229 views

Masjid dan Pandemi

Masyarakat Muslim, Masjid dan Pandemi

Nur Rif’ah Hasaniy*
rifahhasaniy@gmail.com

Dalam beberapa bulan terakhir, umat manusia dihadapkan pada situasi yang porak poranda akibat berperang dengan virus Corona. Berbagai cara telah dilakukan oleh negara-negara terjangkit. Cara “ekstrim” dilakukan baik dengan membangun rumah sakit berkapasitas besar hanya dalam hitungan hari seperti China, hingga membuat kebijakan lockdown atau penguncian wilayah secara lokal maupun nasional seperti Italia, India, Inggris, Spanyol, dan laiinya.[1] Di Indonesia sendiri, pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya, mulai dari mengubah tempat-tempat tertentu, misalnya wisma atlet, sebagai lokasi karantina, kemudian menerbitkan PP dan Keppres tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, serta sosialisasi panduan beribadah di tengah pandemi oleh Kemenag dan MUI.

Sayangnya, pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi bencana medis-kesehatan saja, tetapi juga menyebabkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, misalnya pada aspek perekonomian, kebudayaan, sosial, bahkan ritual keagamaan.

Dalam konteks sosio-agama, umat Islam mengalami dampak yang luar biasa karena Islam ritual keagamaannya hampir selalu melibatkan perkumpulan banyak orang, atau disebut berjamaah. Dalam sholat misalnya, anjuran sholat berjamaah telah ditegaskan dalam hadis. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim “Sholatul-jamaa’ah afdhalu min sholaatil-fardli bisab’in wa i‘syriina darajat”.[2]

Islam dan umat muslim identik dengan masjid, karena ibadah umat muslim (dalam hal ini sholat) yang dilakukan secara berjamaah dengan banyak orang biasanya dilakukan di masjid. Menurut Syamsul Kurniawan, sejak zaman Nabi Muhammad masjid memiliki nilai sosial, ekonomi, dan moral yang tinggi.

Fungsi masjid tidak hanya terbatas sebagai tempat sholat saja, masjid secara multifungsi juga digunakan untuk menyambut tamu istimewa, mengadili perkara, melangsungkan pernikahan, bahkan layanan sosial dan medis. Selain itu, masjid juga dianggap sebagai fasilitas umat dalam mencapai kemajuan peradaban, karena ketika hijrah ke Madinah, langkah pertama yang dilakukan Rasullah SAW. adalah mengajak umat muslim membangun masjid.[3]

Tentu saja hubungan umat muslim dengan masjid tersebut perlu dikontekstualisasikan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi yang tengah kita alami saat ini. Untuk itu, sebagaimana himbauan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama agar selama pandemi masyarakat melakukan ibadah di rumah masing-masin saja, umat Islam seharusnya memikir ulang tradisi ritual keagamaan yang mengundang banyak orang itu. Sebab, keputusan tersebut diambil guna mengurangi penularan Covid-19. Ihtiyar untuk tetap berada di rumah saat Indonesia masih berstatus darurat Corona perlu dipahami dan dipatuhi oleh setiap elemen masyarakat.

Namun sayangnya, berbagai keputusan pemerintah dalam pencegahan penyebaran Covid-19 tadi tidak diindahkan oleh sebagian masyarakat. Seperti yang terjadi beberapa pekan lalu disebuah Masjid di Kelurahan Maphar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Pusat.  Seratus tujuh delapan jamaah dikarantina didalam masjid setelah 3 orang jamaah teridentifikasi positif Covid-19.[4] Berita terbaru, 6 orang jamaah tarawih di Sidoarjo melalui rapid tes dinyatakan reaktif virus Corona dan saat ini sedang dipastikan hasilnya melalui swab di laboratorium.[5] Data ini menunjukkan bahwa masyarakat masih minim kesadaran akan pentingnya menjaga jarak dan tidak berkumpul dengan banyak orang. Bahkan sempat juga beredar klaim-klaim musyrik dan kafir jika kita masih takut pada Corona. Jadi sebenarnya, mengapa ditengah pandemi umat muslim dianjurkan untuk tidak melaksanakan ibadah di masjid?

Tulisan ini bermaksud memberikan argument, mengapa di tengah pandemi Covid-19 sebaiknya kegiatan beribadah secara berjamaah di masjid ditiadakan untuk sementara waktu, dan digantikan dengan berjamaah secara mandiri di rumah saja bersama keluarga. Sebab, ritual keagamaan tidak hanya sebatas mengajarkan umat Islam untuk berhubungan baik dengan Tuhan, tetapi juga dengan masyarakat. Dengan kata lain, umat Islam seharusnya memadukan kesalehan individual dengan kesalehan sosial.[6]

Menurut Fauzan shaleh, kesalehan individu dapat diraih melalui ibadah manusia kepada Tuhan. Ketika manusia beribadah, ia akan memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Sehingga, seharusnya hubungan baik dengan Tuhan ini meniscayakan sikap baik terhadap sesama makhluk dalam dirinya. Nyatanya, sering sekali kita temui umat-umat muslim yang acuh terhadap realitas sosial, padahal disisi lain mereka tampil dalam orasi-orasi yang mengatasnamakan Tuhan. Dengan konsep ini, penulis berharap dapat memberikan opini yang kuat dalam menjawab persoalan antara masyarakat muslim, masjid dan pandemic ditengah beredarnya klaim musyrik bagi warga yang mengikuti himbauan pemerintah untuk beribadah dari rumah.

Sebagai Negara dengan mayoritas umat muslim, tentu wajar jika banyak pro-kontra terhadap himbauan pemerintah agar masyarakat melakukan ibadah di rumah saja. Meskipun telah terhitung selama kurang lebih satu bulan, banyak masyarakat yang cenderung abai dan tidak peduli akan himbauan tersebut. Tempat umum, terutama yang kita bahas dalam hal ini adalah masjid, masih ramai oleh perkumpulan orang, baik diwilayah zona hijau maupun zona merah.    Beberapa waktu lalu bahkan, muncul ujaran-ujaran profokatif untuk tidak mengikuti anjuran pemerintah dan tetap beribadah di masjid. Mereka bilang, orang-orang musyrik lah yang takut terhadap Corona, karena hanya Allah semata yang berhak ditakuti. Mereka menuduh pemerintah dan yang ormas lain yang mendukung himbauannya sebagai antek komunis yang hendak menghancurkan islam.

Mengutip Fauzan Shaleh, perilaku keagamaan seseorang seharusnya mencerminkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Mengapa demikian? Karena doktrin agama bermula dari keyakinan dirinya akan adanya Tuhan. Dan Tuhan memerintahkan umatnya agar berperilaku sesuai dengan doktrin yang diyakininya. Sehingga, penganut agama seharusnya dapat merefleksikan hubungan spiritual yang baik dengan Tuhan, sekaligus perilaku baik manusia tersebut terhadap sesamanya beserta alam dan seisinya. Hal ini tercermin dalam sistimatika kajian fiqih misalnya, bab awal yang dikaji adalah mengenai ibadah barulah kemudian pembahasan mengenai muamalat. Artinya, ketika manusia mampu membangun hubungan baik dengan Tuhan, niscaya dirinya akan mampu bersikap baik pula terhadap sesama. Pemikiran ini selaras dengan yang ditulis oleh Mustofa Bisri, menurutnya manusia mencapai tahap kesalehan total jika ia berperilaku hablum minallah, hablum minannas, wa hablum minalalam.[7]

Dalam konteks masyarakat muslim, masjid dan corona, kesalehan individu tercermin dalam semangat spiritual masyarakat yang tetap ingin menjalankan ibadah berjamaah di masjid. Mereka berlomba-lomba menunjukkan semangatnya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, ditengah pandemic Corona, semangat beribadah tersebut tidaklah mencerminkan kesalehan sosial. Mengapa demikian?

Mengutip Aksin Wijaya, kelompok kontra pemerintah ini tidak memahami kaidah-kaidah ijtihadiyah dalam ushul fiqh, seperti dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalb al mashalih, menghindari kerusakan lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat atau kemaslahatan), selain itu ada pula kaidah yang berbunyi la darara wa la dirar (dilarang membuat kemudlaratan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain).

Shalat yang dilakukan berjamaah di masjid adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun, pada masa pandemi upaya tersebut justru membawa kemudlaratan bagi diri sendiri dan orang lain.[8] Oleh karenanya, imbangilah kesalehan individu yang kita bangun, dengan kesalehan sosial demi menyelamatkan kita semua dari kemudlaratan. Karena sesungguhnya, setiap muslim akan tetap muslim meski tidak harus berjamaah di masjid.

*****

Demi mencapai kesalehan total, umat muslim haruslah mengimbangi kesalehan individu dengan kesalehan sosial, tidak hanya membangun hubungan baik dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga membangun hubungan baik dengan sesama (hablum minannas). Salah satunya ialah dengan mencegah kemudlaratan yang dapat menimpa diri sendiri serta orang lain. Ditengah pandemic Corona, kesalehan individu dan sosial dapat kita raih sekaligus dengan melaksakan ibadah berjamaah bersama keluarga di rumah saja. Tetap beribadah sekaligus tetap menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. (Penulis adalah Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Prodi Sosiologi Agama)


[1] Achmad Naufal. Update 23 Negara Berlakukan Lockdown Guna Hentikan Penyebaran Virus Corona. Dalam https://www.kompas.com 30 Maret 2020. Diakses pada 9 Mei 2020.

[2] Abd. Rahman. Hikmah Shalat Berjamaah dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tematik). 2017. Dalam Skripsi: UIN Sunan Ampel Surabaya.

[3] Syamsul Kurniawan. Masjid dalam Lintasan Sejarah Umat Islam. Dalam Jurnal Katulistiwa-Journal of Islamic Studies, Vol 4 Nomor 2, September 2014

[4] Reza Sulaiman. 3 Jamaah Positif Covid 19 Di Masjid Taman Sari Karantina Ratusan ODP. Dalam Https://Www.Suara.Com/News/2020/03/27/233014/3-Jamaah-Positif-Covid-19-Masjid-Di-Taman-Sari-Karantina-Ratusan-Odp. Diakses Pada 9 Mei 2020.

[5] Ronald. 6 jemaah shalat taraweh di sidoarjo terindikasi terinfeksi virus corona. Dalam https://liputan6.com. Diakses pada 9 mei 2020.

[6] Diambil dari esai Dr. Fauzan Shaleh. Membangun keshalehan individual dan sosial untuk kesejahteraan yang humanis. Dalam Agama sebagai kritik sosial ditengah arus kapitalisme global. 2006. Yogyakarta: Ircisod.

[7] Mustofa Bisri. Kesalehan Total. Dalam Pesan Islam sehari-hari; Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. 2018. Jakarta Selatan: Laksana.

[8] Aksin Wijaya. Argumen Relasi Agama dan Sains: Menggali Inspirasi dari Kasus Corona. Dalam https://nyabtu.com. Diakses pada 9 Mei 2020

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: