923 views

Idul Fitri dan Pesan Damai Agama

Idul Fitri dan Pesan Damai Agama

Oleh: Abid Rohmanu

Selamat jalan duhai Ramadlan/Kami sedih atas kepergianmu/Kami duka atas perpisahan denganmu/Kau temani kami dengan kesetiaan/Kau alirkan keberkahan dan rahmat ilahi/Kau hancurkan noda-noda dosa/Kau ganti penderitaan dosa dengan pengampunan ilahi/semoga kita berjumpa kembali tahun depan/Sampaikan salam kepada Rasulullah saw dan keluarganya. (Imam Ali Zainal Abidin)

Waktu terus bergulir. Tak terasa Ramadan 1441 H telah meninggalkan kita. Kita masuk Syawal 1441 H dengan momen utama Idul Fitri. Segala aktivitas dan ritus ibadah Ramadan tahun ini memberikan pengalaman sosial dan spiritual yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Suasana pandemi covid-19 mengharuskan penjarakan sosial dalam bentuk preferensi ibadah di rumah. Penularan virus yang masih bersifat eksponensial memaksa perayaan Idul Fitri dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Semuanya didasarkan pada analiis dan kekhawatiran munculnya ledakan penyebaran virus dari kluster lebaran didengungkan para ahli kesehatan.

Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa jika madrasah Ramadan berhasil menempa dan memberikan pendidikan ruhani umat Islam, maka umat Islam akan mampu mengadaptasikan selebrasi Idul Fitri dengan situasi wabah covid-19. Protokol kesehatan tetap dijaga dan kerumunan massa dihindarkan. Bukankah ini justru  bisa memberikan rasa damai bagi keberlangsungan kehidupan kolektif pasca Ramadan? Ini selaras dengan tesis bahwa agama harus menunjang proses peradaban manusia (the process of human civilization), bukan malah menentang atau menghancurkannya, atas nama agama sekalipun!

Damai Bersama Idul Fitri

Kesempurnaan Islam menuntut kehidupan yang damai dengan Tuhan dan dengan sesama (hubungan vertikal dan horizontal). Ramadan dengan berbagai ibadahnya adalah wujud komitmen mmemperbaiki hubungan vertikal dengan Tuhan. Hasilnya adalah keyakinan akan penghapusan dosa. Semua bentuk ibadah (yang bersifat mahdhah sekalipun) tidak berhenti pada harmoni relasi manusia secara vertikal dengan Tuhan, tetapi menetes dalam bentuk perbaikan kualitas hubungan manusia dengan sesasamanya. Islam tidak pernah mengapresiasi ibadah seseorang senyampang ia abai dengan penderitaan sesamanya. Hadis Nabi SAW menyatakan:

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.” (Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/105024/ahli-ibadah-yang-terancam-masuk-neraka).

Hadis di atas dipertegas dengan pesan subtantif Idul Fitri. Jika Ramadan adalah perbaikan hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, Idul Fitri adalah momentum perbaikan hubungan yang bersifat horizontal (dengan sesama). Maka, Ramadan dan Idul Fitri adalah wujud totalitas sekaligus keseimbangan dalam beragama, berkehidupan dan berperadaban. Idul Fitri mengajarkan silaturrahim atau membangun hubungan baik dengan sesama. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, dalam kolomnya di Media Indonesia (20/05/2020) menyebutnya sebagai silaturrahim litas primordial tanpa melihat agama, ras, etnik, suku, bangsa dan negara. Ini sebagaimana Tuhan telah memuliakan anak cucu Adam, walaqad karramna bani Adam (al-Isra’: 70). Al-Qur’an tidak memakai redaksi walaqad karramna al-muslimin, kemuliaan tidak dibatasi untuk umat Islam saja.

Lebih jauh, Nasaruddin Umar menegaskan pesan silaturrahim tidak semata terbatas dengan sesama manusia (mikrokosmos) tetapi juga dengan alam raya (makrokosmos). Keseimbangan kehidupan dan peradaban manusia menuntut manusia berdamai dan menjalin hubungan baik, tidak saja dengan Tuhan dan sesama manusiam tetapi juga dengan alam raya. Bukti empiris sering menunjukkan bagaimana eksploitasi manusia terhadap alam membawa pada kerusakan.  Al-Qur’an secara ekplisit menyebutkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia”. (al-Rum: 41).

Bagaimana Mengartikulasi Pesan damai Idul Fitri?

Kebenaran agama terletak pada nilai subtantif yang diajarkan bukan aplikasinya yang terikat dengan konteks. Nilai-nilai Ramadan dan Idul Fitri di atas tidak akan sirna karena pembatasan fisik yang kita alami. Karenanya mempertimbangkan secara serius anjuran/instruksi pemerintah, ahli epidemiologi/ahli kesehatan untuk tetap stay at home dan menerapkan secara ketat protokol kesehatan adalah kemaslahatan yang harus didahulukan dari mafsadah. Mengikuti fatwa yang selaras dengan ilmu pengetahuan dan sains menjadi keniscayaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan umat Islam untuk tetap terhubungan dengan saudara, karib-kerabat, dan teman.

Memaksakan perayaan lebaran sebagaimana masa normal justru bertentangan dengan pesan damai Idul Fitri. Kesucian Idul Fitri tidak boleh tercemari dengan kondisi terancam atau mengancam orang lain dengan penularan virus. Jika Ramadan telah mengajarkan nilai kedisiplinan, apakah nilai ini bisa tetap dipertahankan pada momen Idul Fitri dalam bentuk ketaatan terhadap protokol kesehatan?

Agama telah mengajarkan kedamaian. Walaupun tragedi silih berganti, perjuangan tak kunjung habis dalam menyempurnakan kemanusiaan manusia, semuanya tak akan sia-sia. Sebabnya adalah kehidupan yang fana ini diberi makna yang langgeng dari perspektif agama. Manusia mempunyai kerinduan eksistensial (Sudarmminta, 1991) dalam bentuk kehidupan yang langgeng yang coraknya dipengaruhi oleh penyikapan terhadap kehidupan yang fana ini. Sebagai penutup, penulis kutipkan Hadis yang relevan dengan persoalan ini:

Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu lebih baik baginya. Kalau ia ditimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya”. (HR. Ahmad dan Muslim).

Abid Rohmanu
Latest posts by Abid Rohmanu (see all)
Abid Rohmanu

Abid Rohmanu

Dosen IAIN Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: