473 views

Launching dan Bedah Buku PC ISNU Ponorogo

Literasi dan Pengarusutamaan Kesadaran Otentik

PC ISNU Ponorogo (28/03/2021) menyelengarakan Launching dan Bedah Buku. Launching dan Bedah buku ini merupakan rangkaian Harlah NU ke-98 yang dimotori oleh PCNU Ponorogo. Hadir pada acara tersebut Jajaran PCNU Ponorogo (Drs. Fathul Aziz, MA. dan Dr. H. Luthfi Hadi A.), Narasumber Pembedah (Akhol Firdaus, Direktur Institute of Javanese Islam Research dan Dosen IAIN Tulungagung), para Penulis Buku, beberapa utusan Lajnah dan Banom di lingkungan PCNU Ponorogo, dan peserta umum.

Dua Narasumber bersama Moderator

Dua buku yang dibedah adalah pertama, “Nalar Kritis Keberagamaan: Menguatkan Ruh dan Hakikat Agama” (ditulis oleh Abid Rohmanu, Aksin Wijaya, Lukman Santoso Az, Murdianto An Nawie, Sutejo) dan kedua “Berislam dengan Kemanusiaan: Telaah Teologis, Filosofis, dan Sosiologis Keindonesiaan” (Karya Aksin Wijaya, Nur Rif’ah Hasany, Tati Nur Pebiyanti).

Dua buku di atas adalah kompilasi tulisan populer dari berbagai media online, terutama nyabtu.com, Portal Media PC ISNU Ponorogo. Beragam tulisan diseleksi dan dirajut dalam makna perjuangan literasi profetik-emansipatoris. Literasi dalam kedua buku dikembangkan dan diluaskan pemaknaannya menjangkau berbagai persoalan sosial keagamaan. Walaupun begitu literasi dalam makna baca-tulis adalah poros literasi.

Salam literasi dari PC ISNU Ponorogo

Drs. Fathul Aziz dalam sambutannya mengapresiasi penulisan dan penerbitan buku PC ISNU Ponorogo. Dalam sejarah ke-NU-an, tegas Fathul Aziz, sayap intelektual/ilmuwan (Taswir al-Afkar) dalam NU adalah bagian dari pilar-pilar penting NU. Pilar ini bersinergi dengan pilar keulamaan dan kepengusahaan (Nahdlah al-Tujjar). Tiga sayap penting NU ini perlu untuk terus disinergikan dan dikembangkan sesuai dengan konteks zaman.

Akhol Firdaus, narasumber utama bedah buku, menilai buku “Nalar Kritis Keberagamaan: Menguatkan Ruh dan Hakikat Agama” lebih bercorak revisionis dan “kiri” (Marxian). Ini terlihat dari pilihan kata dan subtansi buku yang hendak menggugah dan mentransformasi kesadaran. Subtansi ini menurut Akhol menjadikan buku ini layak disebut sebagai buku literasi yang bersifat paradigmatis.

Penyerahan Buku dari PC ISNU ke PCNU

Kesadaran manusia kontemporer, menurut Akhol, sesungguhnya bersifat semu. Manusia mengalami alienasi karena didikte oleh budaya dominan kapitalisme dan perkembangan new media yang disruptif. Hasilnya adalah masyarakat sekuler atau justru sebaliknya masyarakat religious yang cenderung bersifat puris dalam beragama. Ini karena agama telah menjadi komoditas yang dikontrol oleh kekuatan global yang mewujud dalam bungkus kebudayaan yang nir-kesadaran.

Fenomena tak berkesadaran akhirnya terjadi secara masif. Kesadaran masyarakat kontemporer ibarat “camera obscura” bersifat terbalik, yakni terjadi kesadaran yang terjungkil balik. Akibatnya, masyarakat dengan kesadaran semu tak mampu membedakan mana subtansi dan mana bentuk, mana agama dan mana pemikiran keagaman, mana yang bersifat absolut dan mana yang relatif. Akibatnya, nyaris tak ada pegangan dan mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan propaganda.

Suasana Diskusi dengan Narasumber

Dalam konteks di atas lah, makna penting buku terpotret secara apik. Wujudnya, pengarusutamaaan wacana diskursif-praksis dalam bentuk literasi. Literasi yang bersifat profetik, bentuknya adalah pembebasan dan transformasi untuk mewujudkan kesadaran dan perilaku keberagamaan yang toleran dan inklusif. Literasi adalah pembebasan, pembebasan dari kesadaran palsu yang menjerat. Literasi adalah mengembalikan manusia pada kesadaran otentik. Tujuannya menjadikan pribadi yang bisa bernegosiasi secara kreatif dengan kebudayaan modern, bukan terhegemoni, termasuk dalam bentuk perselingkuhannya dengan puritanisme keberagamaan.

Di antara spirit literasi adalah dakwah moderasi keberagamaan. Moderasi beragama seharusnya bukan semata perpanjangan negara, tetapi bagaimana moderasi menjadi spirit yang menghujam pada civil society. Karenanya moderasi tak seharusnya menjadi komoditas politik yang bersifat temporer, tetapi harus merupakan bagian dari jalan peradaban yang berbasis pada kesadaran. Moderasi bukan pelembagaan yang bersifat formal yang berbasis pada kewajiban. Banner moderasi dengan sponsor negara pantas untuk dicurigai tatkala itu semata sebagai praktik dan bias kepentingan politik jangka pendek.

Suasana Pembukaan Acara

Di sinilah pentingnya NU sebagai civil society terus bergerak dengan literasi moderasi yang berkesadaran. Literasi bukan sekedar menyusun kalimat, literasi adalah misi suci, misi profetik. Tujuannya adalah membangun kesadaran yang otentik yang sanggup bernegosiasi dengan budaya modern. Literasi adalah upaya mengembalikan agama pada misi awalnya yang emansipatoris. Literasi bahkan bukan semata tulis-menulis. Literasi, tegas Akhol, adalah pengarusutamaan kesadaran, termasuk kesadaran untuk terus memelihara hakikat dan ruh agama dalam berbagai jejaring media sebagaimana dipesankan oleh buku.

Di akhir acara bedah buku, PC ISNU Ponorogo membagikan 40 buku dalam berbagai judul. Di antaranya adalah buku baru nan tebal Jejak Sejarah NU Ponorogo dan buku-buku lain yang ditulis oleh para Sarjana NU Ponorogo. Semuanya adalah bagian dari upaya mengampanyekan tradisi baca-tulis kepada para generasi muda NU. (Pewarta: Abid Rohmanu).

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: