580 views

Kontra-Radikalisme via Rekonstruksi Aswaja

PERJUANGAN KH. ABDUL KARIM JOYODIPURO KONTRA RADIKALISME MELALUI REKONTRUKSI ASWAJA

Oleh: Abu Muslim

Dari Ide Aswaja Hingga Praksis Wacana

Perjuangan merupakan usaha untuk berkontribusi dengan usaha keras untuk meraih sesuatu yang hendak dicapai atau diinginkan. Pada umumnya perjuangan bisa dengan fisik seperti mengangkat senjata melawan penjajah atau menggunakan kekuatan militer dan perjuangan dengan melalui nonfisik seperti sumbangan pemikiran, usaha diplomasi dan lainnya.

Usaha perjuangan nonfisik dengan jalur pemikiran dapat disalurkan dengan wacana-wacana yang bersifat mengajak pada satu pemikiran yang sama. Wacana yang digulirkan sering kali mengandung pesan berbentuk persuasif bertujuan untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku orang lain secara langsung melalui lisan maupun tidak langsung. Tak pelak, dalam penggguliran wacana acap kali mellibatkan pertarungan wacana untuk merebutkan sebuah pandangan atau lainnya.

Seperti yang diungkapkan KH. Abdul Karim Joyodipuro Aswaja bukan sebagai mazhab tetapi sebagai manhajul fikr atau sebuah paham atau cara berfikir. Dalam bukunya “Rekontruksi Aswaja Sebagai Pilar Masa Depan Bangsa” Rais Syuriah PCNU Magetan 2002/2007 tersebut Aswaja sebagai manhajul fikr ialah sebuah upaya untuk bersikap adaptif sesuai situasi dan kondisi.

Menurutnya untuk menghadapi dinamika kehidupan memerlukan sebuah metode berfikir yang dinamis. Tentunya menghadapi perubahan zaman selalu mendasarkan pada paradigma dan prinsip al shalih wa al ashlah dan qaidah al muhafadhoh ala qadim al sholih wa al akhdzu bi al jadid alashlah.

Artinya menyamakan langkah sesuai dengan kondisi dan situasi terkini dan yang akan datang dalam berbagai implementasi di berbagai sektor kehidupan seperti aqidah, syariah, akhlaq, sosial budaya, ekonomi, polotik, pendidikan dan sektor-sektor lainnya.

Melihat wacana yang dilontarkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Singo Wali Songo tersebut dapat didasarkan pada pendapat sebagaimana yang dikatakan oleh Hands George Gadamer seorang filsuf Jerman bahwa suatu pemikiran tidak terlepas dari konteks di mana penggagas hidup.

Hal ini menandakan bahwa suatu pemikiran tidak berdiri sendiri atau berangkat dari ruang kosong. Namun pemikiran itu muncul karena berbagai faktor atau karena adanya motif konteks yang melatarbelakangi.

Memang, melihat konteks pada saat itu, indonesia sedang mengalami disintegrasi akibat sebagian aliran Islam ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Mereka menggunakan platform yang sama mengklaim bahwa sebagai pelaku sunnah nabi dan menyebut diri mereka sebagai Aswaja.

Seperti yang dikatakan Ali Maschan Moesa bahwa sebagian kelompok Islam dengan mengatasnamakan dirinya Islam tetapi mereka melakukan berlaku keras dan menyimpang dari sebagaimana hakikat ber Aswaja. Mereka dalam pelaksanaan sunah nabi dengan cara tekstual atau jumud, kaku, eksklusif bahkan bersikap ektrim. Padahal yang selama ini kita yakini bahwa Aswaja berprinsip pada tawasuh, tawazun, ta’adul dan tasamuh yang mengantarkan pada sikap menghargai, menghormati keberagaman dan tidak terkubang pada paradigma yang konservatif maupun yang liberal.

Ditengah Kontentasi Wacana Aswaja

Melihat konteks, momen pada saat itu umat Islam sedang berada dalam suasana perang ideologi. Hampir setiap saat terjadi pernggerogotan umat Islam, terutama dari kalangan konservatif Islam. Beberapa kelompok menyatakan diri  mereka di khalayak publik bahwa mereka merupakan bagian dari Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Cara tersebut untuk meraih simapti dan mendapatkan pendukung dari berbagai umat Islam lainnya. Misalnya saja kasus di Pakistan pemerintah setempat melarang adanya gerakan Ahlussunnah wal Jamaah. Ternyata yang dimaksud di negara ini ialah aliran Wahabi. Sementara itu, di Indonesia juga tedapat Ja’far Umar Tholib dan Abu Bakar Ba’asyir yang juga mengaku dirinya sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Begitu juga pada waktu boomingnya Laskar Jihad, mereka juga mengklaim sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga hal ini memunculkan anggapan bahwa Aswaja maka orang Nahdlatul Ulama  juga  masuk ke situ. Padahal mereka itu berbeda dengan aswaja yang menjadi keyakinan NU,  ternyata mereka adalah Salafi Wahabi.

Gagasan Aswaja sebagai manhajul fikr KH. Abdul Karim Joyodipuro pada waktu itu tidak luput dengan usaha kelompok Islam politik dalam menegakkan syariah di Indonesia. Usaha mereka berupaya sebagai menperhadapkan Islam dengan Pancasila. Sebab Pancasila dianggap sebagai sebuah ideologi yang menghalangi penerapan syariah karena mayoritas Islam.

Melihat situasi politik Indonesia pada saat itu, praktik wacana Aswaja sebagai manhajul fikr KH. Abdul Karim Joyodipuro tersebut tidak terlepas dari pengaruh institusional KH. Abdul Karim Joyodipuro maupun dari pihak pemerintah. KH. Abdul Karim Joyodipuro selaku Rais Syuriah PCNU Magetan memiliki hubungan erat dengan pemerintah.

Organisasi ini bertujuan untuk menggalang gerakan anti fundamentalis, konsevatif, kaku, jumud sekaligus untuk menyebarkan paradigma Aswaja yang sejatinya toleran dan inklusif.

Serangkaian peristiwa tersebut, praktik wacana praktik wacana Aswaja sebagai manhajul fikr KH. Abdul Karim Joyodipuro ditujukan untuk memberikan kesan dan emosi negatif terhadap kelompok Islam mengkalim dirinya sebagai Aswaja namun berwatak keras dan menyimpang.

Cara tersebut sekaligus untuk menampilkan dan menggambarkan perjuangan kelompok konservatif sebagai gerakan teror yang mengancam stabilitas negara. Wacana yang digunakan KH. Abdul Karim Joyodipuro untuk memberikan stigma negatif pada sikap kelompok konservatif tersebut.

Implikasi Intelektual : Dari Santri hingga Intitusi

Antonio Gramsci mengatakan bahwa sebuah pengetahuan atau ideologi atas keyakinan baru yang dimasukkan secara terselubung melalui pembiasaan maupun pemaksaan (doktrinasi) ke dalam atsmofir kesadaran masif telah memunculkan kesadaran yang relatif baru.

Begitu juga dengan dinamika pemikiran Islam di Indonesia masa yang tengah berlangsung sekarang, jelas mempunyai keterkaitan dengan intelektualisme yang tumbuh dalam masa-masa sebelumnya, yang terjadi sebuah transformasi atau pertukaran pengetahuan secara kontinuitas dan sekaligus membawa perubahan.

Dalam hal ini spserti dapat dilihat dari subyek dan tema yang menjadi wacana para penerus pemikiran KH. Abdul Karim Joyodipuro. manhajul fikr menjadi landasan untuk membangun stabilitas nasional dimasa itu. Pemikiranya tersebut menjadi penting bagi pengungusung pemikirannya untuk menumbuhkan penebar toleransi antar keragaman agama di Indonesia.

Kehadiran KH. Abdul Karim Joyodipuro sejak awal pemikirannya memang memilki pengaruh di tengah arus ekslusivisme. Implikasinya pemikiran KH. Abdul Karim Joyodipuro menghasilkan proses transformasi yang cukup signifikan, yakni terutama dalam mendorong perubahan aspek berfikir dan sikap keberagamaan khususnya di kalangan Nahdliyin di Magetan.

KH. Joyodipuro di kalangan Nahdliyin Magetan merupakan figur yang patut dihargai dan pemikirannya terus dilestarikan. Pada waktu yang sama gaya atau corak pemikirannya juga diadopsi oleh para murid-muridnya di kalangan akademik STAIM Magetan dan santri-santrinya yang kemudian membuat lembaga pendidikan yang kemudian menjadi cabang dari Pondok Pesantren Singo Wali Songo sebagai basis pengajaran dan transformasi Aswaja sebagai manhajul fikr.

Murid-muridnya yang tersebar di seluruh Indonesia seperti KH. Imam Baihaqi Bantul, Muhammad Nafis Kendal, Konian Hidayatulloh Ambarawa, Nasrulloh Bojonegoro, Ahmad Muhammad Tsubud Kendal, Abu Dar Oku Timur Sumatra Selatan, Rusdianto Bojonegoro, Ilman Nafia Batang Jawa Tengah, Anwar Haryono, Mayhari Bojonegoro, Bukhori Kendal Jawa Tengah, Supratikno Bojonegoro, Muhammad Salam Al Ghozali Ngawi, Muttaqien Ngawi, Muhammad Taufiah Sularno Karanganyar Jawa tengah, Sunardi Abdul Aziz Karanganyar, Muhsin Ali Syah Teguh Priyadi Oku Sumatra Selatan, dan Budi Muryanto. Selain dilembaga pendidikan yang mereka bangun, para muridnya juga menebarkan Aswaja sebagai manhajul fikr melalui organisasi Nahdlatu Ulama setempat.

KH. Abdul Karim Joyodipuro sebagai ulama di Indonesia pemikirannya mampu melahirkan pengaruh terhadap perubahan-perubahan tertentu dalam masyarakat Nahdliyin Indonesia terkhusus di Kabupaten Magetan, baik bersifat individu maupun institusional. Secara individu dapat dilihat bagaimana cara pandang yang inklusif dalam beragama oleh para warga Nahdliyin yang mengikuti paradigmanya.

Begitu juga secara institusional dapat dilihat dalam wujud dalam organisasi PCNU Magetan di masa kepemimpinannya, hingga Yayasan Pondok Pesantren Singo Wali Songo. Kehadirannya memang memberi kesan yang inpiratif. Cara berfikirnya ditengah pertarungan wacana Aswaja, perjuangan KH. Abdul Karim Joyodipuro perlu dilestarikan dan diteladani.(*Penulis adalah santri Ponpes Singo Wali Songo Becok Kartoharjo Magetan). [AR]

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: