539 views

Gadis MAPK dalam Buku Santri Kaliwates

Gadis MAPK dalam Buku Santri Kaliwates

Oleh: Aksin Wijaya*

Tulisan ini merupakan refleksi saya sebagai orang dalam sekaligus orang luar atas sumbangan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Jember terhadap produksi kesarjaaan muslim di Indonesia. Sebagai orang dalam karena saya pernah berproses di sana, dan sebagai orang luar karena saya sudah keluar dari sana. Dua peran yang melekat pada diri saya itu membantu saya dalam menelusuri kisah-kisah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di MAPK, baik yang tertuang di dalam buku “Santri Kaliwates: Dari MAPK Untuk Indonesia” ini, maupun di luar sana.

Sebagaimana bisa dipahami dari namanya, MAPK merupakan proyek keilmuan Munawir Sadzali sebagai Menteri Agama yang brilian di Era Orde Baru. Konon katanya, mereka akan dicetak “menjadi” ulama’ yang intelek atau intelektual yang ulama’. Para siswa yang merupakan pilihan dari masing-masing sekolah yang ada di Jawa Timur dan sekitarnya itu dididik secara khusus, diberi mata pelajaran khusus dalam bidang keagamaan, dan proses pendidikan yang benar-benar memeras tenaga, pikiran dan mental. Dengan proses pendidikan yang bersifat khusus itu, tidak jarang terjadi pergolakan di antara mereka, baik pergolakan pemikiran, spiritual maupun pergolakan asmara.

Terjadi pergolakan pemikiran, karena materi pelajaran dan proses pembelajaran yang diterapkan di sana berbeda sama sekali dengan yang ada di Madrasah Tsanawiyah atau Pondok Pesantren yang mereka jalani sebelumnya, dan terjadi pergolakan spiritual karena proses-proses intelektual yang begitu inten diterapkan terkadang mengenyampingkan proses-proses spiritual, kendati program pemupukan kehidupan spiritual juga diterapkan di dalamnya.

Pergolakan pemikiran dan spiritualitas yang digodok di dalam asrama “pesantren” MAPK Jember itu bisa dinilai berhasil mencetak lulusan yang berkarakter sesuai tujuan dibentuknya MAPK. Kendati muncul pertanyaan yang tidak terlalu substansial tentang istilah “santri” sebagaimana tertera di dalam judul buku otobiografi para santri kelana itu, setidaknya MAPK melahirkan intelektual muslim yang berkarakter ulama’, apapun posisi mereka di masyarakat. Jika menjadi pengusaha dan politisi, mereka mempunyai karakter ulama’ dan intelektual. Jika menjadi ulama’, sekaligus intelek. Jika menjadi intelektual, sekaligus juga menjadi ulama’. Minimal, berfikir rasional dan spiritual.

Namun yang menarik dari kisah buku otobiografi santri Kaliwates ini bukan hanya karakter yang mereka perankan di bidangnya masing-masing, yang bisa memberi inspirasi bagi pembaca budiman, tetapi juga hal-hal lainnya, baik yang diceritakan maupun yang tidak diceritakan di dalam buku ini. Selain kisah tentang cita-cita mereka yang menembus langit karena terbuai oleh informasi yang sampai ke telinga mereka, kisah tentang kekecewaannya begitu sampai ke asrama MAPK yang ternyata tidak sesuai dengan bayangan semula, juga kisah-kisah yang mereka alami selama tiga tahun menjadi siswa di kota pendidikan ini.

Bukan hanya terkait dengan kisah kandang kambing cak Muhyar Fanani, kisah Sarung Mahfuz kecantol ujung pintu gerbang asrama karena takut ketahuan ustad Muhayyan, tetapi juga kisah romantisme mereka dengan siswi-siswi MAN I. Kecuali Gus Afifuddin Dimyati yang berhasil menggait hati putri kyai Sofyan Tsauri, pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum yang berada di depan Asrama MAPK, sebagian “besar” anak-anak MAPK sepertinya “gagal” atau belum baligh, kata cak Arif, dalam urusan yang satu ini.

Kisah ini justru menjadi isu paling menarik, karena alam bawah sadar para penulis otobiografi itu tidak bisa menahan diri untuk tidak membicarakannya secara verbal. Kendati tidak semua kisahnya dalam masalah ini disinggung di dalam buku ini, kisah-kisah asmara mereka muncul di dalam WAG Santri Kaliwates. Tentu saja dengan nada khas santri MAPK yang penuh dengan ketidakseriusan, saling gojlok, saling sindir, dan sebagainya kecuali di dalam dunia keilmuan. Mereka hanya serius dalam dunia keilmuan. Di luar itu, mereka lebih banyak tidak seriusnya.

Menariknya lagi, kisah asmara mereka juga menarik di luar sana. Hal itu bisa dilihat dari respon para netizen terhadap publikasi buku ini di berbagai media online yang secara konsisten dilempar ke pasar raya virtual oleh cak Arif Maftuhin sebagai editor buku. Dari sekian citra promosi yang dibuat cak Arif tentang buku ini, kisah “gadis MAPK: dalam buku Santri Kaliwates” menempati urutan pertama disusul “Santri Kaliwates: dari MAPK untuk Indonesia”, lalu disusul kisah “Si miskin Aksin”.

Viralnya “gadis MAPK” dalam promosi buku ini menandakan, betapa kehidupan ini tidak bisa dilepaskan dari romantisme masa lalu, dan betapa romantisme itu selalu menjadi daya tarik. Kendati masa lalu itu pahit dirasakan, dan tidak selamanya romantis, setidaknya “meromantisme” itu menghibur mereka, baik yang gagal maupun yang berhasil. Mereka yang gagal hanya tersenyum di dalam hati, dan menulis “haha,..uhui…he..” karena memang dunia virtual (WhatsApp) tidak bisa menampilkan ekspresi yang sebenarnya dari pihak yang bersangkutan.

Bagi mereka yang berhasil, tentu saja tidak hanya melemparkan senyum, tetapi semakin larut dengan “meromantisme” itu, setidaknya digunakan untuk menghayal ke alam mimpi, bukan hanya alam virtual sebagaimana mereka yang gagal. Yang nestapa, mereka yang tidak pernah berhasil dan tidak pernah gagal. Lo..kok bisa? Ya, karena mereka tidak pernah berhubungan dengan siswi-siwi MAN I. Aliyas, jomblo. Haaaaa…. ( Penulis adalah Alumni MAPK Jember angkatan VI).

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: