83 views

Islam Nusantara

ARGUMEN TEORITIK BERISLAM NUSANTARA


Jika ditipologikan, para pemikir muslim Indonesia terpola menjadi empat kelompok dalam memahami Islam. Pertama, ada sebagian pemikir muslim Indonesia yang merasa paling berhak atas Islam, paling menguasai Islam dan menjadi front pembela Islam. Kelompok ini biasanya diwakili oleh mereka yang bangga dengan identitas Arab. Islam disamakan dengan Arab. Kedua, ada sebagian pemikir muslim Indonesia yang merasa paling rasional, objektif dan ilmiah dalam memahami Islam. Bahkan, mereka bercita-cita untuk mengeluarkan umat Islam Indonesia dari kejumudan dan kemunduran, sembari membawanya pada kemajuan dalam segala bidang kehidupan, utamanya bidang pemikiran Islam. Kelompok ini biasanya diwakili oleh mereka yang bangga dengan identitas dan pemikiran Barat. Ketiga, ada sebagian pemikir muslim Indonesia yang hanya bertaklid kepada madzhab tertentu dalam memahami Islam. Kelompok ini diwakili oleh mereka yang selamanya beridentitas Indonesia, tetapi tidak merasa bangga dengan peradaban Indonesia. Mereka merasa rendah diri berhadapan dengan dua kelompok pemikir muslim Indonesia yang berbangga diri dengan identitas ke-Arab-an dan ke-Barat-an. Keempat, ada sebagian pemikir muslim Indonesia yang berfikir moderat dalam memahami Islam. Kelompok ini diwakili oleh mereka yang mengaku sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, atau orang Islam yang berbangsa Indonesia. Mereka bangga dengan identitas ke Indonesiaannya, sembari mengapresiasi nilai-nilai positif yang dimiliki peradaban Arab dan Barat. Mereka memperkenalkan istilah Islam pribumi atau Islam Nusantara. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang bermazhab Sunni model Nahdlatul Ulama.


Sejalan dengan itu, tulisan berikut bermaksud untuk menawarkan argumen tentang Islam Nusantara. Saya memulainya dari persoalan “mungkin dan tidaknya” keberadaan Islam Nusantara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Sebelum memahami persoalan ini, seseorang tidak akan bisa memahami apa itu Islam Nusantara, apalagi menerimanya, kendati mungkin saja sudah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui, mungkin dan tidaknya ada Islam Nusantara, saya akan memulainya dari cara berfikir manusia yang oleh Jabiri disebut dengan istilah nalar terbentuk (al-Aql al-Mukawwan). Cara berfikir manusia berhubungan secara dialogis dengan dunia kehidupan (istilah lain dari realitas). Di satu sisi, manusia dengan akal budinya adalah pencipta dunia kehidupan, di sisi lain, manusia juga dibentuk oleh dunia kehidupan. Dunia kehidupan itu bisa berupa peradaban, kebudayaan, tradisi, mitos, agama, seni dan otoritas. Proses manusia mencipta dunia kehidupan berjalan dalam waktu yanag begitu lama sejak nenek moyang masing-masing umat manusia, sebelum mereka yang belakangan hadir ke dunia ini. Sebaliknya, manusia belakangan dibentuk oleh dunia kehidupan sejak berada di dalam kandungan ibundanya hingga lahir dan meninggalkan dunia ini. Mereka dibentuk oleh dunia kehidupan melalui keluarga kecil, lingkungan sekitar, desa, kecamatan, kota, provinsi, dan Negara.


Itu berarti, manusia dibentuk oleh dunia kehidupan melalui proses berjenjang dan dalam waku yang panjang, dan masing-masing orang secara individual tidak menyadari proses pembentukan itu. Inilah yang di dalam hermeneutika disebut “pra pemahaman”.
Pra pemahaman ini tidak bisa ditolak keberadaannya, dan tidak mungkin ada manusia tanpa mempunyai pra pemahaman. Karena itu, pra pemahaman ini sejatinya dijadikan titik tolak manusia dalam memahami, baik berkaitan dengan persoalan seni, olahraga, politik, ekonomi, budaya maupun agama. Kalau ditanyakan kepada saya misalnya tentang kesebelasan MU (Madura United) melawan kesebelasan Persija Jakarta, secara personal saya membela MU dan menilai permainan MU lebih baik daripada permainan kesebelasan Persija Jakarta, karena ada pra pemahaman yang dibentuk oleh tradisi Madura di balik pikiran saya. Kalau ditanyakan kepada saya tentang bentuk Negara Indonesia yang berbentuk NKRI, dengan ideologi Pancasila, dan semboyan hidup Bineka Tunggal Ika, saya akan membelanya dan menilainya sudah final dan sesuai dengan ajaran Islam, karena ada pra pemahaman yang dibentuk oleh peradaban Indonesia di balik pikiran saya. Jadi, tidak boleh dan tidak mungkin kita menghilangkan pra pemahaman itu dalam berfikir dan menghayati sesuatu. Justru pra pemahaman itu harus dijadikan pijakan dalam berfikir dan menghayati sesuatu, termasuk dalam memahami dan menghayati agama. Agama harus dipahami dalam kerangka pra pemahaman kita.


Yang perlu dicatat, agama Islam itu mempunyai dua dimensi ajaran: normatif dan budaya. Yang normatif bersifat tetap, tidak terikat oleh ruang dan waktu, seperti rukun iman dan rukun Islam. Sebaliknya, dimensi budaya terikat oleh ruang dan waktu, seperti bentuk mesjid, baju, jilbab, rumah, sistem ekonomi, Negara dan lain sebagainya. Yang didialogkan dengan dunia kehidupan (peradaban-peradaban) sehingga bisa melahirkan pemahaman Islam yang berbeda dan beragam adalah dimensi budaya Islam, bukan dimensi normatifnya. Di dunia kehidupan manapun, rukun iman dan Islam adalah sama, tetapi tidak dari segi dimensi budayanya. Karena itu, tidak ada keharusan bagi manusia yang hidup dalam dunia kehidupan yang berbeda-beda mengubah diri menjadi Arab untuk menjadi muslim yang baik. Kita tetap menjadi orang Indonesia untuk menjadi muslim yang baik.

Aksin Wijaya (Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo)

Sumber tulisan: Ringkasan materi yang telah disampaikan dalam acara Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana IAIN Ponorogo, 22 Agustus 2019

Sumber ilustrasi gambar: IslamRamah.co

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: