749 views

Kultum: Ramadan yang Kurindukan

Kultum: Ramadan yang Kurindukan Jangan Tersia-siakan

Oleh: Ahmad Baihaqi*

Situasi Ramadan 1441 H kali ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Ramadan ini bersamaan dengan pandemi Corona. Meski demikian, umat Islam diperintahkan agar selalu bersabar. Sesuai ajaran Rasulullah, marilah kita beribadah di bulan Ramadan dengan imanan wahtisaban, agar kita meraih ridla Allah dan memperoleh pengampunan dosa dari-Nya. Umat manusia dihimbau melakukan ibadah puasa dengan iman yang kokoh dan niat semata-mata karena Allah. 

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan iimaanan wahtisaaban…”

Sabda Rasulullah di atas menyatakan prasyarat penting puasa sehingga ibadah ini sampai pada tujuannya, yakni ampunan Allah. Pertama, prasyarat keimanan. Ini artinya meyakini bahwa Allah lah yang telah mensyariatkan puasa dan karenanya harapan pahala puasa hanya dari sisi Allah. Ini sebagaimana hadis lain yang menyatakan bahwa puasa adalah ibadah sirr (rahasia) dan Allah sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Menarik untuk mencermati arti kata imanan dalam hadis di atas. Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari bahwa kata imanan berarti meyakini bahwa puasa di bulan suci Ramadan adalah perintah Allah yang wajib untuk dilaksanakan.

Kedua, prasyarat ihtisaban. Kata ihtisaban tercatat dalam kitab penjelasan Shahih al-Bukhari. Kata ini masih satu timbangan (se-wazan) dengan kata “iftitahan” artinya pembuka. Jadi ihtisaban bermakna perhitungan. Pengharapan perhitungan dari Allah semata, tidak dari yang lain yang bersifa fana. Semua ini adalah pembuka rahmat dan ampunan Allah. Dengan rahmat dan ampunan-Nya kemenangan pada hari Raya Idul Fitri akan diperoleh secara hakiki.

***

Kita sekarang sudah berada di separo akhir perjalanan Ramadan. Perjalanan Ramadan terlalu cepat, apalagi di separo akhir. Bulan Ramadan yang penuh berkah ini akan segera beranjak pergi; bulan penuh rahmat dan ampunan ini tak lama lagi kan berganti; menyisakan perih dan harapan yang belum pasti; selain prasangka baik kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih; semoga dosa-dosa terampuni.

Seiring berlalunya Ramadan nanti, sudahkah diri kita yang berlumur dosa memanfaatkan bulan mulia ini? Tentu kita tidak ingin menjadi golongan yangg tak pernah menyesali dosa, tak juga juga bertekad meninggalkannya. Padahal janji Allah di bulan yang berkah ini akan meluberkan rahmat dan ampunan-Nya. Untaian kalam-kalam normatif di bawah ini penting untuk memberikan motivasi beribadah dalam bulan Ramadan:

فبئس القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان

Sungguh jelek suatu kaum yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/140]

Apabila teringat diri yang malas beribadah, tapi mengharap lebih di bulan berkah, ingatlah doa Malaikat Jibril yang mustajabah, dan diaminkan oleh Rasul yang mulia:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan, tetapi sampai Ramadan berakhir, ia belum juga diampuni.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahih Al-Adabil Mufrod: 501]

Terutama di bagian akhir yang tersisa, sepuluh malam yang paling indah, ada malam yang penuh berkah, raihlah dengan sholat malam berjama’ah.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa sholat malam ketika lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Rasulullah sang panutan pun memberikan teladan, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang; telah dianugerahi ampunan, dari Allah yang Maha Penyayang,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan melebihi waktu yang lainnya.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadan maka beliau mengencangkan sarungnya (tidak berhubungan suami istri dan mengurangi makan dan minum), menghidupkan malamnya (dengan memperbanyak ibadah) dan membangun keluarganya (untuk ibadah).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Inilah petunjuk Rasul SAW di sepuluh hari yang tersisa, beliau beri’tikaf agar lebih fokus dan lebih giat dalam beribadah kepada Allah ta’ala, memutuskan diri dengan aktifitas dunia, dan mengurangi interaksi dengan manusia.

فمعنى الاعتكاف وحقيقته: قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق

“Makna i’tikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (beribadah secara totalitas) kepada Al-Khaliq.” [Lathaiful Maarif, Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah, hal. 191]

Sungguh jauh berbeda dengan orang-orang yang sudah melupakan masjid-masjid untuk beralih ke pasar-pasar, mal-mal dan jalan-jalan, demi baju baru lebaran, mereka lupa kain kafan, demi berbagai macam makanan di hari raya, mereka lupa tuk membebaskan diri dari api neraka.

***

Masih ada harapan di akhir Ramadan, untuk menyesali segala kekurangan, berbenah diri menggapai ampunan, jadikan yang terbaik sebagai penutupan,

عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إلا القليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

“Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadan telah bertekad untuk pergi, dan tidak tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan, dan siapa yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menutupnya dengan yang lebih baik.” [Lathooiful Ma’arif, Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah, hal. 216]

Hingga tak tersisa lagi selain air mata penyesalan dan renungan perpisahan, bersama doa dan harapan, semoga berjumpa lagi di masa yang akan datang.

كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع

“Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes tatkala berpisah dengan Ramadan, Sedang ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan Islam dan Wakil Ketua PC ISNU Ponorogo)

Sumber gambar: Merdeka.com

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: