579 views

Ketahanan Keluarga Diuji saat Pandemi

Kontruksi Sosio-Normatif Ketahanan Keluarga

Oleh: Abid Rohmanu

Pandemi covid-19 menuntut penjarakan sosial dan fisik untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Instruksi dan himbauan stay at home santer didengungkan. Belajar, bekerja, dan beribadah di dan dari rumah menjadi kebiasaan baru masyarakat. Banyak pihak menarik blessing in disguise (hikmah tersamar): situasi ini akan menguatkan interaksi dan komunikasi keluarga.

Pada sisi lain, tuntutan stay at home yang dilakukan dalam jangka panjang berakibat naiknya tingkat stress dan depresi masyarakat. Harian kompas bahkan memberitakan potensi meningkatnya konflik keluarga di tengah suasana pandemi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mencatat 1.201 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 1.526 kasus kekerasan terhadap anak sejak 1 Januari hingga 12 Mei 2020 (Kompas, 15/05/2020).

Tulisan ini mempunyai asumsi bahwa “konflik” sebagai sesatu yang bersifat alamiah dalam keluarga.  Dalam situasi apapun konflik pasangan bisa terjadi, terlebih pada situasi krisis. Ini disebabkan karena keluarga adalah gambaran sebuah sistem yang bersifat asimetris. Setiap anggota keluarga (Ayah, Ibu dan anak) mempunyai kedudukan dan status yang berbeda yang bahkan bersifat hirarkis. Kedudukan dan status yang berbeda berakibat perbedaan persepsi terhadap sesuatu yang berujung pada konflik.

Apa yang dimaksud konflik? Kebanyakan orang melihat konflik lebih pada akibat seperti kekerasan dan hal-hal lain yang bersifat fisik. Konflik adalah penolakan interpersonal yang disebabkan oleh perilaku individu lain. Fenomena ini kemudian berakibat munculnya kekerasan, penderitaan dan ketidaknyamanan (Fajar, 2016). Tanpa penyelesaian bijak, konflik bisa berujung pada kandasnya ikatan perkawinan.

Sosiologi Keluarga: Konflik dan Manajemen Konflik

Jika konflik bersifat wajar dan alamiah, maka penyikapan dan manajemen konflik keluarga menjadi urgen. Kebahagian dan keharmonisan keluarga tidak dimaknai sebagai tiadanya konflik, tetapi sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah keluarga dalam menyelesaikan dan memenej konflik.

Sistem keluarga yang bersifat asimetris akan selalu diwarnai oleh tawar menawar dan negosiasi kepentingan dari semua unsur keluarga. Contoh ringan misalnya, istri akan selalu tawar menawar dengan suami terkait dengan belanja dan kebutuhan rumah tangga. Istri mempunyai kepentingan tercukupinya belanja sesuai dengan gambarannya sendiri yang barangkali dipersepsikan oleh suami terlalu ideal untuk kepentingannya mengamankan stabilitas ekonomi keluarga sesuai dengan riil pendapatannya. Bagaimana kemudian mempertemukannya?

Maka penting untuk mendasarkan negosiasi kepentingan ini pada keterikatan “cinta” dan “tujuan” bersama dalam membangun biduk keluarga. Konflik harus diorientasikan pada akibat yang bersifat positif, yakni ketahanan keluarga. Bukan konflik yang berujung pada pendakuan ego yang berujung pada kekerasan (baik fisik atau nonfisik) dan pemutusan hubungan perkawinan. Adanya konflik yang bersifat alamiah ini tidak boleh menafikan hubungan kerjasama dan timbal balik untuk merealisasi tujuan bersama sebuah perkawinan yang harmonis.

Karenanya relasi sosial keluarga adalah proses negosiasi kepentingan antar unsur keluarga. Negosiasi adalah upaya untuk mencapai keseimbangan baru atas ketidaksepakatan yang terjadi. Inilah kemudian yang disebut dengan pemecahan masalah. Keseimbangan adalah kondisi yang diciptakan oleh semua unsur keluarga dengan proses-pross yang bersifat sinergis. Dalam hal ini komunikasi yang terbuka dan mutual menempati peran sentral dalam menciptakan keseimbangan dan harmoni keluarga.

Dalam situasi pandemi, kehidupan keluarga mengalami perubahan yang dahsyat. Waktu bersama keluarga mendapatkan porsi yang signifikan. Tapi, pada sisi lain tekanan dan tuntutan keluarga pada banyak aspek mengalami peningkatan. Anak-anak yang harus belajar dari rumah dan tekanan ekonomi keluarga adalah sebagian contoh kondisi yang bisa memicu persoalan dan konflik. Maka, penyikapan secara bijak, kerja sama, dan komunikasi antar unsur keluarga (utamanya suami-istri) menjadi kata kunci penting untuk bertahan dalam situasi demikian.

Norma Islam tentang Ketahanan Keluarga

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab II (tentang Dasar-Dasar Perkawinan) Pasal 2 perkawinan didefinisikan sebagai ikatan/akad yang sangat kuat (mitsaqan ghaliza) untuk merealisasikan perintah Allah dan karenanya bernilai ibadah. Dimensi vertikal pernikahan ini tidak bermakna menafikan dimensi horizontal. Artinya, pernikahan selain bernilai ibadah juga bernilai sosial/muamalah. Ini untuk mengaskan bahwa pernikahan mempunyai nilai sakralitas tidak sebagaimana akad lain yang setiap saat bisa diputuskan. Karena itu teks hadis mengajarkan perceraian/talak adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh Allah. Ini artinya Islam mengajarkan ketahanan dan kelanggengan keluarga.

Pada pasal berikutnya dinyatakan perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tiga konsep ini terambil dari al-Qur’an surat al-Rum: 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

Quraish Shihab (2015) menyatakan bahwa sakinah, mawaddah dan Rahmah adalah tali temali penting untuk mengokohkan keluarga. Apa yang dimaksud dengan sakinah, mawaddah dan rahmah? Sakinah adalah ketenangan dan ketentraman yang tidak saja berdimensi lahir tetapi juga batin. Al-Qur’an menyatakan pensyariatan perkawinan adalah liyaskunu, yakni agar manusia memperoleh ketenangan jiwa.

Mawaddah adalah tidak sekedar cinta, tetapi cinta “plus” atau cinta sejatinya. Cinta ini telah mengosongkan hati dan kalbu pasangan dari segala keburukan atas yang lain. Dengan spirit cinta ini masing-masing pasangan tidak akan memutuskan ikatan perkawinan. Sebaliknya, pasangan akan senantiasa mengokohkan tali ikatan perkawinan. Sementara rahmah adalah kasih sayang yang berasal dari kalbu. Dengan rahmah ini pasangan rela saling berikhtiar keras untuk mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan atas yang lain.

Yang perlu digarisbawahi, sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah kondisi yang perlu diupayakan secara aktif oleh pasangan. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pasangan tidak akan pernah lepas dari perselisihan dan konflik. Yang diperlukan bukan menegasikan konflik, tetapi mengelola konflik untuk ketahanan keluarga. Secara normatif, pengelolaan konflik dilakukan dengan mengaktualisasi mawaddah dan rahmah sehingga tercipta keluarga yang sakinah.

Tujuan perkawinan ini semestinya membingkai dan menjadi orientasi kehidupan perkawinan. Tujuan perkawinan ini tentu masih harus diikat dengan kesadaran normatif lain, misalnya kesadaran dan pengelolaan hak dan kewajiban masing-masing suami dan istri. Tentu terlalu luas untuk dijabarkan persoalan ini, tetapi poin pentingnya bagaimana pengelolaan hak dan kewajiban didasarkan pada prinsip kemitraan dan kesejajaran suami dan istri.

***

Paparan-paparan di atas adalah sekelumit tentang penjelasan sosiologis dan normatif tentang apa dan bagaimana institusi keluarga dikokohkan. Penjelasan ini menjadi penting dan urgen di tengah situasi pandemi covid-19 yang mengancam dan menyerang keluarga Indonesia, tidak saja dari sisi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosio-budaya yang menjadi pilar penting keluarga. Semoga pandemi ini justru memberikan pengalaman kehidupan untuk semakin mengokohkan keluarga Indonesia pasca pandemi atau yang disebut dengan era kenormalan baru keluarga, amin!

Abid Rohmanu
Latest posts by Abid Rohmanu (see all)
Abid Rohmanu

Abid Rohmanu

Dosen IAIN Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: