182 views

Mudik saat Pandemi: Antara yang Sakral dan yang Profan

Mudik, Pandemi, dan Eliade

Oleh: Izzuddin R. Fahmi*

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat. 22:14)

Tahun ini tradisi mudik kembali ditiadakan oleh pemerintah karena masih dalam kondisi pandemi COVID-19 serta karena antisipasi melonjaknya kasus positif dan pencegahan penularan di masyarakat. Larangan mudik lebaran 2021 berlaku pada 6–17 Mei 2021. Pemerintah juga memberlakukan aturan tambahan berupa pengetatan perjalanan, berlaku mulai 22 April–5 Mei dan 18–24 Mei 2021.

Ketentuan peniadaan mudik dan pengetatan perjalanan tersebut diatur dalam Surat Edaran Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 13 Tahun 2021. Dilansir dari situs nu.or.id, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau masyarakat, terutama Nahdliyin untuk melakukan silaturahim secara virtual, pada momentum Hari Raya Idul Fitri tanpa harus melakukan mudik.

Hal ini dimaksudkan agar menghindari risiko penularan COVID-19 di Indonesia. “Mudik” sebagai media silaturahim adalah sebuah tradisi yang baik. Namun, karena situasi pandemi maka menghindar dari risiko penularan, dengan tidak melakukan mudik adalah sesuatu yang lebih utama,” ucap Sekretaris Jenderal PBNU, H. Ahmad Helmy Faishal Zaini (Triono, 6 Mei 2021).

Mengikuti aturan pemerintah dengan tidak mudik, menahan bertemu dan menjalin kasih dengan keluarga dan kerabat, dapat dikatakan mengambil intisari (esensi) dari hakikat puasa. Konteks puasa dalam tulisan ini tidak merujuk pada satu agama atau kepercayaan tertentu, tetapi kondisi umum (generalisasi) puasa dalam pandang lintas-iman.

Meminjam konsep sosiologis dari Weber, bahwa puasa itu bisa dimaknai mengembangkan pengelolaan fisik yang dikombinasikan dengan pengelolaan psikis, dan pengaturan metodis. Yang terakhir terkait terkait bagaimana cara dan jangkauan semua pemikiran dan tindakan bisa memproduksi (pada diri individu) kendali kewaspadaan terlengkap, kesadaran (dan anti-instingtif) bagi proses-proses fisik dan psikologisnya. Ia memastikan pengaturan sistematis hidup ke tujuan-tujuan religius (Weber, 1965: 162).

Puasa, melalui menahan diri sedemikian rupa, menghasilkan individu berkualitas Sophrosyne, sebuah istilah Yunani untuk ‘pengendalian-diri’–dimunculkan dengan muatan filosofis pertama kali oleh Zeno dari Citium (335–263 SM), pendiri mazhab Stoa–yang bermakna ‘bersikap tepat setelah mendapat pengetahuan yang tepat’.

Menahan diri untuk tidak mudik di saat situasi dan kondisi pandemi merupakan sebagian dari sifat puasa itu sendiri. Mengorbankan kepentingan pribadi demi keselamatan bersama bukan berarti altruistik, tetapi wujud dari kesalehan sosial (social piety); ‘bersikap dan berperilaku tepat’ dengan menaati aturan pemerintah setelah ‘mendapat pengetahuan yang tepat’ melalui prinsip etika religius, berupa esensi dari puasa.

Di sisi lain, mudik, yang secara harfiah berarti ‘pulang ke kampung halaman’, yang ditandai dengan hari raya keagamaan bukan berarti bagian dari tradisi keagamaan. Pembedaan diametral oleh Mircea Elaide membedakan fenomena agama menjadi pengalaman kehidupan sakral yang religius dan pengalaman kehidupan profan yang sekuler (Elaide, 1958: 1).

Pengalaman sakral memungkinkan untuk memperoleh titik pasti (a fixed point) dan karenanya untuk memperoleh orientasi dalam kekacauan homogenitas, untuk “menemukan dunia” (“found the world”) dan untuk hidup dalam arti yang sebenarnya (to live in a real sense). Sebaliknya, pengalaman profan mempertahankan homogenitas dan karenanya bersifat relatif (Elaide, 1956: 23).

Yang sakral bersifat supernatural, luar biasa (extraordinary), mudah diingat (memorable), sangat penting (momentous); sementara yang profan bersifat keseharian (hal-hal yang dilakukan sehari-hari secara teratur dan acak), biasa dan tidak terlalu penting (Pals, 2015: 232). Sayangnya, diferensiasi dikotomis sakral-profan sampai saat ini dapat dikatakan ‘ngambang’, karena dilihat dari ciri khas keabsolutannya, biasanya sesuatu yang sakral lebih dianggap superior dalam penekanan perilakunya daripada yang profan.

Menjalankan laku puasa pada bulan tertentu dengan dogma atau keyakinan tertentu adalah bagian dari ruang sakral, sedangkan mudik pada hari raya tertentu merupakan ruang profan, yang bukan berasal dari suatu tradisi rigid atau suatu keharusan ekstrem. Menunaikan ritus atau ibadah dengan iman tertentu adalah pengalaman sakral, sedangkan menolong sesama, menaati aturan negara, menjaga kesehatan kolektif adalah pengalaman profan, meskipun bersifat penting dalam derajat hal-ihwal (hierarchy of beings).

Mudik bukan semata-mata pengalaman keagamaan, tetapi bagian dari pengalaman kebudayaan. Menjalin relasi dan interaksi sosial dengan orang terkasih di kampung halaman-tanah kelahiran di waktu sakral–menurut Elaide–seperti hari raya keagamaan, dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui perkembangan teknologi informasi yang profan.

Tragisnya, pembedaan sakral-profan untuk kasus mudik akan problematis jika dilihat dalam kosmogoni Jawa; yang secara simbolik dihubungkan dengan ide ‘sangkan paraning dumadi’, atau pengetahuan akan ‘dari’ dan ‘kemana’ dalam penciptaan (knowledge of the ‘whence’ and ‘whither’ of creation) (Soebardi, 1975: 49).

Maka, mudik dalam hal ini bukan sekedar tradisi atau habituasi (kebiasaan) tanpa signifikansi, atau hanya sekedar kembali dari perantauan, sungkem orang tua, atau ekshibisi materi; tetapi lebih dalam daripada itu mengandung nilai refleksi adikodrati: ‘sesuatu yang-dicipta akan kembali ke Yang-Mencipta’. (*Penulis adalah Pengangguran yang berharap jadi dosen).[AR]

Bibliografi

Elaide, Mircea. Patterns in Comparative Religion. trans. Rosemary Sheed. New York: Sheed & Ward. 1958.

_____. The Sacred and The Profane. The Nature of Religion. trans. Willard R. Trask. New York: Harcourt, Brace & World. 1956.

Pals, Daniel L. Nine Theories of Religion. Oxford: Oxford University Press. 2015.

Triono, Aru Lego. https://www.nu.or.id/post/read/128661/pbnu-imbau-masyarakat-silaturahim-tanpa-mudik. diakses, 10 Mei 2021.

Soebardi, S. The Book of Cabolèk. ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff. 1975.

Weber, Max. The Sociology of Religion. trans. Ephraim Fischoff. London: Methuen & Co. 1965.


Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: