186 views

Misteri dan Hikmah Lailatul Qadar

Lailatul Qadar Gak Jadi Turun
Oleh: Aji Damanuri*

Suatu sore bulan Ramadan, Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat bahwa nanti malam adalah lailatul qadr. Malam itu para sahabat banyak menjalankan ibadah sampai waktu shalat malam tiba. Pada sepertiga malam terakhir mereka shalat tarawih di Masjid ketika tiba-tiba hujan turun sangat lebat.

Mereka tidak meninggalkan tempat sujudnya sehingga baju mereka basah karena atap masjid terbuat dari daun kurma yang tidak rapat, dan badan belepotan dengan lumpur yang meleleh dari dinding masjid yang direkatkan dengan tanah.

Lantai masjid pun juga masih terbuat dari susunan batu yang diratakan dengan tanah. Selesai shalat mereka pulang sebentar untuk berganti pakaian dan makan sahur, terus kembali ke masjid untuk sholat subuh. Hari itu Rasulullah tidak menjelaskan apapun dan para sahabat juga tidak bertanya apapun.

Para ulama menafsiri peristiwa tersebut sebagai puncak pengalaman spiritual puasa. Puncak spiritualitas ini diraih ketika seseorang menyadari akan eksistensinya sebagai manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah, seperti para sahabat yang belepotan tanah ketika sujud.

Dalam bahasa para Wali Tanah Jawa, orang akan memperoleh hikmah kebijaksanaan ketika dia menyadari “sangkan paraning dumadi”, dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan kemana kita akan kembali, dari Allah kita dikirim ke bumi dan kepada Allah kita akan kembali. Atau dalam bahasa sufi, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu“, barang siapa mengenali jati dirinya maka dia telah mengenali Tuhannya.

Pada kesempatan lain dalam Sahih Bukhari Bab Adab (Hadis No. 5740) Rasulullah keluar menemui para sahabat untuk mengabarkan bahwa pada malam tersebut adalah malam lailatul qadar. Ternyata di luar ada dua orang yang sedang bertengkar.

Kemudian Rasulullah saw menyampaikan, bahwa beliau keluar untuk memberitahu bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar, tapi karena ada pertengkaran maka ia diangkat kembali oleh Allah SWT. (tidak jadi turun) dan itu menurut Rasulullah lebih baik bagi semua. Kemudian Rasulullah juga menyuruh para sahabatnya untuk mencarinya di malam ke 9, 7, atau 5.

Diangkatnya kembali lailatul qadar ketika ada pertengkaran dianggap oleh Rasulullah sesuatu yang baik, wa ‘asa antakuna khairan lakum. Adalah hal yang sangat rugi jika turun lailatul qadar hanya diisi dengan pertengkaran. Malam yang penuh berkah tersebut mestinya diisi dengan kebaikan ibadah, taqarrub kepada Allah, menambah pundi-pundi amal, bukan diisi dengan pertengkaran atau hal negatif lainnya, karena dalam pertekaran tidak mungkin ada keberkahan. Karena itulah Rasulullah menganggap baik diangkatnya lailatul qadar di tengah pertengkaran supaya bisa turun lagi ketika para sahabatnya sudah siap menerimanya.

Menilik pada peristiwa tersebut bisa juga dimaknai lailatul qadar merupakan peristiwa spiritual yang bersifat pribadi. Artinya suatu malam mugkin memang lailatul qadar namun apakah seseorang menerima itu atau tidak tergantung dengan penerimaannya. Orang yang menghabiskan malam dengan dzikir dan munajat tentu berbeda dengan yang hanya tidur di malam lailatul qadar. Karenanya puncak spiritual lailatul qadar harus diraih dengan ibadah, bukan hanya ditunggu saja.

Ketidakjelasan waktu dan tanda-tanda pasti lailatul qadar merupakan hikmah sekaligus anugrah supaya umat Islam terus berusaha meraihnya sepanjang Ramadan meskipun malam-malam ganjil menjadi prioritas.

Ibarat nelayan pencari ikan, supaya memperoleh hasil yang maksimal dalam misteri air, ia menebar jalanya menyusuri hamparan sungai dengan durasi waktu kerja maksimal. Ada kalanya hanya memperoleh ikan kecil, namun tak jarang menangkap ikan besar, yang dihitung adalah perolehan kumulatifnya. Keberhasilan selalu mengikuti keistiqamahan, keseriusan dan keuletan kerja. Begitu pula kesuksesan puasa dalam memperoleh lailatul qadar.

Hal ini seperti pahala puasa sendiri yang tidak diterangkan secara pasti oleh Allah SWT. Tidak dikabarkannya tanda yang jelas lailatul qadar ini seperti dirahasiakannya pahala puasa. Puasa adalah milik Allah dan hanya Dialah yang akan memberikan pahala. Ada yang puasa tetapi hanya mendapatkan haus dan dahaga, namun ada pula yang keluar dari Ramadan menjadi suci sesuci anak yang baru dilahirkan oleh ibunya. Artinya, pahala dan apa yang diperoleh mengikuti usaha yang dilakukan. Semakin baik usahanya maka sebaik pula pahalanya. Begitu pula lailatul qadar.

Dengan demikian, puasa adalah ajang penguatan spiritualitas. Hampir seluruh aktivitas puasa adalah proses pembentukan spiritualitas, bahkan sekedar makan sahur pun dinilai sebagai keberkahan. Bulannya adalah bulan berkah, ibadahnya juga penuh berkah.

Puasa melatih seseorang untuk menghayati siapa dirinya, untuk apa diciptakan dan kemana akan kembali. Simbol ritual dalam hal ini adalah disunahkannya i’tikaf (berdiam diri di masjid), tentu untuk berdzikir, muhasabah diri, istighfar memohon ampun kepada Allah. Puasa mengenalkan manusia akan kelemahan dan kekurangan diri, menunjukkan kekuasaan dan kemahasempurnaan Allah rabbul ‘alamin. (Penulis adalah Pemburu Malam Lailatul Qadar). [AR].

Ilustrasi: Tribunnews.com

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: