasi atau menghasut, menfitnah, menghina, menyebarkan paham misoginis, memanipulasi data melalui hoax dan lain sebagainya.

Tindakan itu semua dijustifikasi melalui dalil-dalil agama, misalnya ayat-ayat tentang keharusan membuhunh orang-orang kafir (al-Taubah:5, dan al-Baqarah:2) dan hadis Nabi yang mengatakan: “Saya diperintah untuk membunuh manusia sampai mereka benar-benar bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, menunaikan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukan perintah itu, maka selamatlah jiwa dan harta benda mereka karena telah memeluk Islam, dan semua urusannya milik Allah”.

Mengapa bisa demikian?

Itu tidak lain, karena kebenaran itu dilepaskan dari ungkapan lain dari Nabi Agung Umat Islam, yakni akhlak. Nabi Muhammad mengungkapkan: “Saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Akhlak itu mulia, dan Nabi Muhammad diutus untuk menebarkan kemuliaan akhlak itu, bukan menebar kebencian yang dibungkus bahasa kebenaran. Kebenaran itu mulia, tetapi kebenaran yang tidak disertai akhlak tidak akan ada artinya, malah menyebabkan fitnah.

Kebenaran dan akhlak mempunyai hubungan yang erat, dan saling menyempurnakan. Kebenaran itu penting karena kebenaran menjadi ukuran berfikir dan bertindak, baik kebenaran teologis, moral maupun hukum. Akan tetapi, kebenaran itu tidak berdiri sendiri, terutama dalam menyampaikannya kepada pihak lain.

Al-Qur’an mengajarkan, agar kebenaran disampaikan dengan cara yang bijaksana, nasehat yang baik dan jikapun harus berdialog, harus dengan cara yang paling baik. Boleh jadi kebenaran tidak perlu disampaikan dalama situasi tertentu, misalnya demi menjaga nama baik seseorang atau demi menjaga hubungan baik dengan pihak lain. Benar secara teologis orang Yahudi dan Nasrani disebut kafir oleh al-Qur’an, tetapi tidak baik dari sisi akhlak mengatakan kepada mereka: “Wahai orang kafir…”.

Di sinilah nilai pentingnya, mengapa pondok pesantren mengajarkan kitab al-Ta’lim wa al-Mutallim kepada santrinya. Di sini diajarkan etika mencari ilmu, berbungan dengan lembaga pendidikan tempat dia mencari ilmu dan terutama dalam berhubungan dengan sesama pencari ilmu (santri), guru, kiyai dan orang lain pada umumnya. Di Pondok Pesantren Tradisional, kitab-kitab tasawuf, akhlak dan etika itu dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rujukan mereka di antaranya seperti, Ihya’u Ulumiddin, al-Ta’lim wa al-Muta’allim, Washaya al-Aba’ li al-Abna’”, al-Akhlaq li al-Banat, Irshad al-‘Ibad, Nasha’ih al-‘Ibad, dan al-Adkar.

Karena itu, di pondok pesantren, tasawuf, akhlak dan etika lebih utama daripada ilmu. Kaidah yang terkenal di pondok pesantren adalah al-‘Ilmu bila ‘amalin, ka al-Shajari bila thamarin (Ilmu tanpa amal, seperti pohon tanpa buah). Prilaku hidup sederhana, berakhlak dan beretika adalah amaliyah dari ilmu. Para santri hidup sederhana, baik dari segi pakaian maupun makanan. Penghormatan santri terhadap yang lain, baik sesama santri, kepada ustadz apalagi kepada kyai mencerminkan ajaran kitab-kitab tasawuf, akhlak dan etika karya ulama’ besar. Tidak ada sikap kasar, ujaran-ujaran kebencian, hoax dan fitnah di pondok pesantren.

Namun penting dicatat, itu tidak berarti, pesantren mengabaikan kebenaran teologis. Yang menjadi titik tekan pesantren adalah kebenaran itu pasti membawa efek etis, bukan sebaliknya. Jika efeknya justru penuh dengan kebencian dan kekerasan, pasti ada yang salah dengan kebenaran yang diyakininya. Inilah, mengapa para santri, bukan hanya tidak melakukan kekerasan kepada pihak lain, bahkan cenderung memberi maaf kepada pihak lain yang melakukan kekerasan terhadap mereka. Para pembenci dan pemfitnah kyai dan pesantren seringkali berakhir dengan pemberian maaf di atas materi berharga enam ribu.

“Selamat Hari Santri”! Santri jaya, bangsa jaya, dan NKRI tegak memayungi bangsa Indonesia yang berbineka tunggal ika ini. (*Penulis adalah Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo).

Ponorogo, 22 Oktober 2020

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: