356 views

Orang Tua dan Penanaman Karakter Masa Pembelajaran jarak jauh Akibat Covid-19

Oleh: Abu Muslim

Awal tahun ajaran baru ini kegiatan belajar dilakukan dengan jarak jauh karena situasi Covid-19 yang belum berakhir. Pembelajaran daring masih menyisakan beberapa problem. Problem tersebut meliputi: keterbatasan akses peserta didik terhadap jaringan internet, ketiadaan sarana handphone yang tidak memadai, dan problem lain yang berakibat kegiatan belajar menjadi tidak maksimal.

Pembelajaran jarak jauh juga bisa terkesan formal karena jarak. Formalitas tugas barang kali bejibun dan bersifat harian, tetapi transformasi pengetahuan ke karakter menjadi tanggung jawab utama orang tua, terlepas kapasitas dan kondisi orang tua yang beragam dalam mendampingi proses belajar di rumah.

Akibatnya, fungsi sekolah yang mengemban ruh dan fungsi utama pendidikan, yakni penanaman karakter pada peserta didik tidak terimplementasi dengan baik. Transformasi pendidikan berkarakter sebagaimana yang digagas Kemedikbud menjadi ala kadarnya karena keterbatasan kurikulum dan implementasinya dalam situasi covid sekarang ini.

Sejatinya pendidikan sebagai program pengajaran pembentukan karakter dan budi pekerti yang penting bertujuan untuk kemajuan masyarakat. Menurut John Dewey basis pendidikan adalah pengalaman, atau dalam bahasannya sebagai sarana dan tujuan pendidikan. pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses penggalian dan pengolahan pengalaman secara terus-menerus.  John Dewey menyatakan perumusan teknis tentang pendidikan, yakni dengan menyusun kembali dan menata ulang pengalaman yang menambahkan arti pada pengalaman tersebut, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan jalan bagi pengalaman berikutnya.

Kendati demikian, pada pendidikan anak tidak terlepas dari peran seorang guru atau pembimbing atau mentor. Sebab seorang pembimbing merupkan orang yang akan membimbing dalam arti mengarahkan serta mengevaluasi hasil belajar anak didik. Sebagaimana dalam buku John Dewey “Democracy and Education” bahwa pendidikan merupakan sebuah bimbingan dan pengarahan.

Berangkat dari dua prinsip John Dewey di atas, antara “pengalaman dan pengarahan”, maka seorang anak dapat mempraktekkan langsung materi atau arahan yang diberikan oleh pembimbing. Inilah yang disebut konsep “Learning by Doing” atau belajar melalui perbuatan langsung yang dilakukan oleh peserta didik. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa learning by doing merupakan belajar dengan cara melakukan, melihat, mendengar dan merasakan secara langsung objek yang akan dipraktekkan oleh pembimbing, sehingga peserta didik dapat memahami sampai sejelas-jelasnya

Di era pandemi seperti sekarang ini, peran orang tua dalam mendidik anak semakin penting adanya. Jika dalam situasi normal sekolah lebih banyak mentranformasikan ilmu pengetahuan dan karakter melalui buku-buku pelajaran dan perilaku di sekolah, kini orang tua sebagai berperan sebagai pembimbing aatau pengarah. Oeang tua memberikan pelajaran kepada anak melalui budaya yang berkembang dalam keluarga. Budaya dan penciptaan budaya tersebut meliputi: bidang budi pekerti atau akhlak, bidang keagamaan maupun sosial dan pengetahuan lainya.  Komitmen dan konsistensi dari orang tua ini penting agar anak tetap diberi asupan gizi ilmu pengetahuan dan penanaman mental dalam kesehariannya. Seorang peserta didik akan bisa maksimal dalam melakukan praktik ilmu yang didapat dari arahan pembimbing maka dapat dicontohkan atau kebiasaan oleh pembimbing sehingga membentuk pengalaman.

Penananaman karakter oleh orang tua misalnya adalah kemandirian dan kedisiplinan. Kemandirian merupakan kemampuan sikap  untuk mengelola apa yang dimiliki, seperti bagaimana mengelola waktu, berfikir secara mandiri atau tidak tergantung pada orang lain, dan pengelolaan dalam hal lain. Kemandirian menjadi penting untuk anak sebab memiliki kemandirian  relatif akan mampu untuk menghadapi persoalan yang dihadapi oleh anak.

Begitu juga dengan sikap kedisiplinan,. Kedisiplinan adalah proses belajar untuk mengembangkan kebiasaan, penugasan diri serta mengakui tanggung jawab pribadinya terhadap keluarga dan masyarakat serta kepatuhan terhadap peraturan. Pengawasan dan pengendalian anak dari orang tua sangat penting dalam mengontrol perilaku maupun keinginan anak. Kedisplinan bertujuan mengembangkan diri agar dapat berprilaku tertib. Disadari kedisiplinan merupakan kunci untuk dapat meraih kesuksesan dalam pelaksanakan tugas maupun dalam perwujudan cita-cita. Hal ini senada dengan Charles Schaefer yang menyatakan bahwa disiplin sesuatu yang mencakup baik pengajaran, bimbingan serta dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua atau pembimbing bertujuan untuk membantu anak belajar untuk hidup sebagai makhluk social. Selain itu, untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan yang optimal.

Last but not least, orang tua mempunyai peran penting dalam pendidikan karakter masa pandemi. Komitmen dan konsistensi orang tua dalam hal ini dituntut, tidak saja dengan model instruktif (top-down) tetapi juga dengan model memberikan contoh nyata kepada anak. Bukan kah tindakan lebih bermakna dari sekedar kata-kata (lisan al-hal afshah min lisan al-maqal). (Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial-Keagamaan, Alumni S2 UIN Sunan Kalijaga). {AR}

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: