310 views

Harapan Bagi Kongres PMII dan HMI

Harapan Bagi Kongres PMII dan HMI

Oleh: Ferdiansah*


Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat ini tengah menyelenggarakan Kongres yang ke-20 (17-20 Maret) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain PMII, di waktu yang hampir bersamaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga menyelenggarakan event kongres yang ke-31 (17-22 Maret) di Surabaya. Kedua organisasi Mahasiswa Islam ini menyelenggarakan kongres dwi tahunan dalam rangka penggantian tampuk kekuasaan sebagai bagian dari proses kaderisasi internal organisasi.

Kongres PMII mengusung tema “Organisasi Maju untuk Peradaban Baru”. Sedangkan HMI menggunakan tagline “Merajut Persatuan untuk Indonesia Berdaulat dan Berkeadlian”. Sebagai organisasi mahasiswa yang besar, proses pembukaan kedua kongres ini dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo secara virtual di Istana Kepresidenan, Rabu (17/03). Sebagai sebentuk penghormatan Presiden akan peran kedua organisasi besar Mahasiswa ini dalam proses demokratisasi dan kontribusi keduanya dalam membentuk SDM yang progresif. 

Media Berproses

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan pesan untuk PMII bahwa sebagai anak kandung Nahdatul Ulama, PMII harus selalu terdepan dalam mengawal perjalanan bangsa, teguh membela NKRI, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan juga konsisten menyebarkan toleransi dan kesejukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam. Ia juga turut mengapresiasi kader-kader PMII yang telah menunjukkan komitmen kebangsaan yang kuat, konsisten menyuarakan kepedulian, keadilan terhadap sesama, bersifat kritis demi kebaikan bangsa serta merawat optimisme generasi muda dengan semangat keislaman dan keindonesiaan”.

Baginya, banyak organisasi yang digilas perubahan, karena tidak sigap beradaptasi dengan perubahan zaman. Karena itu, kader-kader PMII harus bisa menjadi navigasi perubahan. PMII merupakan laboratorium kepemimpinan generasi muda Islam yang akan ikut menentukan maju atau mundurnya Indonesia di masa depan. PMII harus terus tumbuh dan berkembang menjadi organisasi kepemudaan yang inovatif dan adaptif.

Sedangkan untuk kongres HMI di Surabaya, Jokowi menyampaikan bahwa HMI juga telah banyak melahirkan tokoh umat dan para pemimpin bangsa yang berkontribusi pada ladang pengabdian yang luas dan beragam. Akan tetapi, kita tidak boleh terpaku hanya pada kebesaran-kebesaran masa lalu. Di era disrupsi dengan perubahan yang sangat cepat ini, HMI harus tumbuh selaras dengan zaman, adaptif dengan kebaruan dan tanggap menghadapi realitas kebaruan, dilansir dari Republika (18/3).

Dengan begitu, HMI bisa menjadi lokomotif kemajuan bangsa dan tetap melahirkan SDM unggul serta pemimpin masa depan yang akan mengantarkan bangsa ini untuk siap berkompetisi dalam era hiperkompetisi. Dengan segala potensi yang dimiliki, HMI harus mampu meneruskan dan mewujudkan cita-cita besar para pendiri untuk menyelaraskan keislaman dan keindonesiaan, memperkokoh persatuan bangsa di tengah keberagaman dan menjadi pilar penyokong integrasi bangsa.

Presiden Jokowi, optimistis kepada kedua organisasi Mahasiswa Islam ini untuk terus berdialektika serta menjadi bagian dari wadah pencetak kader progresif dan produktif. Meskipun diselenggarakan di tengah pandemi covid-19, kedua kongres tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan sebagaimana telah ditetapkan oleh pemerintah. Besar harapan Jokowi untuk keduanya agar terus konsisten dalam menjaga integrasi bangsa dari rongrongan ideologi radikal di kampus.

Mengingat berdasarkan laporan riset dari PPIM UIN Jakarta tahun 2021, bahwa Perguruan Tinggi berbasis agama masih menjadi corong gerakan intoleransi. Hal ini ditengarai dengan masih maraknya organisasi radikal di kampus, seperti digaungi oleh Lembaga Dakwah Kampus dan Gema Pembebasan.  

Di akhir Kongres nantinya akan terpilih Nahkoda baru yang diharapkan dapat membuat program yang visioner dan mampu mengawal kedua organisasi besar ini di tengah kontestasinya dengan organisasi mahasiswa radikalis. 


Ekspektasi

Organisasi PMII dan HMI telah menjadi salah satu media edukasi bagi para mahasiswa untuk berpolitik praktis, sejak di ranah kampus. Banyak di antara para kadernya yang telah menduduki tampuk kekuasaan elit Pemerintahan, terutama di kursi Parlemen. Selain edukasi politik, kedua organisasi ini menjadi “wadah gerakan” mahasiswa yang turut serta membela keadilan dan merawat demokratisasi di ruang publik.

Tentunya sebagai salah satu kader, penulis memiliki ekspektasi besar terhadap berjalannya kedua kongres Organisasi Mahasiswa Islam di Indonesia ini, di antaranya. Pertama, dalam ranah kaderisasi, keduanya harus senantiasa berpegang teguh pada aturan AD/ART yang diakui secara de jure dan proses kaderisasi harus terstruktur dengan baik. Calon ketua umum Pengurus Besar dipastikan memiliki prasyarat legal dan merupakan kader tulen.

Kedua, kongres tersebut harus menghasilkan mufakat yang demokratis. Tak boleh ada dualisme pendapat yang berpretensi melahirkan perpecahan, khususnya di tubuh PMII, sebagaimana yang pernah terjadi di tubuh HMI (yang kemudian pecah menjadi HMI DPO dan MPO). Prinsip mufakat harus menjadi pilar keberlangsungan kongres organisasi.

Ketiga, meneguhkan kembali tujuan sebagai organisasi mahasiswa Islam moderat di Indonesia. Karena jika menilik riset dari Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2018) yang menyebutkan bahwa organisasi mahasiswa seperti PMII dan HMI kalah menarik dengan organisasi Salafi Wahabi dan kelompok Tarbiyah (kelompok radikal). Untuk itu, PMII dan HMI harus menjadi media kontra narasi dan terus bergerilya menggeser dominasi kelompok mahasiswa radikal di ranah kampus.

Keempat, menumbuhkan kesadaran intelektual dan emosional sekaligus. Mahasiswa pergerakan atau himpunan ini harus mampu meningkatkan kualitas intelektualnya dengan terus belajar dan mengasah logika berpikir kritis dan pentingnya mengolah rasa agar dapat mereduksi egoisme kedirian/sektarian. Kader pergerakan yang diidentik dengan demontrasi, harus menunjukkan kualitas intelektualnya dengan meluaskan bacaan, sehingga nantinya dapat menjadi kader yang progresif dan militan.

Untuk itu, setiap aksi/gebrakan yang dilakukan oleh PMII dan HMI nantinya harus mendasarkan diri pada pembacaan yang kritis dan mendalam. Agar keduanya bisa menjadi wadah organisasi yang membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara dengan senantiasa konsisten memegang teguh nilai keislamanan dan keindonesiaan. Sehingga apa yang dipesankan oleh Presiden Jokowi tidak hanya menjadi isapan jempol belaka.  (*Penulis adalah Peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta).

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: