205 views

Kang Santri Beradu Runding Dengan Diri

Kang Santri Beradu Runding Dengan Diri

Oleh: Frengki Nur Fariya Pratama

Kang santri memulai perjalanannya di masa korona. Katanya, Wabah ini sangat berbahaya hingga tempat-tempat ibadahan pun dicutikan gaungnya. Tak ada jamaah, tak ada lingkaran diskusi keagaman, tak ada ramai kehidupan, tak riuh orang-orang berjabat tangan. Begitu pula di masjid-masjid yang tersebar di seantero negeri.

Kang santri hanya terdiam menyaksikan berbagai fenomena yang melanda negeri. Dia hanya membuka-buka kitab, menelaah berbagai riset yang dilakukan atas fenomena wabah ini. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Entah ganjalan apa yang dia rasakan, dia pun tak mengetahui. Baginya, ada sesuatu keanehan yang sedang terjadi.

Ada kalanya, Kang santri termangu beripikir bagaimana nasibnya di akhirat jika tak bisa melakoni kebiasaan ibadah seperti biasa. Apalagi ini bulan Ramadhan, bulan dengan sejuta pengampunan dan rahmat.  Bikin gundah tak karuan. Semenjak munculnya berita pemecatan seorang imam masjid di daerah Zaria negara bagian Nigeria bernama Imam Malam Abubakar, gegara meniadakan sholat berjamaah di masjid yang dipimpinnya. Hatinya pun gundah kembali, apa yang salah dengan agama ini. Apa yang salah dengan pandemi ini.

Imam masjid itu menjadi tertuduh pelarangan sholat berjamaah yang penuh konflik tanpa berkonsultasi dengan komite masjid. Imam Malam Abubakar berdalih keputusan itu berdasarkan kebijakaan yang dikeluarkan pemerintah Nigeria. Usut punya usut, ternyata keputusan itu beraroma tendensius politik. Konflik siapa yang menjadi imam ternyata telah berlangsung lama.  

Di Indonesia pun sama, politik memanfaatkan situasi wabah ini. Video hoaks yang menyatakan adanya pemaksaan Kyai Banten untuk disuntik vaksin ketahanan tubuh dari virus Korona. PKI dan rezim ikut disebut dalam narasi yang dibentuk dan disebarluaskan. Faktanya, video yang tersebar itu adalah video seorang pasien positif Korona di Keluarahan, Cakranegara, Mataran, NTB yang menolak diisolasi. Para penjemputnya adalah Tim Satgas Covid-19 Puskesmas Taliwang.

Kang sarjana pun ikut berucap “Ini pandemi, semua aktifitas berkerumun harus dibatasi.” Ilmu yang dia dapat menyatakan bahwa corona adalah penyakit yang media penularannya untuk sekarang ini, manusia. Virus yang menempel pada manusia dan di berbagai alat yang akrab dengan manusia. Lalu, berpindah terbawa oleh manusia lain. Masuk ke tubuh manusia dan mengganggu kesehatan manusia. Orang yang kuat akan bertahan dan sembuh. Sedangkan orang yang lemah akan mati kutu karenanya.

Teman dari kang sarjana pun berpendapat lain. Virus itu tak berbahaya. Tak bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Kerumunan? Itu bukanlah mutlak penyebab dari penyebaran. Droplet atau aktivitas pasca bersin dan batuk atau buih air liur dari tubuh, itu yang harus diantisipasi. Tak perlu merubah aktivitas, namun harus tetap waspada dengan peristiwa yang terjadi pasca bersin. Manusia harus tetap menjaga kebersihannya. Cuci tangan, ganti baju rutin, mandi rutin, berolahraga dan berjemur itu yang dipesankan.

Gaya hidup pun semakin berubah. Toko sepeda ramai diserbu manusia yang ingin berolahraga. Sinar matahari menjadi primadona di saat pandemi. Dunia pun berubah. Saat ada pembatasan, orang-orang sibuk berdandan necis, bergaya super hero dan ramai lalu lalang di dunia maya.

Di sudut sana masjid tetap tutup dan aktivitas agama tetap sepi….

Lalu, Kang Santri pun menalar kembali “Kemarinkan dihimbau untuk berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan di Rumah, mereka sungguh melakukan itu?” Mungkin, hal seperi inilah yang dihalau oleh para Kyai dan mengajak manusia berjamaah. Dengan bersama, minimal gengsi mereka sebagai manusia tertuntut untuk mencitrakan dirinya “soleh”. Keikhlasan kepada Tuhan? Mungkin itu urusan nanti. Berangsur-angsur pastinya sadar sendiri. Toh! Itu bukan urusan manusia.

Kang santri pun berpikir seribu kali dengan fenoma ini. Bagaimana nasibnya dan nasib manusia yang telah terbius dunia simulacra. Kang santri pun berseloroh dalam puisinya

Antipoda

Manusia mulai berdiam; Meratapi gelombang kedatangan; Ada pula yang mulai congkak; Atas ilmu yang tersandang

Tempat ibadah mulai terpandang; Sebagai tempat ratapan; Jalan, Pasar, Warung kopi; Terpanggang Kesunyian

Kentongan bertalu dipukul; Bersuara lantang; “Mendekatlah kepada Tuhan!”; Dunia dihantui kecemasan

Dunia???; Lalu, bagaimana dunia simulacra?

Dunia itu masih riuh berdendang; Menghantarkan nyanyian penghambaan; Mempertontonkan gelombang-gelombang; Kehampaan

Gaduh peribadatan; Sepi suara keakraban; Hanya sepi antipoda; Mendekap Tuhan; Hanyalah antitesa; Semua tak ada beda; dengan apa yang dulu ada

Cobalah tanya pada; Hatimu yang tercekik; Beraneka simbol Keberhalaan!

***

Kang Santri menengok di sepanjang jalan, manusia-manusia ramai bersepeda. Manusia masih ramai berkerubung di warung-warung kopi. Dunia lain sana, masjid-masjid masih sepi. Ada pula yang menutup masjid karena pandemi yang terjadi. Masjid yang sepi itu memaklumi karena ada pandemi. Yang di warung pun berseloroh “Ada corona nggak boleh ke Masjid dulu!”

Sedangkan di Masjid sana, beberapa manusia saking cintanya kepada Tuhan memaksakan diri berjamaah dengan shaf yang bolong. Setiap jamaah berjarak 1 meter. Mungkin banyak setan yang ikut nimbrung menempati shaf-shaf yang bolong. Untung saja tak ada yang menghujat fenomena “shaf bolong” ini.

Pikiran Kang Santri terus beradu runding. Kitab-kitab telah dilahab. Kajian riset terus dibedah disayat. Gonta-ganti lebar, hatinya belum menemukan kepuasaan masih kegelisan tak tau arah. Wabah menjadi penggugah iman atau malah menggugah semangat kebendaan. (Penulis adalah Sekretaris Litbang PCNU Ponorogo) [AR].

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: