263 views

Membendung Penceramah Intoleran

Membendung Penceramah Intoleran

Oleh: Abu Muslim*

Ulama dapat diikuti fatwa atau pandangan keagamaannya dan dijadikan teladan bagi pengikutnya dalam kehidupan sosial-politik sehari-hari.  Seseorang dikatakan ulama apabila dia ahli ilmu agama (seperti al Qur’an dan hadis) atau figur yang mengenyam pendidikan ke-Islaman yang ketat. Selain itu, memiliki kebijaksanaan dan pemahaman tentang ajaran agama Islam serta tradisi keilmuan Islam dapat dipertanggungjawabkan.

Namun belakangan ini tidak hanya ulama yang memberikan fatwa atau pandangan keagamaan tetapi juga ustad atau penceramah agama. Sering kali ustad ini dalam ceramahnya mengundang pro kontra, seperti ucapannya soal salib ada jin kafir. Anehnya, selain para penceramah tersebut ternyata juga ada para penceramah mualaf yang baru saja memeluk agama Islam.

Tidak sedikit dari mereka dalam berceramah sering kali mengumpat orang lain atau agama lain, mencaci maki bahkan dengan bangga telah melakukan tindakan kekerasan kepada makhluk lain seperti menabrak anjing yang dianggapnya binatang najis sehingga sah perbuatannya. Atau kasus penceramah mualaf yang menghina Agama Hindu, bahwa tuhannya banyak dan lain sebagainya kemudian di-upload di media sosial. Dengan fasion tersebut ternyata para pencermah ini memiliki pengikut dan tidak sedikit digandrungi masyarakat Indonesia yang baru belajar agama.

Para penceramah ini Jika dibiarkan, maka yang akan tampil seakan-akan Islam agama yang keras dan intoleran. Dan hal ini sangat berbahaya bagi pengikutnya jika meneladani pencermah tersebut dan mengancam moderasi beragama di Indoneosia. Dari sini lah maka kita perlu menyadarkan kembali masyarakat Islam Indonesia bagaimana seorang ulama atau ustad atau penceramah yang bisa diteladani atau di ikuti ajaranya, agar Islam di Indonesia menjadi pionir moderasi beragama dan menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Untuk melihat seorang penceramah dapat diikuti pandanganya maka dapat mengacu pada pandangan Max Waber mengenai otoritas. Otoritas keagamaan merupakan bukti bahwa seseorang penceramah telah menguasai dan memahami teks-teks agama dengan benar.

Menurut Weber, otoritas dapat dibentuk melalui tiga aspek: otoritas tradisional, otoritas karismatik dan otoritas legal-rasional. Otoritas pertama, berlandaskan pada suatu kepercayaan yang sudah ada sebelumnya atau sudah mapan pada kekudusan tradisi-tradisi dulu, sehingga melegitimasi otoritas yang dimilikinya. Biasanya seseorang taat pada otoritas ini disebabkan karena aturan itu sudah ada dan dibuat oleh pihak yang memiliki otoritas yang telah ada sejak lama. Pada perkembangan zaman dihormati sepanjang waktu secara turun temurun.

Sedang otoritas kedua, didasarkan kemuncul sikap yang baik dari dalam diri seorang pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan, dengan kata lain disebut karisma. Karisma ini memiliki daya tarik pribadi sebagai pemimpin. Pada akhirnya menimbulkan inspirasi maupun motivasi terhadap pengikutnya. Dengan sikap yang dimilikinya, pemimpin tersebut disegani dan mudah dipatuhi sehingga menjadi sebuah panutan bagi para pegikutnya dengan kata lain sistem otoritas karismatik ini pengikut suka rela mengikuti peraturan yang dibuat pemimpin tersebut.

Sementara itu, otoritas ketiga, legal rasional didasarkan pada orang yang sedang malaksanakan suatu posisi sosial yang menurut peraturan yang sah dia memiliki posisi otoritas. Mereka yang mengikuti seleksi ini biasanya memiliki pengetahuan yang baik dan keshalehan yang baik pula.  Pada seleksi pemilihan orang yang berhak mendapatkan dan menduduki posisi otoritas tersebut, diatur pada peraturan yang sah diakui oleh sebuah organisasi birokrasi. Proses ini seperti yang dilakukan MUI atau PBNU yang melakukan sertifikasi dai atau penceramah. Di mana dai atau penceramah dilakukan uji kualitas sejauh mana penguasan ilmu agama sehingga apa yang dikatakan dapat dipertanggung jawabkan dan pandangan keagamaannya bisa diikuti oleh para pengikutnya.

Dengan menerapkan otoritas tersebut, diharapkan krisis otoritas dan autentisitas atas ajaran agama tersebut dapat teratasi. Sehingga dalam proses meresepsi ajaran Islam, baik dalam media sosial maupun offline dapat mencegah timbulnya kasus radikal dan intoleran yang diajarkan oleh para dai atau penceramah yang memang kurang memiliki kualitas pemahaman keagamaan atau pemahamannya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu aktivitas keberagamaan yang beragam dapat berjalan dengan baik dan keharmonisan akan tetap terjaga. (*Penulis adalah pemerhati sosial keberagamaan, Alumni IAIN Ponorogo).

Ilustrasi: blokTuban.com

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: