54 views

Megengan: Sebuah Islamisasi Ritus Warisan Majapahit

MÊGÊNGAN: SEBUAH ISLAMISASI RITUS WARISAN MAJAPAHIT

Oleh: Nanang Rosyidi*

BROTONEGARAN–lingkungan tempat tinggal saya, setiap menjelang bulan Ramadhan–sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya–mengadakan tradisi makan-makan yang disertai dengan pembacaan doa-doa secara kolektif, ‘mêgêngan’. Masyarakat berdatangan di masjid atau langgar (mushala) setempat dengan membawa nasi berkat, buah-buahan atau berbagai jajanan pasar dari rumah masing-masing. Setelah semua warga berkumpul, pemimpin keagamaan setempat (kyai) memimpin doa-doa yang dilakukan secara bersama disusul dengan makan bersama dan sebagian diantaranya untuk dibawa pulang (berkat).

Tradisi ‘mêgêngan’ dapat dikatakan sebagai salah satu tipologi (corak) dari tradisi ‘slamêtan’ atau ‘kênduri’ yang didasarkan atas siklus waktu (penanggalan Jawa). Ricklefs berpendapat bahwa ‘slamêtan’ atau ‘kênduri’ merupakan salah satu ritual Jawa yang merepresentasikan solidaritas masyarakat pedesaan. Sementara Geertz mengatakan bahwa ‘slamêtan’ atau ‘kênduri’merupakan upacara keagamaan sekaligus pesta komunal sebagai simbol kesatuan mistik dan sosial masyarakat Jawa. Adapun ‘mêgêngan’ menurut Geertz berasal dari kata ‘pêgêng’ yang artinya ‘menyapih’; adalah rangkaian ‘slamêtan’ yang berpusat di sekitar puasa dan dimaksudkan untuk mendoakan orang tua yang sudah meninggal. Ritual ini dilakukan setelah orang Jawa pergi ke makam untuk berdo’a dan menyebarkan bunga di kuburan orang tuanya.

Tradisi seperti ini ternyata sudah ada sejak zaman Majapahit (1293–1500 M). Menurut catatan Nāgarakeṛtāgama (1365 M), Rājasanāgara atau Hayam Wuruk (1350–1389 M) mengadakan upacara śradḍā, yaitu ritual memperingati 12 tahun kematian neneknya, Śrī  Rājapātni (wafat 1350 M), atas perintah sang ibu Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, yang dilaksanakan pada bulan Bhadrapada (Agustus–September), tahun 1284 Saka (1362 M). Upacara tersebut dihadiri oleh empat penguasa daerah, yaitu, Bhre Paguhan (Singhawardhana), Bhre Matahun (Rājasawardhana), Bhre Wengker (Wijayarajāsa), dan Bhre Tumapel (Kṛtāwardhana). Hal ini sebagaimana tercatat dalam Kitab Nāgarakeṛtāgama yang telah dialihaksarakan oleh Pigeaud dalam karyanya ‘Java in The 14th Century’ berikut ini:

Pupuh 63

  • ājñā śrī nātha sang śrī tribhūwana wijayottuṅgadewī ….śradḍā śrī rājapātni wkasana gawayěn/ śrī narendreṅ kaḍatwan,
  • sidḍāniṅ kāryya ring śāka diwaśa maśiraḥ warṇna ring bhadramāsa,
  • sakweḥ śrī nātha rakwāwwata taḍah iriṅěn de para wṛdḍamantrī.
  • atas perintah Sang Rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi,
  • (supaya upacara) Srada Sri Rajapatni dilangsungkan di istana Sri Baginda
  • yang berlangsung pada tahun saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada,
  • semua pembesar dan wredda menteri (menteri yang dituakan) diharap memberikan sumbangan.

Pupuh 65

  • ṅkā ta śrī nṛpatin/ paṛng maṛk amuspa saha tathanaya dāra sādā,
  • milwang mantri apatiḥ gajamada makādinika paḍa masomahān maṛk,
  • mwang mantryākuwu ring pamiṅgir atawā para ratu sahaneng digantarā,
  • sāmpunyān/ paḍa bhakti amūrṣita paliṅgihan ikā tinitah yathākramā.
  • berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca,
  • kemudian para mantri dan patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatangan sembah, para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,
  • habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
  • śrī nātheng paguhan sirekhi rumuhun/ humaturakěn anindya bhojanā,
  • sang śrī handiwa-handiwa lwir i tapěl niran amawa dukūla len/ sěṛḥ,
  • śrī nātheng matawun tapělnira sitawṛṣabha hanam amiṇḍa nandinī,
  • yekāmětwakěn ārtha bhojana mijil/ saka ri tutuk apūrwwa tan/ pgat.
  • Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap,
  • bersusun-susun seperti pohon dan sirih yang bertutupkan kain sutera,
  • Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini,
  • yang terus-menerus memuntahkan harta dan makanan dari mulutnya.
  • sang śrī nātha ri wěṅkěr apněd awawān/ yaśa pathani taḍaḥnirāḍikā,
  • sarwwendaḥ racananya mūlya madulūr danawitaraṇa wartta ring sabhā,
  • śrī nātheṅ tumapěl tapělnira kaṅ endah araras aśarira kāmini,
  • kāpwā teki matuṅgalan/ dina sirān pawijil i kawicitraning manah.
  • Raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat,
  • disertai penyebaran harta yang serba indah di lantai balai besar berhambur-hamburan,

….

  • ndan naṅkěn dina salwiring tapěl asing lwih adika niwedya donikā,
  • mwang sang kṣatriya wanḍawa nṛpati mukya sira rinawěhān sasāmbhawā,
  • len saṅkeng wara bhojaneděriděr edran i sabala narendrā ring sabhā.
  • setiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi,
  • supaya para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya,
  • tidak terkecuali para ksatria, arya dan abdi di pura,
  • tak putusnya makanan sedap nyaman diberikan kepada bala tentara.

Di sisi lain, pada akhir Majaphit mulai berkembang kepercayaan Bhairawa Tantra–salah satu sekte sinkretisasi Syiwa-Buddha–dengan ritual ekstrimnya yang disebut dengan pañcamakara (lima laku suci). Moens dalam jurnalnya mencatat pañcamakara terdiri dari lima rangkaian ritual, diantaranya ‘maṃṣa’ (menyantap daging), ‘matṣa’ (menyantap ikan), ‘madya’ (meminum arak), ‘maiṭuna’ (bersenggama), dan ‘muḍra’ (bersemadhi). Pada kasta yang lebih tinggi, daging yang dimakan tidak hanya dari hewan tetapi juga dari manusia (kanibalisme) dan darah manusia sebagai pengganti arak. Manusia yang ‘dikorbankan’ (tumbal atau wadal) dalam rangka ritual tersebut tentu berasal dari rakyat bawah. Upacara atau ritual tersebut dilakukan dengan duduk membentuk lingkaran (cakra) di atas tanah suci yang disebut ksetra (yang terbesar di pusat kekuasaan dengan nama ksetralaya, sampai orang menyebutnya ‘Troloyo’).

Sampai pada Sunan Bonang (1465–1525?) melakukan upaya pendekatan asimilatif dengan menyisipkan corak Islam terhadap ritual pañcamakara dengan memodifikasinya yang ditandai dengan rakyat bawah–sebab mereka menghindar atau takut menjadi korban ‘tumbal’–duduk melingkari berbagai makanan di tengahnya bersama dengan pemimpin ritual dengan membacakan doa-doa (Islam) yang disebut sebagai cakraiswara atau cakrawati (pemimpin lingkaran cakra), sehingga Sunan Bonang dijuluki pula dengan sebutan Prabu Anyakrawati. Ritual yang diadaptasi dari pañcamakara ini kemudian dikenal dengan ‘slametan’, atau dalam arti selamat dari petaka ritual yang ‘meminta’ korban itu.

Istilah lain dari yang identik dengan slametan, tentunya kenduri yang berasal dari bahasa Persia (kanduri), yang menunjuk pada tradisi makan-makan di Persia untuk memperingati Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad Saw. Tradisi ini diperkirakan dibawa oleh Sunan Ampel (1401–1481?) yang mengakulturasikan tradisi Islam Champa untuk memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 dengan pembacaan doa-doa disertai makan-makan. Adanya kesamaan dengan upacara śradḍā atau memperingati 12 tahun kematian pemuka Majapahit membuat tradisi kenduri diterima di kalangan rakyat.

Adapun megengan itu sendiri yang merupakan bagian dari corak slametan atau kenduri sebagaimana tradisi keagamaan yang didasarkan pada siklus waktu yang lain, seperti Suran (Muharam), Muludan (Rabiul Awal), Rejeban (Rajab), atau Ba(k)dan (Syawal), dimaknai sebagai ‘tanda’ masuknya bulan Ramdhan, dimana umat Islam–tak terkecuali di Jawa–menunaikkan ibadah puasa. Megengan dalam konteks ini merefleksikan setidaknya dua hal yang berhubungan dengan dua ritual pra-Islam di Jawa (śradḍā dan pañcamakara). Pertama, megengan sebagai ingatan/memori kolektif atas kematian. Peringatannya di sekitar bulan Ramadhan–yang secara dogmatis ‘bulan suci’ pada ajaran Islam–dengan sebelumnya mendatangi atau menziarahi makam dari keluarga yang sudah meninggal yang tidak terlepas dari makan secara bersama-sama yang tampaknya mirip dengan upacara śradḍā seperti yang diungkapkan dalam Nāgarakṛtāgama yang diteruskan secara akulturatif pada tradisi kenduren. Kedua, megengan sebagai kesadaran kolektif-simbolis atas perlindungan sosial. Tujuannya untuk dikuatkan dan diselamatkan–melalui doa-doa–kepada Tuhan dari nafsu-nafsu atau bentuk kejahatan-kejahatan lahir-batin selama melaksanakan ibadah puasa dan secara umum seterusnya sebagaimana terlindungi dari ritual pañcamakara yang digantikan secara asimilatif pada tradisi slametan. (*Penulis adalah Pengurus PC ISNU Ponorogo Bidang seni dan Budaya. Kontal e-mail: naro_59@yhoo.co.id)

Ilustrasi gambar: 21 Ribu Apem Meriahkan Tradisi Megengan di Surabaya (https://jatimnet.com/21-ribu-apem-meriahkan-tradisi-megengan-di-surabaya)

Sumber:

Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: The University of Chicago Press, 1960).

M.C. Ricklefs, Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to early Nineteenth Century (Norwalk: EastBridge, 2006).

J.L. Moens, “Het Boeddhisme op Java en Sumatra in zijn Laatse Bloeiperiode”, Tijdschrift van de Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, no. 64 (1924).

Th. G. Th. Pigeaud, Java in The 14th Century: a Study in Cultural History. The Nāgara-Kĕrtāgama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D., vol. I (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1960).

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: