1,745 views

KARL MARX DAN AGAMA YANG SEHARUSNYA

Oleh Dani Saputra*

Membahas persoalan yang berkaitan dengan superstruktur dan ideologi sama halnya akan mengajak kita untuk masuk ke dalam mengenai persoalan agama itu sendiri. Dalam konsentrasi ini, pendapat Karl Marx mengenai “agama adalah candu” memang memungkinkan memiliki kecenderungan Multi-pemahaman. Namun penulis, setidak-tidaknya akan memunculkan dua interpretasi, pertama, agama yang dimaksud oleh Marx adalah agama yang justru menjadikan manusia menjauh dari nilai-nilai perjuangan kelas proletar. Agama tidak lagi menjadikan manusia “hidup” dan bersemangat dalam berjuang menghancurkan kezaliman, serta agama yang justru turut andil dalam melanggengkan dominasi struktural dalam kehidupan yang berlangsung. Kedua, agama yang dimaksud Karl Marx bukan lagi berangkat dari kekecewaannya terhadap agama, melainkan atas keputusasaannya sendiri, bahwa jalan sosialisme ternyata bukan satu-satunya solusi untuk menumbangkan determinisme ekonomi.

Sesuatu yang baik dan mulia memang harus diteruskan agar apa yang menjadi cita-cita dari perjuangan tersebut dapat tercapai. Hal ini kemudian dibaca atau lebih tepat dievaluasi oleh pemikir-pemikir Marxis (pasca Marx) untuk mencari jalan baru. Mereka mencoba mendekati “jalan yang di Ridhoi oleh Marx”. Marxis Muda (penulis menyebutnya demikian) datang untuk “merevisi” apa  yang meski dilakukan dengan memperhatikan corak jaman dan keadaan yang terus maju. Dalam dunia filsafat pasca Karl Marx, pemikirannya tersebut banyak mendapat revisi (kritik), terutama oleh mereka yang bergabung di dalam Mazhab Frankfurt. Mulai dari Adorno, Marcuse, hingga Habermas yang hadir “seolah-olah” untuk melakukan “dekonstruksi” atas pemikiran-pemikiran Marxis sebelumnya. Termasuk di dalamnya Durkheim yang kelak memasukkan teori Marxis ini dalam teori sosiologi yang mungkin lebih canggih. Saya menyebut sosiologinya “hampir” mirip dengan sosiologi ala Ibn Khaldun.

Dalam tulisan ini penulis membatasi untuk tidak membicarakan Emile Drukheim terlebih dulu, atau membahas pemikir lain seperti Adorno, Marcuse dan juga Habermas. Karena untuk kepentingan melihat relasi agama dengan hal-hal “di luar” agama, kiranya perlu sedikit mengurai pandangan Karl Marx mengenai ini. Meski ia bukan satu-satunya pemikir yang mempermasalahkan agama dalam upaya untuk melakukan perubahan. Feuerbach_ yang secara periodik dekat dengan Marx setidaknya dapat dikategorisasikan pemikir yang mengalami kegelisahan seperti Karl Marx.

Apakah agama adalah candu? Penulis di sini lebih sepakat dalam pengertian pertama atas interpretasi mengenai pandangan Marx, yaitu agama yang justru menjadikan manusia menjauh dari nilai-nilai perjuangan kelas proletar. Agama tidak lagi menjadikan manusia “hidup” dan agama yang justru turut andil dalam melanggengkan dominasi struktural tersebut. Sebab, adakalanya ia membahas mengenai agama dengan bahasa yang baik sama sekali, dan kadang pada persoalan lain ia membahas agama dengan bahasa yang cukup tegang dan “kejam”. Oleh karena itu, agama yang justru tidak menjadi dasar perjuangan untuk menghancurkan sistem dominasi_ agama seperti itulah yang dimaksud Marx sebagai sebuah ilusi.

Jadi pandangan yang menganggap bahwa Marx anti terhadap agama sama sekali adalah pandangan yang mungkin kurang tepat. Marx tidak sepenuhnya bicara sedemikian. Agama adalah candu yang dimaksudkan tidak mengarah pada sikap atheistik, melainkan perlunya untuk melihat agama dalam hal-hal yang lebih substansi; perjuangan dan oleh karena itu semangat tersebut harus dihidupkan kembali. Dalam agama sendiri, karena di sana ada sesuatu yang tertutup dan ada sesuatu yang sengaja ditutupi, inilah mula-mula dari sebuah problem dan agama yang demikian ini tidak bisa luput dari cengkeraman penilaian tersebut.

Agama dalam konteks ini, diakui maupun tidak, adalah agama yang tidak hanya bicara persoalan religiositas individu, bagaimana hubungannya dengan Tuhan. Agama adalah sebuah kompleksitas, baik dalam teoretis (ajaran) maupun praktik (substansi). Misalnya, kita tidak hendak menghindari relasi antara agama dengan ekonomi, agama dengan politik, agama dengan budaya, dan lain sebagainya. Dalam hal inilah kritik Marx dapat dimasukkan, bagaimana ia menganggap bahwa agama adalah sebuah sistem kepercayaan yang mempunyai orientasi utama mengenai sistem tatanan di dalam masyarakat agar berjalan dalam laju kepentingan penguasa. Kepercayaan kepada Tuhan maupun Dewa-Dewa dengan meninggalkan substansi perjuangan tidak ubahnya sebagai bentuk pelarian atas kekalahan dan kekecewaan dalam perjuangan kelas.

Kalau kita hendak menelisik lebih jauh lagi, misalnya dalam bukunya Marx sendiri Das Kapitas, atau Konsep Manusia menurut Marx yang ditulis oleh Erich Fromm, dan juga buku Muhammad SAW dan Karl Marx yang ditulis oleh Munir Che Anam (yang sempat menjadi kontroversi, terlebih dari umat Islam bersumbu pendek) kita dapat mengambil kesimpulan yang sederhana (meskipun kurang lengkap), bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Karl Marx adalah perjuangan membela kaum-kaum yang tertindas; kaum proletar melawan kaum borjuis. Perjuangan tersebut hendaknya juga menjadi semangat kita, terlebih Islam untuk membela kepentingan kaum Mustad’afin.

Mengenai bagaimana relasi tentang kapitalisme yang bermain mata dengan agama dalam menentukan status sosial, akan sedikit penulis sampaikan sesuai kemampuan dan akurasi penulis dalam memahami pemikiran Marx. Menurut Karl Marx, untuk menuju sebuah emansipasi adalah dengan melawan kapital-kapital yang telah menjerat. Kaum buruh (waktu itu) harus disadarkan bahwa mereka miskin bukan karena takdir, melainkan ada struktur besar yang mengatur kenapa kemiskinan itu tumbuh subur. Sehingga untuk menuju emansipasi tersebut kita harus melawan kekuatan besar, yaitu para pengusaha, Negara, Ormas, Polisi, dan bahkan juga Agama dalam pengertian yang jauh dari kata pembebasan.

Maka dalam analisis sederhana dapat dilihat bahwa posisi buruh (waktu itu) adalah manusia yang patuh terhadap agama. Kesadaran bahwa kemiskinan yang mereka alami itu karena kehendak Tuhan menjadi sangat wajar sehingga buruh harus menerimanya dengan ikhlas. Sementara pada saat yang bersamaan agama diatur oleh negara dan negara telah dikendalikan oleh pengusaha. Barangkali ini adalah salah satu alasan mengapa Marx kemudian menganggap agama adalah candu. Mungkin.

Agama yang seharusnya membawa prinsip kesamarataan, keadilan dan independen dalam mengeluarkan produk hukum malah dikendalikan oleh negara. Agama hanya mengeluarkan dogma atas dasar kepentingan negara dan pengusaha, bukan berlandasan kemaslahatan bersama. Sedangkan negara yang tanpa pajak dari pengusaha akan mengalami kemiskinan, maka ia harus patuh kepada tuannya. Kapitallah sumber semuanya ini. Di sini kemudian Karl Marx beranggapan bahwa yang berbahaya adalah ekonomi, dan dalam bahasa lain dapat disamakan dengan determinisme ekonomi.

Pada akhirnya, penulis bukanlah orang yang terlalu “mendewakan” pemikiran Marx atau menganggap Marx sebagai nabi baru. Namun semangat perjuangannya meski diteruskan dengan strategi dan metode yang lebih memperhatikan kompleksitas-kompleksitas dan jaring-jaring makna yang semakin banyak berkeliaran. Pemikiran Marx misalnya, terlebih tentang keyakinannya bahwa determinisme ekonomi sebagai sebuah awal dari permasalahan perlu dilihat dan ditampilkan dengan wajah yang baru. Karl Marx tidak lain hanyalah manusia biasa, ia hanya diberi kelebihan untuk berfikir sedemikian rupa, serta kepekaan hati yang cukup luas sehingga ia, dengan hati merasa perlu membela kaum-kaum yang lemah dan tertindas. Bahkan seorang kawan pernah mengatakan demikian: suatu waktu, bahkan sering, Marx pernah merasakan bagaimana ia harus menahan lapar dan ditambah lagi rindu kepada kekasihnya, Jenny von Westpha yang kian menjadi-jadi. [SH]

*Penulis adalah mahasiswa UIN Jogjakarta

Gambar Ilustrasi dari http://www.teropongsenayan.com

Dani Saputra
Latest posts by Dani Saputra (see all)
Dani Saputra

Dani Saputra

Alumni IAIN Ponorogo. Sekarang sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengelola komunitas literasi Pustaka Gerilya yang fokus pada isu-isu Lingkungan, Buruh, dan Perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: