219 views

Literasi Kesarjanaan NU

Arah Perjuangan Literasi Kesarjanaan NU

ISNU adalah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Badan Otonom (Banom) NU termuda, tetapi mempunyai cita besar, yakni menghimpun sarjana NU dengan berbagai latar belakang dan profesi. Geliat itu terlihat dengan dengan kehadiran organisasi kepengurusan ISNU dari tingkat pusat (PP), wilayah (PW), cabang (PC), hingga anak cabang (PAC).

Dengan hirarki kepengurusan ini, ISNU bermaksud mengaktualisasi potensi kesarjanaan NU vis a vis problem sosial-kemasyarakatan dan kebangsaan.
Berbagai problem yang tampak nyata mengancam sendi-sendi kehidupan di antaranya adalah berbagai kasus kekerasan, intoleransi, puritanisme keagamaan, terorisme, narkoba, korupsi, penyimpangan seksual, dan kejahatan digital. Hal ini selaras dengan indeks pembangunan manusia Indonesia yang masih pada peringkat 113 dari 188 negara (Panduan GLN: 2017).

Berbagai problem sebagaimana tersebut titik sumbunya adalah rapuhnya literasi pada sebagian masyarakat kita. Literasi yang dimaksud tentu tidak sekedar keaksaraan baca-tulis, tetapi kemampuan memanfaatkan segenap potensi dan skill untuk kemaslahatan hidup. Gerakan literasi nasional mengklasifikasi dimensi literasi menjadi 7 macam: literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Klasifikasi ini menegaskan bahwa literasi mempunyai spektrum yang luas. Luasnya spektrum menunutut keterlibatan semua stakeholders sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.


Arah Perjuangan Literasi
ISNU sebagai organisasi kesarjanaan tentu meneguhkan arah perjuangannya pada gerakan literasi dengan melakukan kerjasama dan sinergi dengan pihak intenal NU maupun eksternal. M. Mas’ud Said, Ketua PW ISNU Jawa Timur, menegaskan sebagai berikut:

Agar ISNU dapat dikatakan sebagai organisasi para sarjana yang sungguh-sungguh, maka ciri anggota ISNU adalah menulis, meneliti dan menguatkan bidang literasi di bidang yang ia geluti. Maka dapat dikatakan ISNU itu ya literasi itu sendiri” (www.isnujatim.org)

Dari pernyataan di atas bisa dipahami, sesungguhnya literasi bukan gerakan yang bersifat elitis, jika ditilik dari realitas bahwa tidak setiap sarjana mau dan mampu menulis. Alasannya, petama, karena literasi bermakna luas dari sekedar baca-tulis sebagaimana dipaparkan pada paragraf sebelumnya. Kedua, literasi sebagai gerakan membutuhkan uluran tangan dengan skill yang beragam.

Kembali pada pentingnya literasi sebagai aras perjuangan ISNU dapat diargumentasikan sebagai berikut: Pertama, ISNU/NU adalah kekuatan civil society yang menuntut peran-peran yang solutif bagi problematika sosio-budaya, sosio-ekonomi dan sosio-politik. Kekuatan civil society yang bersinergi dengan Pemerintah adalah keniscayaan dalam konteks sistem demokrasi. ISNU dan NU sebagai kekuatan civil society adalah sumbangsih bagi bangsa dan negara. Kekuatan civil society NU terlihat jika organisasi ini mampu melahirkan gerakan sosial kolektif sebagai respon terhadap problematika kekinian masyarakat, bangsa dan negara. Tidak bisa dipungkiri, NU selalu terlibat dengan sejarah keindonesiaan, akan tetapi keterlibatan dan peran NU terhadap kepentingan bangsa dan negara harus selalu dikontekstualisasikan. Kontekstualisasi tersebut di antaranya mengarah pada gerakan literasi di tengah tidak menentunya situasi zaman akibat revolusi digital.


Kedua, gerakan literasi ISNU adalah upaya untuk mewujudkan “intelektual organik” para sarjana NU. Kaum intelektual organik adalah mereka para sarjana yang tidak berada di “menara gading” yang melakukan baca-tulis-bicara untuk kepentingan ilmu semata (science for science), tetapi bermaksud melakukan perubahan berdasar pengetahuannya tersebut, yakni how to change dan tidak sekedar how to know. Gerakan literasi sendiri pada dasarnya lebih bersifat induktif-empirik untuk merespon kerapuhan fondasi literasi masyarakat yang berakibat pada munculnya berbagai penyakit sosial-kemasyarakatan. Gerakan literasi juga bermaksud mengartikulasikan secara emansipatoris aspirasi dan kepentingan masyarakat yang sering kali tersumbat oleh struktur politik dan birokrasi yang hegemonik.


Ketiga, tidak bisa dipungkiri bahwa NU adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. NU jama’ah jauh lebih besar dari NU jam’iyyah. Ketika indeks pembangunan SDM belum pada tarap yang menggembirakan, maka sebagian besar dari mereka adalah warga NU. Gerakan literasi ISNU pada dasarnya adalah kesadaran internal untuk maju dengan strategi dan pola yang tidak dipaksakan dari pihak eksternal. Dalam konsep ISNU, “menjadi maju” tidak identik dengan meninggalkan tradisi dan nilai budaya. Slogan kuat di masyarakat NU adalah al-muhafazah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah. Karenanya gerakan literasi pada dasarnya adalah upaya mengawinkan tradisi (turast) dengan perkembangan zaman.


Keempat, gerakan literasi ISNU bisa dimaknai sebagai upaya melawan gerakan “demoralisasi khittah NU” oleh pihak-pihak yang memanfaatkan basis massa NU untuk kepentingan politik praktis. Gerakan literasi adalah penyadaran dan pencerahan tentang pentingnya civil society (masyarakat sipil) yang berdaya vis a vis politik praktis yang pragmatis dan kekuasaan yang hegemonik. Literasi menyadarkan kemajemukan aspirasi politik warga NU. NU adalah tempat berlabuh bagi semua warganya yang meniscayakan jauh dari tarikan-tarikan politik praktis. Gerakan literasi ISNU adalah bentuk gerakan politik kerakyatan yang tentu berbeda dengan politik kekuasaan. Sementara politik kekuasaan sering kali melakukan politisasi agama dan agamaisasi politik, politik kerakyatan memakai bahasa kemanusiaan untuk menyapa mereka yang terpinggirkan (marginal). Inilah ruh agama yang menjadi basis gerakan literasi.


Kelima, gerakan literasi ISNU adalah respon terhadap gelombang puritanisme keberagamaan. Puritanisme secara massif mendogmakan paham absolutisme, dengan memutlakkan negara khilafah sebagai yang otentik Islam. Maka, gerakan literasi ISNU adalah counter wacana terhadap wacana keberagamaan kaum puritan. Dalam konteks ini gerakan literasi keberagamaan adalah niscaya. Gerakan literasi keberagamaan bertujuan memberikan pengetahuan, pemahaman, penyadaran, dan pemaknaan keagamaan yang benar, tidak semata ideologis. Literasi keagamaan mengaitkan secara interaktif antara teks dan konteks. Wacana “kelompok hijrah” yang melihat agama dan budaya sebagai entitas yang tidak bisa didialektikan dan dipertemukan harus dicounter dengan wacana dan konsep Islam nusantara serta pribumisasi Islam, tentu dengan bahasa dan cara yang mudah dipahami oleh masyarakat milinial.

Argumentasi gerakan literasi kesarjanaan NU di atas hanya bisa dicapai dengan komitmen dan kerja sama dengan berbagai stakeholders. ISNU sebagai Badan Otonom (Banom) termuda NU sedang dinanti kiprahnya untuk membuktikan dirinya sebagai “is NU”, meminjam istilah Muhammad Nuh. “is NU” adalah penggambaran ISNU sebagai kelompok intelektual yang bisa mewarnai NU dan mengawal Islam rahmatan li al-alamin. Semoga.!
(Abid Rohmanu, Ketua PC ISNU Ponorogo)

Sumber ilustrasi gambar: NU Online

Tulisan pernah dimuat di Harian Ponorogo Post, 19 Januari 2019 dengan beberapa modifikasi.

Abid Rohmanu
Latest posts by Abid Rohmanu (see all)
Abid Rohmanu

Abid Rohmanu

Dosen IAIN Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: