190 views

Modal Sosial Masa Depan Kehidupan Beragama

Terowongan Istiqlal-Katedral

(Modal Sosial Masa Depan Kehidupan Beragama di Indonesia)

Oleh: Nur Rif’ah Hasaniy*
rifahhasaniy@gmail.com

Isu-isu intoleransi di Indonesia tidak pernah habis diperbincangkan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Wahid Foundation, kasus intoleranssi yang melanggar kemerdekaan beragama dan berkeyakinan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2018 misalnya, telah terjadi sebanyak 192 peristiwa dan 276 tindakan intoleransi. Dari seluruh kasus yang terjadi, tiga bentuk tindakan dengan kasus terbanyak ialah pemidanaan berdasarkan agama atau keyakinan yakni sebanyak 48 kasus, penyesatan agama atau keyakinan yakni 32 kasus dan pelarangan aktivitas yakni sebanyak 31 kasus.[1]

Survey serupa yang dilakukan oleh Setara Institute pada tahun 2020 juga menunjukkan hasil yang tidak kalah mencengangkan. Terjadi sebanyak 422 tindakan pelanggaran kebebasan beragama. Dengan kasus tertinggi yakni berupa tindakan intoleransi sebanyak 62 kasus, penodaan agama sebanyak 32 kasus, dan penolakan mendirikan tempat ibadah sebanyak 17 kasus.[2]

Program Penguatan Moderasi

Menanggapi mirisnya fakta intoleransi tersebut, pemerintah lantas dengan gencar dan massif mengampanyekan program penguatan moderasi beragama yang dikakitangani langsung oleh Kementrian Agama. Kampanye moderasi beragama merupakan solusi yang bisa dibilang cukup tepat. Sebab, berdasarkan temuan berbagai survey yang ada, salah satu faktor utama penyebab terjadinya fenomena intoleransi ini ialah menjamurnya sifat keberagamaan yang eksklusif dan perasaan terpinggirkan dari kehidupan sosial, politik dan ekonomi.[3]

Keseriusan Kemenag tersebut tampak melalui tercantumnya program moderasi beragama ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.[4]

Simbolisasi Moderasi

Kampanye moderasi beragama yang digaungkan pemerintah terkonfirmasi secara simbolis melalui pembangunan terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Pembangunan infrastruktur di ibu kota Indonesia tersebut sudah barang tentu mendapat berbagai respon dari masyarakat, baik respon positif maupun negatif.

Pasalnya, bangunan infrastruktur, atau dalam konteks ini adalah terowongon, yang pada mulanya hanya memiliki nilai guna sebagai jembatan penghubung dari satu tempat ke tempat yang lain, dibubuhi nilai-nilai sosio-agama yakni berupa narasi kerukunan umat beragama.[5]

Dilansir dari Narasi beberapa TV, memang pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral sudah disepakati oleh berbagai pihak, utamanya pimpinan kedua agama. Kendati demikian, sebagai sesuatu yang dibumbuhi nilai-nilai agama, sebagaimana yang lainnya, tentu saja ia tetap menimbulkan sikap pro dan kontra.

Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch, menyampaikan bahwa pembangunan terowongan tersebut sebenarnya tidak jelek, tetapi tidak pula dapat menyelesaikan persoalan intoleransi yang terjadi di Indonesia.

Karena secara substansial, pembangunan tersebut tidak bersentuhan langsung dengan penyelesaian kasus-kasus intoleransi yang selama ini melanda Indonesia, seperti kasus pelarangan pendirian dan aktivitas rumah ibadah bagi minoritas beragama.[6]

Sikap apresiatif ditunjukkan oleh Mastuki. Menurutnya, selain sebagai simbol penyatuan secara fisik, terowongan silaturahmi itu menurutnya juga merepresentasikan bertemunya hati, pikiran, sikap dan tindakan dua agama yang secara sosio-teologis memegang kendali utama dalam menciptakan kehidupan yang damai bagi masyarakat Indonesia.[7]

Terlebih lagi, terowongan ini tidak hanya berfungsi secara spiritual sebagai fasilitas beribadah bagi kedua umat beragama itu, tetapi juga berfungsi secara sosial lantaran para pemimpin kedua umat beragama itu sering melakukan pertemuan-pertemuan.

Terlebih, lahan parkir yang berada di sekitar kedua rumah beribadah itu masih kurang, sementara akses jalan raya arus lalu lintas selalu ramai dan macet. Selain itu, terowongan itu juga sengaja dibangun dan didesain sebagai fasilitas publik,[8] tidak hanya untuk kepentingan nilai-nilai sosio-teologis.

Hal itu dapat dilihat dari kondisi bangunannya. Sejak pembangunannya yang dimulai pada Januari 2021 lalu, saat ini tampak finishing terowongan jika dipersentasekan sudah mencapai 61% selesai. Terowongan dibangun dengan panjang 28,3 m, tinggi 3 m, dan lebar 4,1 m. Desain interiornya berbahan marmer dan dilengkapi railing stainless. Tidak hanya menggunakan tangga, terowongan ini juga dilengkapi lift untuk mempermudah akses penyandang disabilitas.

Bukan Semata Fisik, tetapi juga Modal Sosial

Terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral ini sebenarnya bisa didekati dengan banyak sudut pandang, tetapi tulisan ini hendak melihatnya dari sudut pandang teori bridging social capital. Tujuannya adalah untuk melihat, modal sosial apa yang diberikan terowongan itu bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.

Membuat sebuah terowongan memang tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat, rukun dan bersih dari kasus intoleransi. Kendatipun demikian, terowongan silaturahmi tersebut dapat kita lihat sebagai sebuah modal sosial bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.

Sunyoto Usman membagi modal, sesuatu yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial, menjadi empat tipe, yakni modal finansial, modal fisik, modal manusia atau human capital dan modal sosial.

Terowongan silaturahmi sebagai bangunan bisa berperan sebagai modal fisik. Namun sebagai sebuah simbol, ia juga bisa berperan sebagai modal sosial.

Modal fisik adalah faktor produksi barang atau jasa, dapat berupa bahan baku, seperti sumber daya alam dan bahan tambang atau berupa infrastruktur, seperti mesin, gedung, dan komputer. Sedangkan modal sosial adalah usaha untuk mengelola, meningkatkan dan menggunakan relasi sosial untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial.[9]

Menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat dan rukun adalah cita-cita besar dengan banyak tantangan. Meskipun umat muslim adalah warga negara mayoritas di Indonesia, mereka tetap tidak dapat berjalan sebelah tangan.

Seluruh warga negara yang berada di bawah naungan NKRI tanpa memandang latar belakang agama, perlu saling bahu membahu untuk menciptakan negara yang aman, damai dan tenteram. Sunyoto Usman menyebut kondisi ini sebagai adaptive capacity. Keadaan dimana masyarakat berusaha beradaptasi atau melakukan survival strategy karena kondisi yang telah berubah. Pada kondisi inilah, modal sosial didayagunakan.

Terdapat dua kategori modal sosial, yakni bonding social capital dan bridging social capital. Bonding social capital mengikat jejaring dari aktor sosial berdasarkan identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu, sehingga jejaring dari bonding social capital ini tidak terlalu luas.

Berbeda dengan bridging social capital yang mengikat aktor sosial tidak terbatas, sebab relasi yang dibangun melampaui identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu. Sehingga peran relasi-relasi dengan networking atau bridging social tersebut lebih kuat dari pada bonding social.[10] Terowongan silaturahmi, secara simbolik telah menyiratkan kesan bridging social tersebut. Sebuah modal kunci bagi masa depan moderasi beragama di Indonesia.

Kendati demikian, menurut Sunyoto Usman, sebagaimana hasil penelitian Traunmuller dan Freitag yang membahas bantuan pemerintah atas modal sosial dalam narasi keagamaan, atau yang disebut dengan faith based social capital ini, memang akan mendapat respon dukungan ataupun penolakan.

Mereka yang menolak berargumen bahwa dukungan pemerintah justru dapat menyebabkan kecemburuan sosial dan intoleransi terhadap agama di luar agama yang bersangkutan. Alih-alih memperkuat, hal ini justru dapat menggerogoti semangat kerukunan dan menciptakan rasa curiga kepada umat agama lain.

Sedangkan kelompok masyarakat yang mendukung berharap bahwa kelompok agama tersebut dapat berkolaborasi dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Kesempatan ini dapat pula digunakan sebagai media menyampaikan misi moderasi beragama[11] agar tercipta kerukunan hidup beragama.

Paparan di atas menyiratkan, pembangunan terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral sebagai citra yang dibentuk oleh pemerintah setidaknya dapat menjadi modal awal untuk menyerukan, mengelorakan dan melanggengkan semangat moderasi beragama sehingga tercipta kerukunan hidup beragama.

Namun perlu diingat pula, terowongan silaturahmi tersebut tetap saja hanya sebagai sebuah bangunan infrastrutur sebagaimana fasilitas infrastruktur lainnya tanpa keterlibatan masyarakat yang sadar akan nilai pentingnya kerukunan hidup beragama. Karena itu, penting bagi kita untuk terus menggalakkan dan mengelorakan semangat moderasi beragama dan melawan diskriminasi melalui berbagai kegiatan-kegiatan syiar moderasi. (Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga). [AR]

Daftar Pustaka

Efendi, Arif. “Ini Langkah-langkah Kemenag dalam Penguatan Moderasi Beragama”. Dalam https://kemenag.go.id. Diakses pada Juni 2021.

Fadli, Ardiansyah. “Kabar Terbaru Terowongan Silaturahmi Istiqlal – Katedral”. Dalam https://www.kompas.com. Diakses pada Juni 2021.

Foundation, Wahid. “Intoleransi Bisa Diatasi Dengan Mengurangi Perasaan Terancam Dan Mengurangi Ketimpangan Sosial-Ekonomi”. Dalam http://wahidfoundation.org. Diakses pada Juni 2021.

Foundation, Wahid. Membatasi Para Pelanggar: Laporan Tahunan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan Wahid Foundation 2018. Diakses pada Juni 2021.

HS, Mastuki. “Makna Simbolis Terowongan Istiqlal–Katedral”. Dalam https://www.republika.id. Diakses pada Juni 2021.

Lidwina, Andrea. “Intoleransi, Pelanggaran Kebebasan Beragama Terbanyak Dilakukan Aktor Non-Negara”. Dalam https://databoks.katadata.co.id. Diakses pada Juni 2021.

TV, Narasi. “Pro-Kontra Terowongan Silaturahmi Istiqlal–Katedral. Dalam https://www.youtube.com. Diakses pada Juni 2021.

Usman, Sunyoto. Modal Sosial. 2018. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Wahid Foundation. Membatasi Para Pelanggar: Laporan Tahunan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan Wahid Foundation 2018. Diakses pada Juni 2021.

[2] Andrea Lidwina. “Intoleransi, Pelanggaran Kebebasan Beragama Terbanyak Dilakukan Aktor Non-Negara”. Dalam https://databoks.katadata.co.id. Diakses pada Juni 2021.

[3] Wahid Foundation. “Intoleransi Bisa Diatasi Dengan Mengurangi Perasaan Terancam Dan Mengurangi Ketimpangan Sosial-Ekonomi”. Dalam http://wahidfoundation.org. Diakses pada Juni 2021.

[4] Arif Efendi. “Ini Langkah-langkah Kemenag dalam Penguatan Moderasi Beragama”. Dalam https://kemenag.go.id. Diakses pada Juni 2021.

[5] Mastuki HS. “Makna Simbolis Terowongan Istiqlal – Katedral”. Dalam https://www.republika.id. Diakses pada Juni 2021.

[6] Narasi TV. “Pro-Kontra Terowongan Silaturahmi Istiqlal – Katedral. Dalam https://www.youtube.com. Diakses pada Juni 2021.

[7] Mastuki HS. “Makna Simbolis Terowongan Istiqlal – Katedral”. Dalam https://www.republika.id. Diakses pada Juni 2021.

[8] Ardiansyah Fadli. “Kabar Terbaru Terowongan Silaturahmi Istiqlal – Katedral”. Dalam https://www.kompas.com. Diakses pada Juni 2021.

[9] Sunyoto Usman. Modal Sosial. 2018. Yogyakarta: Pustaka Pelajar., hlm 1-3

[10] Sunyoto Usman. Ibid., hlm 20.

[11] Sunyoto Usman. Ibid., hlm 176.

Sumber gambar: Metro Tempo.co

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: