216 views

Kampus Merdeka dan Pikiran Merdeka

Kemerdekaan Kampus Dimulai dengan Memerdekakan Pikiran

Oleh: Zulfah*

Perbincangan tentang dunia pendidikan merupakan tema yang tidak pernah ada habisnya. Perguruan tinggi yang notabene merupakan pendidikan formal tertinggi pun tak luput dari masalah yang perlu terus didiskusikan.

Masalah kampus yang disidkusikan mulai dari hal yang bersifat akademis seperti plagiasi, maupun yang bersifat administratif seperti keharusan dosen untuk mempublikasikan karya di jurnal internasional bereputasi. Hal tersebut sering kali menyebabkan dosen merongrong rupiah tanpa ada kontribusi yang pasti dalam tulisan.

Kedua spektrum masalah di atas bermuara pada integritas. Perguruan tinggi yang tadinya tempat produksi ilmu pengetahuan, kini ternodai akibat contoh kasus-kasus tersebut. Dari contoh persoalan itu, tak ada kemerdekaan dalam berkarya. Pilihan media dan jurnal sebagai wadah publikasi pun harus ditentukan.

Persoalan yang lebih umum (secara probabilitas bisa terjadi pada tenaga kependidikan, pendidik, maupun mahasiswa) juga tidak jarang terjadi. Secara hakiki, substansi perguruan tinggi adalah membangun peradaban manusia yang mumpuni secara intelektualitas, juga menawan secara budi pekerti. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan memerlukan kemerdekaan dalam mengimplementasikan tridharma perguruan tinggi.

Keharusan Memerdekakan Manusia

Pendidikan Indonesia terkhusus di perguruan tinggi harus memerdekakan manusia, kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkarya, dan kemerdekaan bertanya.

Untuk menjadi kampus merdeka, penting kiranya dimulai dengan membudayakan kebebasan berpikir, atau secara tak langsung dapat dikatakan sebagai merdeka sejak dalam pikiran. Hal ini untuk melatih keterampilan memecahkan masalah dengan daya nalar kritis yang tinggi, sekaligus untuk menghargai cara pandang orang lain sebagain kekayaan pikir.

Kemerdekaan Gender dan Prasyarat Inklusif

Salah satu kemerdekaan yang juga perlu diamati adalah kemerdekaan dalam kesetaraan gender di perguruan tinggi. Tak jarang forum-forum bertemakan gender digelar, tetapi apakah benar kemerdekaan gender sudah didapati oleh kaum perempuan maupun laki-laki? atau hanya sekadar formalitas kampus saja?

Membangun pemikiran tentang kemerdekaan harus kita mulai, termasuk dari masyarakat kampus yang terdiri laki-laki maupun perempuan. Selama itu berhubungan dengan gender (konstruksi sosial) bukan jenis kelamin yang mutlak secara lahiriah, maka kesempatan apapun berlaku pada keduanya.

Prasyarat lain dari kampus merdeka adalah ihwal toleransi. Beberapa waktu terakhir di beberapa kampus telah didirikan rumah moderasi beragama. Rumah moderasi adalah persoalan bagaimana memerdekakan manusia dengan membangun perspektif keagamaan yang toleran dan inklusif.

Sekali lagi, mulailah merdeka sejak dalam pikiran dengan menyadari bahwa setiap individu memiliki paradigma dan pendekatan tersendiri terhadap segala hal yang diyakininya. Kemerdekaan berpikir akan menghasilkan sikap toleransi yang bermula dari kesadaran bahwa setiap individu punya versinya masing-masing dalam memandang suatu objek termasuk keyakinan.

Terbebas dari bullying

Keresahan terakhir kampus merdeka yang dapat dicontohkan adalah terbebas dari bullying. Topik ini hangat diberitakan beberapa bulan yang lalu di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, yaitu tentang kasus bullying saat OSPEK mahasiswa yang berbuntut adanya imbauan dari kemendikbud sendiri.

Kejadian tersebut merupakan bukti bahwa masih adanya kasus bullying di lingkungan kampus yang bahkan bermula saat mahasiswa baru memasuki lingkungan perguruan tinggi.

Meninjau kehidupan kampus, kita perlu membangun kesadaran berpikir secara utuh bahwa lingkungan akademis tidak dibangun di atas prinsip-prinsip senioritas yang rentan sekali memunculkan kasus bullying.

Kampus Meneladankan Karakter

Lingkungan akademis harus meneladankan laku orang berilmu yang sarat akan nilai-nilai kebaikan. Melalui perguruan tinggi kita berharap bermunculan individu merdeka yang inklusif, multikultural, toleran, dan bebas dari bullying sehingga menjadi martabat dan prestise bagi perguruan tinggi itu sendiri.

Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar seharusnya dimulai dari pikiran. Harapannya slogan dan penerapannya tidak terjebak pada formalitas dan persoalan administratif belaka. Semoga. (*Penulis adalah Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau). [AR]

Sumber Gambar: liputan6.com

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: