Khutbah Idul Fitri 1441 H

Menjadi Hamba yang Cerdas dalam Ber-‘Idul Fithri

Oleh: K. Ahmad Syafi’i SJ

(Wakil Rois Syuriah PC. NU Ponorogo)

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنُكَبِّرُهُ وَنَقُوْلُ اللهُ  أكبرُ وللهِ  الْحَمْدُ, اللهُ أكبرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْراً وَسُبْحانَ اللهِ بُكْرَةً  وَأَصِيْلاً الحمدُ للهِ  الَّذِي شَرَعَ للنَّاسِ عِيْداً مُبَارَكاً وَنَعِيْماً مَشْكُوْراً وَيَوْماً مَسْرُوْراً. وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً للْعَالَمِيْنَ بَشِيْراً  وَنَذِيْراً, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن مُؤْمِناً وَمُخْلِصاً. أشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعدَهُ. أمًّا  بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يا أيُّها الَّذِيْنَ  آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ  تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Marilah kita ucapkan syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT. Yang mana atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, meskipun di tengah-tengah wabah Qarona yang melanda, kita semua masih bisa berkumpul bersama dalam suasana hari kemenangan yang penuh suka cita ini, yakni Hari Raya ‘Idul Fithri 1441 H.

Manivestasi utama dari rasa syukur itu tidak lain adalah  dengan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, kapanpun dan di manapun kita berada.

Jama’ah sholat Idul Fithri rahimakumullah…

Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, saya mengajak kepada diri saya pribadi utamanya, dan kepada para jamaah sekalian, marilah kita belajar dan berusaha untuk menjadi hamba yang cerdas dalam ber-‘Idul Fithri.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd…

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Bagaimanakah cerdas dalam ber-‘Idul Fithri itu? Syaikh Mushthafâ As-Sibâ’î telah telah memberikan pencerahan kepada kita dalam masalah ini. Dalam kitabnya yang berjudul Hakadzâ ‘Allamtanî al-Hayâh, beliau membagi cara beridul Fithri umat Islam ke dalam  tiga kategori, yakni ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang cerdas (‘îdul ‘âqil); ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang bodoh (‘îdul jâhil); dan ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang lalai (‘îdul ghâfil). [Ibn Rajab al-Hanbalî, Lathâif al-Ma’ârif, hal. 254]

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

العَاقِلُ يَرَى فِى الْعِيْدِ فُرْصَةً لِلطَّاعَةِ, مِنْ صِلَةِ رَحْمٍ, وَإِغَاثَةِ مَلْهُوْفٍ, وَبِرِّ فَقِيْرٍ

Pertama, ‘Îdul ‘Âqil, ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang cerdas. Orang yang cerdas melihat idul Fithri sebagai kesempatan untuk menambah amal ketaatan kepada Allah SWT. dengan memperbanyak silaturrahim, saling bermaaf-maafan, memberi sedekah kepada fakir-miskin, dan menolong orang lain, terutama mereka yang terdampak wabah virus corona.

            Kesadaran untuk menyambung tali silaturahim sekalipun kepada pihak yang memutus hubungan silaturahim merupakan salah satu karakter orang yang cerdas dalam beragama. Orang yang cerdas memiliki komitmen untuk meminta maaf dan sekaligus bersedia memberikan maaf kepada siapapun, karena ia sadar bahwa tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Di tengah-tengah wabah yang sedang melanda, tentu silaturahim dan halal bi halal dapat kita kemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan alat komunikasi semisal Hand Phone. HP bisa kita gunakan untuk menyambung persaudaraan, merekatkan tali silaturahim dengan saling mengirim pesan permohonan maaf dan saling memaafkan, saling mendoakan, dan saling memberikan nasehat yang baik. Jika pesan-pesan tersebut juga kita bagikan lewat media sosial, bisa jadi hal itu menjadi bagian dari bentuk sedekah kita bahkan kepada pihak-pihak yang sebelumnya belem kita kenal, yaitu sedekah pulsa dan kuota yang berupa pesan permohonan maaf, do’a dan nasehat kebaikan. Hal ini sejalan dengan dawuh Nabi saw yang menyatakan:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ, كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ اَلْمَلَكُ اَلْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينْ وَلَكَ بِمِثْلٍ. (رواه مسلم)

Do’a seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengatuhan orang yang dido’akan adalah do’a yang mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang mendo’akan) ada Malaikat yang telah diutus, sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka Malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Âmîn dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” [Ibn al-Jawzî, Kasyf al-Musykil min Hadîts al-Shahihain, Juz II, hal. 163]

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Di samping saling mengirimkan pesan permohonan maaf dan mendo’akan kebaikan, orang yang cerdas dalam ber-‘Idul Fithri sadar bahwa di balik kekayaan yang ia dapatkan, ada kewajiban sosial yang harus ia tunaikan. Hatinya selalu tergerak untuk berbagi atas anugerah materi yang ia miliki. Ia sadar betul bahwa hartanya yang sesungguhnya adalah harta yang telah ia sedekahkan di jalan kebaikan, bukan harta yang ia simpan dalam tabungan. Terkait dengan hal ini, kita bisa belajar, misalnya dari kisah dialog yang terjadi antara Ahnaf bin Qais dengan seorang lelaki sebagai berikut:

رَأَیْ أَلْأَحْنَفُ بِنْ قَيْسٍ رَجُلاً فِی يَدِهِ دِرْهَمٌ, فَقَالَ: لِمَنْ هذَا الدِّرْهَمُ؟ فَقَالَ: لِيْ, فَقَالَ: أَمَّا اَنَّهُ لَيْسَ لَكَ حَتَّی تُخْرِجَهُ مِنْ يَدِكَ, ثُمَّ قَالَ: أَنْتَ لِلْمالِ اِذاَ أَمْسَكْتَهُ, فَإِذَا أَنْفَقْتَهُ فَالْمَالُ لَكَ

Pada suatu hari al-Ahnaf bin Qais melihat uang logam satu Dirham di tangan seseorang. Ia lantas bertanya kepadanya, “Uang siapakah ini?” Spontan orang itu menjawab, “Uangku !”. Ahnaf lantas berkata, “Uang itu baru menjadi milikmu jika kau sedekahkan”. Kemudian Ahnaf bin Qais mengatakan:”Engkau dikuasai hartamu jika engkau menahannya, namun jika engkau menginfakkannya, maka itulah hartamu yang sesungguhnya”. [Imâm al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Juz III, hal. 241].

            Lebih dari itu, orang yang cerdas memahami betul, bahwa harta yang telah ia sedekahkan itu bisa menjadi salah satu piranti atau tameng dari segala bentuk ujian dan cobaan, tidak terkecuali wabah virus. Hal ini sejalan dengan sabda baginda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Sayyida ‘Alî ra.:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَادِرُوا بِالصَّدَقَةِ, فَإِنَّ الْبَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّاهَا

“Bersegeralah kalian mengeluarkan sedekah. Karena sesungguhnya bala’ atau musibah itu tidak akan mampu menembus sedekah itu.” [al-Tibrîzî, Mirqâh al-Mafâtih Syarh Misykâh al-Mishbâh, Juz IV, hal. 338].

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd…

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Kedua, ‘Îdul Jâhil, ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang bodoh. Imâm As-Sibâ’î menyatakan:

وَالْجَاهِلُ يَرَى فِى الْعِيْدِ فُرْصَةً لِلْمَعْصِيَةِ, يَعُبُّ فِيْهاَ مِنَ الشَّهَوَاتِ عَبّاً

Orang bodoh melihat dan mempersepsi ‘Idul Fithri sebagai momentum kemaksiatan dan pelampiasaan hawa nafsu dan ankara murka. Sebagaimana ia melihat dan mempersepsi ‘Idul Fithri, orang yang bodoh juga melihat dan mempersepsi bulan Ramadhan sebagai “bulan rehat” sejenak, rehat sejenak dari dosa dan ankara murka. Jika sebelum Ramdhan aurat diumbar di depan khalayak ramai, maka Ramadhan menjadi bulan berkerudung dan berbusana muslim sejenak. Bersama-sama kita bisa saksikan realitas yang terjadi di lapangan pasca Ramdhan, semua ber-fastabiqul aurat (berlomba-lomba mempertontonkan aurat) kembali seperti sedia kala, bahkan kadang lebih parah lagi. Seolah ketika Ramadhan bubar, ibadah pun juga ikut ambyar….!

Indikasi lain dari model keberagamaan orang yang kurang berilmu (bodoh) ini adalah biasanya ia hanya bersemnagat menjalankan ibadah di fase awal sampai fase pertengahan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang semangat di awal Ramadhan, justru melemah di hari-hari terakhir Ramadhan. Menghilangnya sebagian wajah jama’ah dari masjid, merupakan bukti nyata yang tak terbantahkan.  Mungkin, kita tidak termasuk yang menghilang dari Masjid. Namun, jika semangat juga mengendor di akhir Ramadhan, patut kiranya bagi kita untuk menyimak nasehat para ulama sebagai “sentuhan akhir” (finishing touch) dalam menyikapi beranjaknya bulan Ramadhan dari hadapan kita.  Al-Hâfidz Ibnu Rajab rahimahullâh, misalnya, mengingatkan kita melalui nasehatnya berikut:

يَا عِبادَ اللهِ!  إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ قَدْ عَزَمَ عَلَى الرَّحِيْلِ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ إِلَّا قَلِيْل فَمَنْ كاَنَ مِنْكُمْ أَحْسَنَ فِيْهِ فَعَلَيْهِ التَّمَامُ, وَمَنْ كَانَ فَرَّطَ فَلْيخْتِمْهُ بِالْحُسْنَى فَالْعَمَلُ بِالْخِتَامِ. فَاسْتَمْتِعُوا مِنْهُ بِما بَقِيَ مِنَ اللَّيَالِي اليَسِيْرَةِ وَالْأَيَّامِ, وَاسْتَوْدِعُوْهُ عَمَلاً صَالِحاً يَشْهَدُ لَكُمْ بِهِ عِنْدَ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ, وَوَدِّعُوْهُ عِنْدَ فِرَاقِهِ بِأَزْكَى تَحِيَّةٍ وَسَلاَمٍ

“Wahai para hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. Karena itu, siapa saja yang telah beramal baik di dalamnya hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhirinya dengan yang terbaik. Karena itu ingatlah, amalan itu dinilai dari akhirnya. Manfaatkanlah malam-malam dan hari-hari Ramadhan yang masih tersisa, serta titipkanlah amalan shalih yang dapat member kesaksian kepadamu nantinya di hadapan Al-Mâlikul ‘Alâm (Sang Penguasa Hari Pembalasan). Lepaskanlah kepergian Ramadhan dengan ucapan salam yang terbaik: “Salam dari Ar-Rahmân pada setiap zaman…” [Ibn Rajab al-Hanbalî, Lathâif al-Ma’ârif, hal. 254].

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Al-Imâm Ibnu Al-Jauwzî rahimahullâh, mengingatkan:

إِنَّ الْخَيْلَ إِذاَ شَارَفَتْ نِهَايَةَ الْمِضْمَارِ بَذَ لَتْ قُصَارَى جُهْدِهَا لِتَفُوْزَ بِالسِّبَاقِ، فَلَا تَكُنْ اَلْخَيْلُ أَفْطَنَ مِنْكَ! فَإِنَّ الْأَعْمَالَ بِالْخَوَاتِيْمِ، فَإِنَّكَ إِذَا لَمْ تُحْسِنْ اَلْإِسْتِقْبَالَ لَعَلَّكَ تُحْسِن اَلْوَدَاعَ

“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”  [Ibn al-Jauzî, al-Fawâid, Juz I/149].

Para ulama, sebagaimana dikutip oleh Abū ‘Abdillâh Muhammad Yusrî, juga menegaskan:

اَلْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَاتِ لاَ بِنُقْصِ الْبِدَايَاتِ 

“Yang menjadi barometer (penentuan) adalah kesempurnaan di penghujung amalan, bukan kekurangan di awalnya.” [Abū ‘Abdillâh Muhammad Yusrî, ‘Ilm al-Tawhîd ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah: al-Mabâdi’ wa al-Muqaddimât, hal. 103].

Demikian juga Imam Hasan Al-Bashri rahimahullâh, beliau telah menghimbau:

أَحْسِنْ فِيْمَا بَقِيَ يَغْفِر اللهُ لَكَ مَا مَضَى, فَاغْتَنِمْ مَا بَقِيَ فَلاَ تَدْرِى مَتَى تُدْرِكُ رَحْمَةَ اللَّهِ

“Perbaikilah yang tersisa, maka Allah akan mengampuni apa yang telah berlalu. Manfaatkan hari yang telah tersisa, karena anda tidak tidak tahu kapan anda meraih rahmat Allah (bisa jadi di penghujung Ramadhan ini).”

Dalam munajatnya, Abu Bakr as-Shiddîq ra, memanjatkan do’anya kepada Allah:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu. (Ismâ’il bin Muhammad al-‘Ajlûnî, Kasyf al-Khafâ’ wa Muzîl al-Albâs, Juz II, hal. 49).

            Jama’ah -‘Idul Fithri sekalian rahimahumullah..! Semakin jelas kiranya bagaimana perbedaan model keberagamaan orang yang berilmu (‘ulamâ) dengan orang yang tidak berilmu (juhalâ), terutama dalam melihat dan memperlakukan Ramadhan.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd…

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Ketiga, ‘Îdul Ghâfil, ber-‘Idul Fithri-nya orang-orang yang lali dan anak-anak. Imâm As-Sibâ’î menyatakan:

وَالْغَافِلُ يَرَى فِى الْعِيْدِ فُرْصَةً لِلْعَبْثِ, يَتَفَلَّتْ فِيْهَا مِنْ قُيُوْدِ الْحِشْمَةِ وَالْوَقَارِ, وَكَذالِكَ يَرَىْ اَلْأَطْفَالُ اَلْعِيْدَ

Orang yang lalai, demikian juga anak-anak, melihat dan mempersepsi ‘Idul Fithri sebagai kesempatan untuk bermain bersama teman-temannya, bersenang-senang, belanja baju baru dan mendapatkan banyak fitrah dari keluarga dan sanak saudara.

Tentu, sangat tidak bijak jika kita menjalani ‘Idul Fithri kali ini hanya untuk bersenang-senang dan bermin-main, apalagi di saat-saat masyarakat sedang mengalami ujian dan cobaan berupa wabah virus Corona. Oleh karenanya, mari kita bersama-sama merenungi dawuh Imâm asy-Sya’rânî berikut:

مَن ضَحِكَ أَوْ لَبِسَ ثَوباً مُبْخِراً, أَو ذَهَبَ إلَى مَوَاضِعِ الْمُتَنَزِّهاتِ أيامَ نُزُوْلِ البلاءِ على المُسْلِمِيْنَ فَهُوَ وَالبَهائِمُ سَواءٌ

“Barangsiapa yang dengan sengaja tertawa dan bercanda ria  atau mengenakan pakaian kukus (pakaian mewah), atau jalan-jalan ke tempat wisata saat turunnya musibah di tengah-tengah umat Islam, maka antara dia dan binatang tidak ada bedanya, alias sama.” [‘Abd al-Wahhâb bin Ahmad asy- Sya’rânî, al-Yawâqît wa al-Jawâhir fî Bayâni ‘Aqâ’id al-Akâbir, Juz I; asy- Sya’rânî, Tanbîh al-Mughtarîn Awâkhir al-Qarni al-Âsyir ‘alâ mâ Khâlafû fîhi Salafahum ath-Thâhir, hal. 8-9 ].

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Dawuh Imâm asy-Sya’rânî tersebut menegaskan bahwa manusia tidak bisa dinamanakan manusia yang sesungguhnya, kecuali manakala ia mau bersimpati dan ber-empati kepada sesama, terutama saat mereka tertimpa bala’ atau musibah. Karena kemanusiaan itu satu unit yang kohesif; satu dan saling menguatkan, kebaikan dirasakan bersama, derita pun juga dipikul bersama…

            Adalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlân, seorang ulama kenamaan yang telah memberikan teladan konkrit bagaimana sikap ber-empati kepada fakir miskin saat menjalani hari Raya ‘Idul Fithri. Dalam beberapa sumber kitab dijelaskan, bahwa saat hari raya ‘Idul Fithri beliau tidak mengenakan baju baru, baju yang beliau kenakan justeru baju harian (al-bidzlah min al-tsiyâb). Terkait alasannya, belia mengatakan:

أَخَافُ أَنْ يَنْكَسِرَ قَلْبُ الْفُقَرَاءِ إِذاَ لَبِسْتُ جَدِيْداً

“Aku khawatir hati para fakir-miskin akan tersayat-sayat jika aku mengenakan baju baru.” [Nafhât an-Nasîm al-Hâjirî min Kalâmi Syaikh al-Islâm ‘Abdillâh bin ‘Umar al-Syâthirî, hal. 111].

            Teladan yang sama juga ditunjukkan jauh-jauh hari oleh Nabi Yûsuf as., sebagaimana diungkapkan Sulthânul ‘Ulamâ’, Syaikh ‘Izzuddîn bin ‘Abdis Salâm as-Sulamî asy-Syâfi’î berikut:

فَقَدْ بَلَغَنَا أَنَّ يُوْسُفَ عَلَيْهِ السَّلَام لَا يَأْكُلُ حَتَّى يَأْكُلَ جَمِيْعُ الْمُتَعَلِّقِيْنَ بِهِ, فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: أَخَافُ أَنْ أَشْبَعَ فَأَنْسَى اَلْجَائِعَ.

Sungguh, kita telah mendengar bahwa Nabi Yûsuf as tidak makan sebelum semua orang yang berada di bawah tanggungannya makan. Saat beliau ditanya terkait sikapnya itu, beliau menjawab: “Aku takut jika kenyang aku kemudian lupa pada orang-orang yang lapar.” [Syaikh ‘Izzuddîn bin ‘Abdis Salâm, Maqâshid al-Shaum, hal. 16].

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Mari kita bersama-sama juga merenungi ungkapan indah ulama berikut:

لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد, إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد

لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ, إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب

“Hari Raya ‘Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat, Hari Raya ‘Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan taat.   Hari raya ‘Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya, Hari Raya ‘Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” [Ibnu Rajab, Lathâiful Ma’arif, juz 1, hal. 277].

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd…

Jama’ah sholat ‘Idul Fithri rahimakumullâh…

Guna mengakhiri khutbah pada kesempatan kali ini, sekali lagi, izinkan khatib untuk menyampaikan dua dawuh ulama sebagai bahan perenungan bagi kita semua.

            Pertama, dawuh Syaikh Muhammad ‘Aly Hasan. Beliau mengingatkan:

إِعْلَمْ أَنَّ الدُّنْياَ مَدْرَسَةٌ لِلْإِنْسَانِ, فَالْحَوَادِثُ وَالْمَصَائِبُ تَكْسِبُ الإِنْساَنَ خِبْرَةً وَمَعْلُوْمَاتٍ, فَيَزْدَادُ عَقْلُهُ تَدْرِيْجِيّاً فَيَصِيْرُ عَالِماً بِالْأُمُوْرِ.

“Ketahuilah, bahwasanya dunia ini adalah Madrasah bagi manusia. Karenanya, semua kejadian dan berbagai musibah yang menimpa, seharusnya menghasilkan sosok pribadi yang memperoleh banyak hikmah dan pelajaran serta pengetahuan, sehingga secara perlahan-lahan kualitas nalarnya meningkat dan pada akhirnya ia menjadi pribadi yang cerdas dalam mensikapi berbagai persoalan. [Haqâiq at-Ta’wîl fî al-Wahyi wa at-Tanzîl, hal. 223].

            Kedua, dawuh Imâm al-Ghazâlî:

وَحُسْنُ الْخُلُقِ مَعَ النّاسِ: أَلَّا تَحْملِ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ، بَلْ تَحْمِل نَفْسَكَ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفُوا الشَّرْعَ.

“Prilaku baik terhadap sesama manusia adalah: engkau tidak memanfaatkan mereka untuk kepentingan dirimu. Sebaliknya, manfaatkan dirimu untuk kepentingan mereka, selagi mereka tidak menerjang aturan agama.” [Imâm al-Ghazâlî, Jawâhir al-Qulûb: Syurûh al-Risâlah Kimyâ’ al-Sa’âdah, hal. 81].

            Akhirnya, semoga kita senantiasa bisa meneladani kecerdasan para ulama dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. Semoga kita bisa menjadi hamba yang cerdas dalam ber-‘Idul Fithri. Amin Allâhumma Amin.  

جَعَلَنَا اللهُ   وَ إِيَّاكُمْ  مِنَ  الْعَائِدِيْنَ  الْفَائِزِيْنَ   وَ أَدْخَلَنَا   وَ إِيَّاكُمْ  فِى زُمْرَةِ   الصَّالِحِيْنَ, تَقَبَّلَ  اللهُ   مِنَّا وَمِنْكُمْ  تَقَبَّل   يَاكَرِيْم. بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرأنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُم بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّل مِنِّى وَمِنْكُمْ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.  وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

اَلْخُطْبَة  الثانِيَةُ

اللهُ أكبر اللهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا هَطَلَ   الْغَمَامُ  وَنَاحَ  الْحَمَامُ, وَارْتَفَعَتِ  الأَعْلاَمُ  وَ أَفْطَرَ  الصُّوَّامُ, اللهُ أكبرُ  كُلَّمَا  ارْتَقَى  فَوْقَ مِنْبَرِ  إِمَامٌ,  وَكُلَّمَ  خُتِمَ  بِالْأَمْسِ  شَهْرُ  الصِّيَامُ, اللهُ أكبر لا إلهَ  إِلَّا اللهُ  وَاللهُ  أكبرُ. اللهُ  أكبرُ  وللهِ  الحمدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ  مَعِيْدِ الْجَمْعِ  وَالْأَعْيَادِ, وَمُبِيْدِ الْجُمُوْعِ   وَالأَجْنَادِ, رَافِعِ  السَّبْعِ  الشَّدَائِدِ  الْعَالِيَةِ  بِغَيْرِ  عِمَادٍ, وَ مَادِّ  الأَرْضِ  وَمُرْسِيْهَا  بِالْأَطْوَادِ,  وَجَامِعِ  النَّاسِ  لِيَوْمٍ  لاَ رَيْبَ  فِيْهِ   إِنَّ  اللهَ  لاَ يُحْلِيْفُ  الْمِيْعَاد, أَحْمَدُهُ  عَلَى  نِعَمٍ  لاَ يُحْصَى لَهَا تَعْدَاد, وَ أَشْكُرُهُ  وَكُلَّمَا شَكَرَ  زَاد, لاَ إِلَهَ إلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَلاَ  أَنْدَاد, شَهَادةً  صَادِرَةً   مِنْ  صَمِيْمِ  الْفُؤَادِ, أَرْجُوْ  بِهَا النَّجَاةَ   في  يَوْمِ  التَّنَادِ,  وَاَشْهَدُ  اَنَّ  سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  اَلَّذِيْ  شَرَعَ  الشَّرَائِعِ   وَسَنَّ  الْأَعْيَاد, وَقَرَّرَ  قَوَاعِدَ  الْمِلَّةِ   وَرَفَعَ     الْمِعَادَ,   اللّهُمَّ  صّلِّ  وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ  و أَصْحَابِهِ  الْبَرَارَةِ  الْأَمْجَادِ. أمّا بَعد!َ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ  إِتَّقُوْا اللّهَ  تَعالى وَاعْلَمُوْا  أَنَّهُ  لَيْسَ  السَّعِيْدُ مَنْ  أَدْرَكَ  الْعِيْدْ, وَلاَ مَنْ  لَبِسَ  الْجَدِيْدْ, وَلاَ مَنْ قَادَ الْخَيْلَ  الْمُسَوَّمَةَ  وَخَدَمَتْهُ  الْعَبِيْدْ, وَلاَ مَنْ أَتَتْهُ  الدُّنْيَا عَلَى مَايُرِ يدْ, وَلَكِنْ  وَاللهِ  السَّعِيْد ُمَنْ  خَافَ  يَوْمَ  الْوَعِيدْ, وَرَاقَبَ اللهُ  فِيْمَا يُبْدِيْ  وَيُعِيدْ, وَنُجِّيَ  مِنْ نَارِ حَرُّهَا شَدِيْدُ وَقَعْرُهَا  بَعِيْدْ, فَاتَّقُوْا  اللهَ  بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ  الأَكِيْدْ.  وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّهَ  أَمَرَكُمْ  بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ, وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ  قُدْسِهِ, فَقَالَ  تَعَالَى  وَلَمْ  يَزَلْ  قَائِلاً عَلِيْمًأ. إِنَّ اللّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللّهُمَّ  صَلِّ  وَسَلِّمْ   عَلَى  هذاَ  النَّبِيِّ  الْكَرِيْمْ  مُحَمَّدٍ  وَعَلَى  آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ   أَجْمَعِيْن. اللّهُمَّ  اغْفِرْ  لِلْمُؤْ مِنِيْنَ  وَالْمُؤْمِنَاتِ, وَالْمُسْلِمِيْنَ  وَالْمُسْلِمَاتِ, اَلْأَ حْيَاءِ  مِنْهُمْ  وَالْأَمْوَاتِ  إِنَّكَ  سَمِيْعٌ  قَرِيْبٌ  مُجِيْبُ  الدَّعَوَاتِ  يَا قَاضِيَ  الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ  أَعِنَّا عَلَى  ذِكْرِكَ  وَشُكْرِكَ  وَحُسْنِ  عِبَادَتِكَ. اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ بِرِضْوَانِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رَمَضَانَ غَافِراً لِذُنُوبِنَا مَاحِياً لِزَلَّاتِنَا, وَمُغَيِّراً لِنُفُوْسِنَا. اَللَّهُمَّ بَلِّغْناَ إِيَّاهُ كُلَّ عَامٍ عَلَى خَيْرٍ لَا فَاقِدِيْنَ وَلاَ مَفْقُوْدِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَعِدْ عَلَيْنَا رَمَضَانَ سِنِيْنَ عَدِيْدَة وَأَعْوَاماً مَدِيْدَة وَنَحْنُ بِأَحْسَنِ صِحَّةٍ وَأَفْضَلِ حَالٍ. اَللّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَن لَايَخَافُكَ وَلَايَرْحَمُنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. اَللّهُمَّ يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ, يَا قَدِيْمَ الْإِحْسَانِ, يَا رَحْمنَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ, يَا ظَهْرَ اللَّاجِئِيْنْ وَيَا جَارَ الْمُسْتَجِرِيْنْ, يَا أَمَانَ الْخَائِفِيْنَ, يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِثِيْنَ, يَا كَاشِفَ الضُرِّ وَيَا دافِعَ البَلْوَى, نَسْأَلُكَ أَنْ تُصَلِّىَ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ وَعَلَى آلِهِ سَيِّدِنَا محمدٍ وَأَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمْ, وَمَا لَا نَعْلَمْ, وَمَا أَنْتَ بِهِ أعْلَمُ, إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسَلَّم. رَبَّنَا   آتِنَا مِنْ  لَدُنْكَ  رَحْمَةً  وَهَيِّءْ  لَنَا  مِنْ  أَمْرِنَا  رَشَداً. رَبَّنَا آتِنَا  فِى  الدُّنْيَا حَسَنَةً  وَفِى الْآخِرَةِ   حَسَنَةً  وَقِنَا  عَذَابَ  النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ  رَبِّ  الْعِزَّةِ  عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

[AR]                                                                                                                                                                  

%d bloggers like this: