331 views

Normal Baru dalam Kontruksi The Active Society

New Normal Sebagai Implementasi The Active Society
Di Masa Krisis Ekonomi Akibat Pandemi

Oleh: Nur Rif’ah Hasaniy*
rifahhasaniy@gmail.com

Pandemi Covid-19 yang sudah mewabah di hampir seluruh belahan dunia merupakan bencana yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Mulai dari bencana medis, ekonomi, budaya, sosial, bahkan ritual keagamaan. Secara global, virus yang pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 ini setiap harinya masih terus menunjukkan penambahan. Dilansir dari Kompas.com update data per 16 Juni, virus Corona telah menjangkiti sebanyak 8.107.425 pasien terkonfirmasi positif diseluruh dunia, dengan rincian sebanyak 4.187.422 pasien telah sembuh, sedangkan 438.530 lainnya meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, sejak mewabah pertama kali pada Maret 2020 data pasien positif terinfeksi sudah mencapai 39.294 jiwa, memakan korban meninggal dunia sebanyak 2.198 jiwa, dan pasien sembuh sebanyak 15.123 jiwa.

Selain kesehatan, sektor yang juga paling terguncang adalah perekonomian. Pasalnya, sebagian aktifitas ekonomi terpaksa dihentikan untuk sementara selama PSBB berlangsung. Pada masa PSBB, pemerintah berusaha menanggulangi masalah ekonomi masyarakat melalui pemberian suntikan dana terhadap masyarakat yang kurang mampu dan karyawan yang dirumahkan (PHK), pembebasan tagihan listrik dan lain sebagainya.

Namun setelah batas pemberlakuan PSBB selesai, apakah masalah ekonomi juga berakhir? Jawabannnya, jelas masalah ini dirasakan semakin akut sebagaimana problem Covid-19 itu sendiri, karena masalah ekonomi adalah problem yang kompleks antara konsumsi, produksi distribusi dan lainnya. Masyarakat perlu segera menjalankan kembali aktivitas perekonomian karena tuntutan hidup dan kehidupan walau virus semakin ganas menyerang. Sehingga dari persoalan tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan new normal (normal baru) agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa bayang-bayang ancaman Covid-19.

New Normal sebagai Implementasi The Active Society

Tulisan ini akan membaca kebijakan menerapkan new normal yang diambil pemerintah sebagai implementasi dari The Active Society sebagaimana yang digagas oleh Amitai Etzioni. Mengapa menggunakan the active society?

Menurut Amitai Etzioni, sebagaimana dikutip oleh Margaret M. Poloma, the active society atau masyarakat aktif adalah masyarakat yang menguasai dunia sosialnya. Masyarakat aktif adalah pencipta, yang artinya masyarakat bisa mengubah hukum-hukum sosial sehingga dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing kelompok. Aktif dalam hal ini memiliki tiga komponen yang disebut faktor sibernetik. Tiga faktor tersebut yaitu, pertama, pengetahuan yang didukung oleh kesadaran dan diperoleh melalui proses ilmiah. Kedua, pengambilan keputusan sebagai wujud dari pengetahuan, kesadaran dan komitmen. Ketiga, kekuasaan sebagai faktor kunci demi tercapainya tujuan dari keputusan yang diambil (Poloma; 2010, 355)

Apa yang dilakukan pemerintah dengan memberlakukan new normal nampaknya memenuhi tiga faktor sibernetik sebagaimana yang dijelaskan di atas. Pertama, pengetahuan. Menurut Bustami Rahman, sebenarnya dapat kita pahami dengan mudah mengapa pemerintah memutuskan untuk segera menerapkan new normal. Salah satu faktor yang sangat mendesak ialah faktor ekonomi. Kondisi ekonomi pada masa PSBB yang ketat justru akan semakin memberatkan beban yang dipikul masyarakat (Basuki: 2020). Pasalnya, pandemik yang semula merupakan bencana pada aspek kesehatan, kini berdampak pula pada aspek finansial.

Sesmenko Susiwijono mengatakan, dari total kurang lebih 133 juta pekerja di Indonesia, 50-70 juta diantaranya adalah pekerja informal. Jika roda ekonomi tidak segera diputar kembali, maka sebanyak 50-70 juta pekerja tersebut terancam PHK sewaktu-waktu. Lambat laun, angka kemiskinan dan pengangguran akan mulai naik, sedangkan Negara tidak bisa terus menerus memberikan bantuan sosial karena memang keuangan Negara yang terbatas (Novika:2020). Dengan begitu, pembukaan masa normal baru menjadi tak terelakkan. Kegiatan publik dan ekonomi masyarakat perlu kembali dijalankan. Tetapi dengan catatan, protokol kesehatan di era new normal dari Kemenkes harus tetap diterapkan secara tegas dan ketat.

Kedua, pengambilan keputusan. Kebijakan untuk membuka kembali kegiatan publik baik pada sektor ekonomi, sosial ataupun ritual keagamaan bukanlah tanpa resiko. Meskipun telah memasuki era new normal, pandemi Covid-19 senyatanya masih belum berakhir. Bahkan beberapa hari terakhir, penambahan jumlah kasus per hari mencapai lebih dari 700-1000 kasus. Hal ini semakin memposisikan kita pada situasi yang dilematis. Disatu sisi pandemi Covid-19 mengancam kesehatan, disisi lain krisis ekonomi akibat pandemi semakin mencekik masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Oleh karenanya, jalan tengah yang diputuskan pemerintah ialah dengan merancang treatment khusus guna menyongsong normal baru setelah pandemi, yakni berupa skenario protokol kesehatan di setiap layanan publik.

Ketiga, kekuasaan. Pemerintah pusat, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan di Indonesia, memiliki otoritas serta wewenang untuk menetapkan kebijakan. Dalam masyarakat yang beragam, faktor ketiga ini mutlak diperlukan atau dengan kata lain sebagai faktor kunci dalam teori masyarakat aktif. Meskipun penetapan kebijakan dalam sekala Nasional berada di tangan pemerintah, namun dalam pelaksanaan dan penerapannya di lapangan, tentu diperlukan kesadaran, komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari semua pihak. Maka dari itu, setiap elemen masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan perlu bersama-sama, serentak dan satu suara untuk melawan pandemi Covid-19 ini, agar masalah ekonomi dapat diatasi bersama sembari upaya pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 juga berhasil. (Penulis adalah mahasiswi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Referensi

Poloma, Margaret M. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Basuki. Pengamat Sosiologi Penerapan New Normal vs Old Normal Terkait Situasi Covid-19. Dalam http://ubb.ac.id. Diakses pada Juni 2020.

Novika, Soraya. Sederet alasan Pemerintah Terapkan New Normal. Dalam https://finance.detik.com. Diakses pada Juni 2020.

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: