343 views

Elaborasi Prophetic Hadis

Living Hadis dan Sistem Recruitment Karyawan

Oleh: Nur Rif’ah Hasaniy*


Pamella adalah salah satu Supermarket yang mempunyai sembilan cabang di seluruh Yogyakarta. Ada fenomena unik pada supermarket ini, yakni untuk melamar kerja di Pamella Supermarket, selain membutuhkan kriteria-kriteria sebagaimana umumnya Supermarket, Supermarket Pamella juga memprioritaskan kaum dhuafa. Pemilik Pamella Supermarket beralasan, diprioritaskannya calon karyawan dari kaum dhuafa adalah sebagai bentuk pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW, yakni membantu kaum duhafa’ dan sedekah.

Berangkat dari fakta di atas, tulisan ini coba membahas secara deskriptif beberapa hal. Pertama, bagaimana sepak terjang Pamella Supermarket membangun bisnis ala Rasulullah SAW. Kedua, bagaimana living hadis hadir dalam konteks recruitment karyawan di Pamella Supermarket. Tulisan ini dimulai dari penyajian secara ringkas, bagaimana pasangan H. Sunardi Syahuri dan Hj. Noor Liesnani Pamella, pemilik Pamella Supermarket itu membangun bisnis. Lalu, akan diungkap bagaimana Hadis nabi hidup atau hadir dalam sistem recruitment karyawan di Pamella Supermarket.

Profil Pamella Supermarket

Supermarket Pamella dirintis mulai tahun 1975 dengan satu toko yang masih sangat sederhana. Unit usaha ini adalah buat komitmen dari pasangan H. Sunardi Syahuri dan Hj. Noor Liesnani Pamella (selanjutnya disebut Sunardi dan Nani; disesuaikan dengan panggilan dalam buku biografi H. Sunardi Syahuri). Delapan belas tahun berikutnya, yakni tahun 1993, Pamella Grup membangun Toko Pamella yang ketiga bertempat di Jl. Wonocatur 377, Yogyakarta. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 22 Januari 1996, mereka mengembangkan lagi dengan membuka Toko Pamella Empat. Di tahun yang sama, Toko Pamella merubah sistem manajemennya, dari sistem manajeman Traditional Trade (konsumen dilayani) menjadi manajemen Modern Trade (konsumen melayani dirinya sendiri). Perubahan sistem ini diikuti dengan perubahan nama menjadi Pamella Swalayan. Peresmian perubahan ini diikuti langsung oleh Subiakto Tjakrawerdaya yang menjabat sebagai Menteri Koperasi RI pada waktu itu.

Setahun kemudian, dibangun lagi Pamella Swalayan di Jl. Tegal Turi 69, Yogyakarta. Namun kepemilikan toko ini diserahkan kepada putri sulung Sunardi dan Nani. Pada tahun 1999, dibuka lagi Pamella Swalayan Enam di Jl. Raya Candi Gebang, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Cabang Pamella Swalayan berikutnya, yakni Pamella Tujuh dibuka di Desa Bromonilan, Purwomartani, Kalasan, Sleman pada 1 September 2002.

Selain itu, Pamella juga mulai berkecimpung dalam bisnis non-retail, yakni Salon Pamella, SPBU yang mulai dibuka pada tahun 2005 di Jl. Lowanu, Yogyakarta, dan Pamella Futsal yang mulai dibuka pada tahun 2009, lokasinya bersebelahan dengan SPBU Pamella. Setahun setelahnya, Pamella Swalayan kembali mengupgrade dirinya menjadi Pamella Supermarket. Pada tanggal 8 Juli 2011, di area yang sama, dibangun pula Pamella Delapan. Terakhir, Pamella Sembilan diresmikan pada tahun 2018 di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam sebuah wawancara di koran, Nani menyebutkan bahwa Pamella Sembilan dirancang untuk dapat bekerja sama dengan UMKM setempat. Warga yang memiliki usaha, diberi kesempatan untuk memasarkan produknya di Pamella Supermarket secara gratis.[1]

Peneladanan Sifat Rasulullah SAW

Dalam buku biografi H. Sunardi Syahuri dikatakan, pasangan Sunardi dan Nina berkomitmen untuk terus memegang teguh nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad itu dalam berbisnis. Mereka mengelola bisnis dengan menerapkan etika bisnis Islam, yang mencakup dua aspek. Pertama, aspek akhlak, yakni dengan bersikap jujur, amanah dan disiplin. Dan kedua aspek muamalah, yakni dengan selalu menjaga sikap dan perilaku agar apa yang mereka perbuat tidak merugikan orang lain. Salah satunya dengan cara tidak memberi harga jual yang terlalu tinggi. Mereka juga selalu menjaga hubungan baik dengan para karyawan, supplier dan sales.[2]

Selain itu, mereka juga memperkerjakan para karyawan secara Islami. Tidak hanya dalam memenuhi hak-hak karyawan, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang Islami. Para karyawan diwajibkan untuk tetap menunaikan ibadah sholat lima waktu tepat pada waktunya. Sehingga, suara adzan pun dikumandangkan didalam toko.[3] Karyawan wanita, diwajibkan mengenakan hijab, dan karyawan pria dilarang merokok. Mereka juga membuat larangan berpacaran antar karyawan yang berbeda jenis. Jika ada yang ketahuan berpacaran, mereka akan menindak tegas kedunya, mereka memberi pilihan antara putus atau menikah. Bahkan Sunardi akan dengan senang hati menikahkan keduanya jika keduanya telah siap dan berkomitmen untuk hidup bersama.

Dalam usaha mereka untuk meningkatkan semangat para karyawan, Sunardi dan Nani memberi reward berupa pembiayaan untuk berangkat haji bagi karyawan yang sudah mengabdi selama 20 tahun di Pamella. Mereka menentukan sendiri secara langsung siapa yang berhak mendapatkan reward tersebut. Salah satu karyawan yang pernah mendapatkan reward haji adalah Gunadi. Selain itu, ada pula beasiswa yang diberikan kepada anak-anak para karyawan yang berprestasi. Beasiswa ini diberikan setiap tahun ajaran baru dimulai.[4]

Demikianlah cara Sunardi dan Nani mengamalkan apa yang telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam berniaga. Mereka senantiasa membawa nilai-nilai islami dalam setiap langkah bisnis mereka.

Living Hadis dalam sistem recruitment karyawan di Supermarket Pamella

Pada bagian ini, penulis hendak memotret sistem recruitment karyawan di Pamella Supermarket dengan kacamata living Hadis, lantaran pemiliknya senantiasa berkaca pada nabi Muhammad dalam menjalankan bisnisnya. Living Hadis adalah satu bentuk kajian atas fenomena praktik, tradisi, ritual atau perilaku yang hidup di masyarakat yang landasannya ialah Hadis Nabi SAW.[5] Objek kajian pada penelitian living Hadis ialah berbagai peristiwa sosial yang ada di masyarakat, yang terkait dengan eksistensi Hadis, serta gejala yang nampak pada masyarakat yang berupa pola-pola dan struktur perilaku dimana perilaku tersebut merupakan pengaplikasian atas pemahaman masyarakat terhadap Hadis.[6]

Dalam konteks wacana mengenai Pamella Supermarket, penulis melihat ada Hadis yang eksis atau hadir dalam sistem recruitment karyawannya. Dalam buku biografi Sunardi Syahuri disebutkan bahwa dalam merekrut karyawan, mereka memprioritaskan kalangan dhuafa, seperti anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang tidak merokok.[7] Dan dalam wawancara yang penulisa lakukan, Nani dengan tegas membenarkan hal tersebut.

Nani menjelaskan, “Saya itu memang ingin menolong banyak orang. Jadi dalam berbisnis, niat saya adalah beribadah kepada Allah sekaligus membantu orang yang kekurangan. Sehingga, saya memang memprioritaskan dhuafa, anak yatim. Tetapi tentu saja tidak mengesampingkan kemampuan. Semisal ada dua orang dengan kemampuan yang sama, tapi satunya dari keluarga mampu dan satu lagi dari keluarga tidak mampu, maka yang saya pilih adalah yang tidak mampu. Kalau untuk janda, biasanya anaknya yang saya sekolahkan atau anaknya yang saya rekrut jadi karyawan.” [8]

Dalam wawancara singkat dan terbatas yang penulis lakukan, informan memang tidak menyatakan secara eksplisit bagaimana teks Hadis yang melatarbelakanginya untuk berbuat demikian. Namun, dalam kajian living Hadis, ketika seorang peneliti menemukan jalan buntu dimana informan tidak dapat menyebutkan teks yang mendasari sebuah praktek dilakukan, peneliti dapat melakukan subtansiasi. Yakni tindakan memahami tujuannya dari adanya praktek tersebut. Substansiasi boleh dilakukan dengan catatan, peneliti memiliki indikator kuat bahwa praktek tersebut didasari oleh Hadis.[9]

Dalam hal ini, subtansiasi yang penulis lakukan dibangun atas beberapa indicator. Pertama, Sunardi dan Nani telah menyatakan bahwa mereka senantiasa berusaha untuk selalu menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai penutan mereka dalam menjalankan bisnis. Hal ini tercermin dari bagaimana mereka menanamkan sifat jujur, amanah dan disiplin dalam berbisnis. Kedua, hingga kini Sunardi dan Nani telah menciptakan suasana Islami di Pamella Supermarket, tidak hanya dalam pemenuhan hak-hak karyawan, tetapi juga dalam praktek-praktek itu sendiri. Hal ini dicerminkan dalam peraturan untuk mengumandangkan adzan di dalam toko. Ketiga, mereka juga senantiasa menyedekahkan penghasilan yang mereka peroleh. Hal ini dicerminkan dalam pemberian reward kepada karyawan dan anak-anak karyawan yang berprestasi.

Dengan tiga indikator di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa semangat yang mendasari tindakan Sunardi dan Nani untuk lebih memprioritaskan merekrut karyawan dari golongan yang kurang mampu adalah Hadis nabi yang berbunyi:

“Dari Anas bin Malik bahwa suatu hari seorang laki-laki pengemis dari kaum Anshar mendatangi Nabi SAW. untuk meminta bantuannya. Nabi lantas bertanya kepada si peminta tersebut, “Apa kau memiliki sesuatu di rumah?” Laki-laki itu menjawab, “Ada, yaitu taplak yang kami pakai sebagian dan sebagian lainnya kami hamparkan dan sebuah gelas besar yang kami pakai minum.” Nabi berkata: “Bawalah kedua barang tersebut kepadaku.” Laki-laki kemudian membawa dua barang tersebut dan Rasulullah SAW., mengambil dengan tangannya sambil berkata (kepada para sahabat): “Siapa yang mau membeli ini?”. Seorang sahabat berkata: “Saya akan membelinya dengan harga satu dirham”. Nabi bersabda: “Siapa yang mau menambah harganya?” sebanyak dua sampai tiga kali. Lalu seorang sahabat yang lain berkata: “saya mau membelinya dengan dua dirham”. Rasulullah menerima penawaran itu dan mengambil dua dirham tersebut lalu menyerahkannya kepada laki-laki Ansar tadi sambil berpesan: “gunakanlah satu dirham untuk membeli makanan lalu berikanlah kepada keluargamu, dan gunakan satu dirham lainnya untuk membeli kapak lalu bawa kepadaku”. Laki-laki Ansar tersebut lantas membeli kapak dan membawanya kepada Rasulullah saw. Rasul kemudian mengikat kapak itu dengan kayu, dan berkata: “pergilah mencari kayu bakar lalu jual, dan jangan sampai saya melihatmu dalam 15 hari”. Laki-laki itu pergi mencari kayu bakar dan menjualnya lalu datang kepada Rasulullah dan ia telah mendapatkan 10 dirham. Sebagian ia belikan pakaian, sebagian dibelikan makanan. Rasulullah bersabda: “ini lebih bagus bagimu dari pada meminta-minta itu akan membuat nuktah di wajahmu pada hari kiamat. Meminta-minta tidak boleh dilakukan kecuali dalam tiga kondisi, fakir miskin yang tak memiliki sesuatu apapun, seorang yang berhutang dan tak sanggup membayar, dan seorang sakit yang tak mampu bekerja mencari nafkah. (HR. Abu Dawud).

Hadis di atas mengajarkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad SAW. memperlakukan pengemis, atau dalam konteks Pamella adalah kaum dhuafa, tidak semata-mata bersedekah dengan mengeluarkan uang. Tetapi juga memberdayakan mereka dengan cara memberi modal untuk mencari nafkah, sehingga sedekah tersebut terus mengalir. Seperti kata pepatah, jika ada orang yang meminta-minta, beri ia pancing, bukan ikannya.

Sedangkan mengenai syarat untuk tidak merokok, Nani menyampaikan bahwa ada 3 alasan mengapa ia pada akhirnya tidak menjual rokok dan melarang karyawan pria merokok. Pertama, diawali ketika anaknya yang kuliah di Madinah mengatakan bahwa di Madinah rokok sudah diharamkan. Kedua, maraknya iklan yang menuliskan bahwa rokok membahayakan, menyebabkan kanker dan dapat membunuh janin, ia merasa bersalah dan berdosa karena telah menjual rokok di tokonya. Karena dengan menjual, berarti ia telah memfasilitasi khalayak untuk menuju kepada kemudlaratan. Dan ketiga, ketika ia berhaji, Ustadz yang mendampingi rombongannya selalu memberi ceramah bahwa rokok sangat membahayakan bagi kesehatan. Dari situ kemudian ia memantapkan diri untuk tidak lagi menjual rokok dan melarang karyawannya merokok. Menurutnya, sebagai umat Islam kita tidak boleh melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang lain,[10] yang di dalam kaidah fikih disebut la dhirara wa laa dhirar. (Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) [AR].

Daftar Pustaka

Apakah Keutamaan Bekerja untuk Mencari Nafkah Menurut Islam. Dalam https://mui.or.id/tanya-jawab-keislaman/28354/apakah-keutamaan-bekerja-untuk-mencari-nafkah-menurut-islam/. Diakses pada Januari 2021.

Deni Febrianto. “Metodologi Penelitian The Living Quran dan Hadist”. Dalam Jurnal IAIN Metro.

Eko Widiyanto. Dengan Keluarga Sakinah Membangun Bisnis Barokah; Biografi Pamella Sunardi. 2013. Yogyakarta: Mitra Pustaka Nurani

Haidar Musyaffa. Tak Kenal Lelah Menebar Dakwah; Biografi H. Sunardi Syahuri. 2020. Yogyakarta: Pro-U Media

Pamella Group. Sejarah Berdirinya Pamella Supermarket. Dalam http://pamellagroup.com//perusahaan/sejarah. Diakses pada 16 Januari 2020.

Saifuddin Zuhri dan Subkhani Kusuma. Living Hadist; Praktek, Resepsi, Teks dan Transmisi. 2018. Yogyakarta: Q-Media

Salmah. Nafkah dalam perspektif Hadist (Tinjauan tentang Hadis Nafkah dalam Rumah Tangga). Dalam Jurnal Islam Volume 13, Nomor 1, Juni 2014


[1] Pamella Group. Sejarah Berdirinya Pamella Supermarket. Dalam http://pamellagroup.com//perusahaan/sejarah. Diakses pada 16 Januari 2020.

[2] Haidar Musyaffa. Tak Kenal Lelah Menebar Dakwah; Biografi H. Sunardi Syahuri. 2020. Yogyakarta: Pro-U Media., hlm 165.

[3] Berdasarkan observasi pada tanggal 7 dan 10 Januari 2021 di Pamella Supermarket 1.

[4] Haidar Musyaffa. Ibid., hlm 185

[5] Saifuddin Zuhri dan Subkhani Kusuma. Living Hadist; Praktek, Resepsi, Teks dan Transmisi. 2018. Yogyakarta: Q-Media., hlm 8.

[6] Deni Febrianto. “Metodologi Penelitian The Living Quran dan Hadist”. Dalam Jurnal IAIN Metro.

[7] Ibid., hlm 184.

[8] Wawancara dengan Ibu Liesnani Pamella pada tanggal 16 Januari 2021.

[9] Saifuddin Zuhri. Ibid, hlm 116.

[10] Wawancara dengan Ibu Liesnani Pamella pada tanggal 16 Januari 2021.

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: