276 views

Gaya Komunikasi Sang Bupati

Suprawoto, Bahasa Jawa, dan Covid-19

Oleh: Abu Muslim

Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi dari pembicara ke audien. Berkenaan dengan praktik komunikasi, pesan yang disampaikan sering kali mengandug wacana yang berbalut ideologi, visi, misi dan tujuan dengan nada persuasif.

Eriyanto menyatakan terdapat tiga hal sentral dalam kaitannya dengan pengertian wacana, yakni: teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa yang meliputi kata-kata yang tercetak di lembar kertas, ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan lain sebagainya. Sementara Konteks berkaitan dengan situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa dan situasi sewaktu teks tersebut diproduksi.

Berkaitan dengan wacana, penggunaan bahasa dalam penyampaian pesan memang menjadi persoalan urgen. Sebab pesan dapat tersampaikan apabila dapat terserap oleh audien. Hubungan antara informasi dari author (pembicara) ke audien dapat dipahami. Hubungan kedua unsur komunikasi ini harus bersambung.

Dalam konteks di atas, Suprawoto, Bupati Magetan, mempunyai cara unik dalam menyampaikan pesan, baik  dalam bentuk lisan maupuntulis. Dalam bukunya “Email Saka Jakarta” edisi 3 tentang covid 19, Bupati yang juga seorang penulis ini menyampaikan pesan kepada khalayak, khususnya warga Magetan dengan Bahasa Jawa Ngoko.

Pada saat ibadah hari raya masa pandemi beberap bulan yang lau misalnya, Birokrat asal Maospati ini menggunakan bahasa ngoko jawa dengan cara storytelling atau bercerita atau mendongeng bagaimana dia bersama keluarga melakukan ibadah hari raya di masa tersebut. Dia bercerita: “hla ana ing sasi pasa lan riyaya iki, amarga anane virus covid 19 diajab dening pemerintah ora kena bali mudhik. Supaya bisa medhot sumbere virus iki. Mulo kiraku kabeh bakal nggunakake aplikasi video call kang saiki meneka werna aplikasi kang sumadya. Ya wis samesthine kabeh padha nggawe pulsa utawa akses internet saka maneka werna cara”.

Cara yang sama juga digunakan untuk menghimbau bagaiamana melakukan aktivitas pernikahan di masa pandemi. Mantan sekertaris jendral komenkominfo ini menceritakan bagaimana menikahkan putranya yang ragil dengan prokes: “Kabeh kang rawuh nganggo masker. Semono ugo anakku lanang ugo ngaggo masker. Malahan masker kanggo manten wes dirancang slaras karo klambine. Mligi kanggo priyantun putri, masker kanggo ngrawuhi adicara akad nikah kaya kaya dadi modhe kae”, “pancen wes dadi pranatan rikala foto ya kudu ngaggo masker. Mung wae, bisa disiyasati. Bubar foto nganggo masker banjur ana kondhangan foto ora ngaggo masker, nanging ora entuk ngomong. Kang menehi komandho cukup juru photo.”

Hal ini menarik, betapa bisa diterima pesan-pesan yang ditulis melalui Bahasa Jawa Ngoko di era modern yang notabene di tengah-tengah pertarungan pertukaran informasi sudah banyak sekali menggunakan berbagai bahasa, baik Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa Induk Negara Indonesia dan bahasa-bahasa dari mancanegara lainya seperti inggris, belanda, jerman dan korea yang makin digandrungi anak muda saat ini atau sekarang sudah menjadi budaya popular.

Ralph W. Fasold menyatakan terdapat 3 pendekatan untuk melakukan penelitian mengenai pemilihan bahasa, yaitu: Pertama, pendekatan Sosiologi, melihat adanya konteks institusional tertentu yang disebut domain, di mana satu variasi bahasa cenderung lebih tepat digunakan, daripada variasi lain. Domain dianggap sebagai konstelasi faktor seperti lokasi, topik, partisipan dan sebagainya. Seperti seseorang berbicara di dalam kelurganya mengenai sebuah topik, maka penutur itu dikatakan berada dalam domain keluarga tersebut.

Kedua, Pendekatan Psikologi Sosial, pada aspek ini meneliti proses psikologi manusia, seperti motivasi dalam pemilihan suatu bahasa atau ragam dari suatu bahasa untuk digunakan pada keadaan tertentu. Seperti pada masyarakat Indonesia yang multilingual, pemilihan bahasa ditentukan disebabkan latar belakang kejiwaan termasuk motivasi penuturnya. Ketiga, pendekatan antropologi, pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/ multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya.

Tidak semua birokrat memahami pentingnya hubungan masyarakat dalam persoalan memilih aspek bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, baik dalam tulisan maupun oral. Misalnya saja persoalan mengahadapi pandemi covid 19, Suprawoto menulisnya di surat kabar seperti Koran dan bukunya menggunakan Bahasa Jawa Ngoko.

Gaya penulisannya dengan menggunakan Bahasa Jawa Ngoko dilihat dari konteks di mana Suprawoto melakukan aktivitas sebagai pelayan publik di Magetan yang masyarakatnya berkomunikasi dengan Bahasa Jawa. Kabupaten Magetan secara geografis berada di ujung barat wilayah Jawa Timur yang berdekatan dengan Kraton Solo. Kedekatan geografis ini membawa pada kedekatan budaya yang salah satunya direpresentasikan lewat bahasa tutur.

Sementara itu dilihat dari aspek psikologi sosial, penggunaan Bahasa Jawa Ngoko Suprawoto dalam menyampaikan pesannya di Koran dan bukunya tak terlepas dari motivasi intrinsik komunikasi. Ia menginginkan bagaimana pesan yang disampaikan dapat dipahami secara baik oleh masyarakat. Sekat-sekat budaya antara “Penguasa” (Pemerintah) dengan masyarakat seakan dilebur dengan Pengunaan bahasa Jawa Ngoko, bukan Kromo Inggil.

Dilihat dari sisi antropologis, pilihan bahasa Pak Bupati didasarkan pada pertimbangan faktor sosio-budaya masyarakat Magetan. Kita dapat amati bagaimana latar belakang sosio-budaya masyarakat Magetan kental dengan adat Jawa. Adat Jawa ini ditopang secara dominan oleh penggunaan Bahasa Jawa Ngoko dalam interaksi budaya keseharian. Maka, model komunikasi yang dipilih Pak Bupati dapat diserap dan dipahami secara baik selaras dengan konteks bahasa. (*Penulis adalah warga Magetan pengamat sosial dan keagamaan alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: