909 views

Kesalehan Intelektual dan Ngaji Online

Transformasi Kebangkitan Santri Membangun Kesalehan Intelektual melalui Ngaji Online

Oleh Husnul Khotimah*

Mendengar kata “Santri” yang terlintas dalam fikiran ialah ndeso, kuno, utun, dan tradisional. Mengapa ? Karena yang kita ketahui santri ialah mereka yang bermukim di asrama penuh jadwal padat, dari terbit matahari hingga terbenam mata santri di malam hari. Selain itu di pondok pesantren harus mematuhi aturan demi aturan yang ada. Peraturan yang dirasa berat bagi kaum santri yakni tidak diperbolehkan memegang gadget. Tentu inilah yang menjadi pandangan bahwa santri itu kolot, karena mereka tidak mengetahui informasi-informasi viral di media sosial. Aturan-aturan tersebut memanglah harus ditaati sebagai bentuk tawakal dan ikhtiar dalam mencari ilmu di pondok pesantren.

Sejak kehadiran masa pagebluk atau yang akrab kita sapa dengan istilah pandemi Covid-19 mengubah paradigma pendidikan. Salah satunya yakni pendidikan di pesantren. Dimana kegiatan keagamaan seperti ngaji sorogan, bandongan, syawir dan kegiatan yang menciptakan kerumunan terpaksa dihentikan. Demi memutuskan rantai penyebaran virus ini dan juga menaati intruksi ulil amri (pemerintah). Hal tersebut menjadi hambatan bagi santri dalam tholabul ilmi. Banyak kebijakan dari pondok pesantren harus memulangkan santri ke tempat tinggalnya masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh pondok pesantren “Darul Huda” Mayak, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tanggal 24 Maret 2020 yang memulangkan 4000 santrinya menggunakan 80 bus yang disewa oleh pondok dengan panduan protokol kesehatan.

Kembalinya santri ke kampung halaman masing-masing disambut oleh bulan Ramadhan. Dimana pada bulan inilah seharusnya para santri banyak melakukan kegiatan ngaji-ngaji kitab bandongan lebih dari hari biasanya di pondok pesantren. Pandemi yang bertemu dengan selebrasi Ramadan oleh umat Islam khususnya para santri menjadi daya dorong masifnya ritual kesalehan baru di dunia maya melalui Ngaji Online. Ngaji Online termasuk trend terbaru di era digital yang menjadi kegiatan solutif dan awal kebangkitan santri berkolaborasi dengan teknologi. Kesan kolot yang dulu pernah dilekatkan kini telah telah hangus. Fenomena ngaji online yang justru marak di era pandemi saat ini menunjukkan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap perubahan zaman.

Ada santri tentu ada kyai, beberapa kyai sepuh turut berinovasi mengisi fenomena Ngaji Online. Misalnya KH. Mustofa Bisri yang menyampaikan kitab Hadits Arbain di Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang, KH. Anwar Manshur yang membacakan kitab Al-Adzkar An-Nawawi di Pesantren Lirboyo, Kediri. Melalui live streaming Youtube, Selain itu Pondok pesantren Al- Azkiya Malang yang diasuh oleh KH. Khudori Soleh yang membedah kitab Adabul Islam Fii Nidzamil Usrah melalui live Instagram dan berkolaborasi dengan akun instagram @Nugarislucu. Di luar nama itu, masih ada puluhan dan bahkan ratusan kyai pesantren salaf lainnya yang menggunakan fasilitas internet untuk ngaji pasaran. Ngaji Online dari kyai-kyai tersebut bisa diikuti dan disimak oleh siapa saja dan di mana saja. Bahkan banyak masyarakat non pesantren pun turut berpartisipasi menyimaknya.

Ngaji Online yang menghiasi jagad dunia maya, dinamika dari model tatap muka di kompleks pesantren menjadi Ngaji Online di rumah santri masing-masing. Perubahan tersebut membuat sebagian kalangan meragukan bagaimana kontruksi barokah dalam relasi antara kiai dengan para santri.

Menurut Samsul Arifin dalam jurnalnya yang berjudul “The Dynamics of Change in Relation Kiai Santri on Ngaji Online in the Covid-19 Pandemic” menyatakan bahwa hubungan antara santri dengan kiai, terdapat empat katagori. Pertama, asanding-asambung yaitu secara jasadi dan ruhani berdekatan dan berinteraksi. Kedua, asanding tak asambung yaitu secara jasadi mereka berdekatan tapi ruhaninya tidak berinteraksi. Ketiga, tak asanding-asambung; yaitu secara jasadi mereka berjauhan tapi ruhaninya selalu berinteraksi. Keempat, tak sanding tak asambung yakni baik jasadi maupun ruhani tidak berinteraksi dan berjauhan. Dari katagori ini, para santri yang mengikuti Ngaji Online dapat dikatagorikan sebagai kelompok ketiga, secara jasad  berjauhan namun secara rohani ada interaksi.

Esensi barokah ialah “Albarakatu tuziikum fii tha’ah” artinya barakah ialah menambah taatmu pada Allah Swt. Ngaji Online ini merupakan perantara bagaimana manusia berusaha mendalami ilmu agama yang terfasilitasi oleh keadaan zaman. Pada zaman dahulu seorang murid harus berjalan jauh diberbagai negeri untuk mendapatkan satu bait ilmu dan penjelasannya, demikian pula seorang Dai yang harus ke tempat pelosok untuk menyebarkan dakwah Islam, kemudian berdirinya pondok pesantren yang berhasil menjadi ikon utama pendidikan agama islam di Indonesia menghimpun santri dari berbagai penjuru.

Maka bukan hal mustahil jika proses pendidikan agama disaat ini berkolaborasi dengan teknologi. Yang perlu dipahami yakni teknologi tidak menggantikan peran pesantren beserta komponenya, akan tetapi teknologi berkontribusi terhadap dakwah islam yang dinamis dengan arus zaman. Pesantren butuh dan dibutuhkan untuk selalu hadir di tengah-tengah derasnya arus globalisasi, salah satunya adalah dengan bertranformasi menjebol tembok bangunan fisik untuk hadir di dunia maya.

Keberadaan Ngaji Online adalah hal positif yang berpahala, terlebih di saat pandemi melanda. Kedudukan sanad keilmuannya memiliki pembenaran dalam diskursus ilmu periwayatan. Selain itu juga sangat menguntungkan bagi siapa saja mereka yang ingin memperoleh pengetahuan agama. Substansi materi dan doktrin-doktrin disampaikan mempengaruhi cara berfikirnya. Isi materi tersebut bergantung pada sumber yakni siapa yang menyampaikan. Oleh karena itu para santri online hendaknya memperhatikan kualitas guru, bersikap selektif dalam memilih guru di dunia maya agar tidak terjaadi kesesatan pemahaman agama yang menyimpang dari manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Di Indonesia banyak ditemui para ustadz online yang tidak sedikit di antara mereka mengajarkan apa yang seharusnya bukan ranah kemampuan mereka. Apalagi jika tidak memiliki latar belakang pendidikan agama secara mendalam seperti tafsir, syariat, tata bahasa, hukum, dan lain — lain. Bahkan akhir-akhir ini muncul istilah “ustadz google”, “santri youtube”, karbitan, dan sebagainya. Istilah tersebut  kurang baik itu tentunya perlu diluruskan sebelum menimbulkan kesalahpahaman yang lebih buruk. 

Menurut Syaikh Az-Zarmuji dalam Kitab Talim Mutaallim, menjelaskan bahwa seorang muslim yang hendak berguru harus memperhatikan beberapa hal.  Pertama, seorang guru memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan sesuai ahli dibidangnya. Maksudnya memiliki latar pendidikan yang jelas sehingga sanad keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, seorang guru bersifat wara artinya mampu menghindar dari melakukan hal yang haram ataupun keburukan. Maksudnya tidak berbuat maksiat, dan tidak dengan mudahnya mengkafirkan orang yang tak sependapat dengannya. Dan ketiga, memilih mereka yang lebih tua agar pelajar memiliki sikap tadzim dan hormat kepada guru. Kriteria  pemilihan guru tersebut dapat ditemui di pondok pesantren yang berideologi Ahlussunnah wal Jamaah. (Penulis adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo, Nominator I Lomba Penulisan Artikel Hari Santri PCNU Ponorogo).

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: