268 views

Ekspresi Maskulinitas

Ekspresi Maskulinitas dalam Film Ali dan Ratu-Ratu Queen

Oleh: Nur Rif’ah Hasaniy*


Dalam dunia sosial, masyarakat menempatkan sifat, mental dan ekspresi seseorang berdasarkan jenis kelamin orang tersebut. Hal ini berarti, barang siapa berjenis kelamin laki-laki, maka ia haruslah siap untuk dikonstruk sedemikian rupa untuk menjadi individu yang maskulin. Menjadi tahan banting, tidak menangis, kuat, tangguh, gagah, bahkan bersifat mendominasi.

Pandangan ini, kemudian meniscayakan pandangan terhadap perempuan, bahwa seseorang yang terlahir sebagai perempuan, akan menjadi individu yang gemulai, emosional, temperamental, tidak mandiri dan powerless (Hasyim:2020;120).

Lambat laun, penolakan terhadap sikap feminin bagi laki-laki ini di kemudian hari akan menjadi pengabsahan tindakan kekerasan. Laki-laki akan berlomba-lomba menunjukkan kekuatan dirinya, tidak peduli bahkan jika ia harus menyakiti orang lain dengan membully, menghina bahkan melecehkan dan memperkosa. Pada akhirnya, maskulinitas tidak lain adalah wajah baru dari fenomena patologis akibat ketimpangan gender.

Tidak hanya dalam kehidupan realitas, isu feminitas dan maskulinitas juga dapat kita saksikan dalam tayangan televisi seperti film dan sinetron. Salah satu film yang dapat dikaji dengan isu maskulinitas ialah film yang berjudul Ali dan Ratu-ratu Queens.

Tulisan ini, akan mengulas lebih jauh mengenai maskulinitas. Berdasarkan uraian singkat diatas, tulisan ini hendak mendeskripsikan mengenai ekspresi maskulinitas yang ditampilkan dalam film Ali dan Ratu-Ratu Queens.

Sebelum mendeskripsikan ekspresi maskulinitas dalam film tersebut, penulis akan terlebih dahulu memaparkan secara singkat apa itu maskulinitas dan menyebutkan tipe-tipe maskulinitas.

Film yang telah tayang sejak Juni 2021 ini, sebelumnya telah diulas oleh Magdelene.Co dengan judul “5 Alasan Film Ali dan Ratu-Ratu Queens Layak Ditonton” (Haryadi:2021).

Perbedaan ulasan dalam artikel tersebut dengan artikel yang akan ditulis ini terletak pada fokus kajiannya. Penulis akan menyorot secara khusus dari sisi maskulinitasnya.

Tipe Maskulinitas

Mengutip Safitri, maskulinitas dapat dibedakan menjadi dua tipe, yakni maskulinitas positif dan maskulinitas negatif. Menurut Kiselica, Englar-Carlson dan Benton-Wright, sebagaimanan yang ditulis oleh Safitri, maskulinitas positif adalah sikap proporsial, kepercayaan, dan perilaku laki-laki yang menghasilkan konsekuensi positif bagi diri sendiri dan orang lain.

Sementara menurut Harris dan Harper, maskulinitas positif adalah proses aktif yang dilakukan laki-laki untuk mendobrak norma tradisional akan sifat laki-laki. (Safitri:2020)

Dengan kata lain, maskulinitas positif adalah cara pandang baru sebagai upaya mendobrak norma tradisional akan konstruksi maskulinitas terhadap laki-laki. Maskulinitas positif tidak lagi mendikte sifat-sifat apa yang harus dan tidak harus dimiliki seseorang.

Laki-laki bebas memilih dan menentukan sifat dan perilaku sesuai dengan keinginan dan kenyamanannya. Karena pada dasarnya, setiap individu baik laki-laki maupun perempuan bisa memiliki sifat maskulin dan feminin dalam dirinya.

Dalam masyarakat yang berideologikan maskulinitas negatif, laki-laki yang tidak mengikuti konstruk masyarakat sebagai laki-laki kuat, tahan banting dan tidak menangis, tidak akan dianggap sebagai laki-laki.

Mereka akan dicap sebagai laki-laki feminin, laki-laki dengan mental perempuan. Padahal sebagai seorang manusia, lemah dan menangis merupakan sifat kodrati yang bisa dialami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

Bahkan Safitri menyebut, untuk menunjukkan betapa seseorang ingin dianggap sebagai laki-laki maskulin, ketika ia didera masalah, ia akan memendamnya. Masyarakat tidak memberi ruang bagi laki-laki yang ingin dianggap maskulin untuk merasa leluasa bercerita, berkeluh kesah, bahkan untuk menemui psikiater.

Akibatnya, perasaan sedih yang terpendam dan bertumpuk terus menerus tersebut diluapkannya melalui kemarahan dan kekerasan (Safitri: 2020). Oleh karenanya, untuk mengubah konstruksi sosial yang telah membudaya tersebut, kita bisa mengubah konsep maskulinitas negatif menjadi maskulinitas dengan nilai-nilai positif.

Film Ali dan Ratu-Ratu Queens

Film Ali dan Ratu-Ratu Queens yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan ini, mempertontonkan seorang anak laki-laki dari Jakarta yang pergi ke New York untuk mencari sang Ibu.

Dalam perjalan mencari Ibunya, Ali mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan. Mulai dari wafatnya sang Ayah, hingga tidak diakui oleh sang Ibu ketika pertama kali bertemu.

Kendatipun demikian, ia tidak pernah menyerah. Ia terus mendatangi sang Ibu lagi dan lagi. Hingga pada akhirnya, Ibunya ingin Ali melupakannya. Mendengar permintaan tersebut, Ali merasa sedih bukan main.

Berbeda dengan film pada umumnya, alih-alih diekspresikan dengan kemarahan, Ali mengekspresikan kesedihannya dengan menangis. Hal ini dapat dilihat dalam film tersebut pada menit ke 37:25, 1:00:25, 1:24:00.

Dari situ dapat diasumsikan bahwa film ini berusaha menggambarkan bahwa tidak ada yang salah dengan seorang laki-laki yang menangis. Karena menangis adalah sikap yang manusiawi.

Anggapan ini adalah anggapan yang bertentangan dengan kontruksi sosial yang ada sekarang, dan sedang diperjuangkan dalam nilai-nilai maskulinitas yang baru.

Selain itu, ekspresi sedih Ali yang diungkapkan dengan menangis, tidak kemudian berarti bahwa ia lemah, menyerah dan putus asa. Meluapkan emosi justru membantunya melepas penat sejenak sehingga ia dapat kembali bangkit dengan cepat.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, menyerah dan mengeluh adalah hal yang juga wajar untuk dilakukan seorang laki-laki. Bukan karena seseorang berjenis kelamin laki-laki, lantas ia dilarang untuk merasa gagal.

Penerimaan masyarakat akan laki-laki yang juga memiliki sifat ‘feminin’ seperti yang ditunjukkan Ali, dapat membantu menanggulangi masalah kekerasan dan ketidaksetaraan gender.

Di satu sisi, laki-laki tidak perlu merasa tertekan dan takut tidak diterima masyarakat sebagai lelaki sesungguhnya jika ia menangis. Di sisi lain, laki-laki tidak perlu membuktikan maskulinitasnya dengan cara merendahkan serta mendominasi orang lain. (*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Daftar Pustaka

Safitri, Erisca Melia. Maskulinitas Positif. Dalam http://yayasanpulih.org/. Diakses pada Juli 2021.

Hasyim, Nur. Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan Laki-laki Baru. 2020. Sleman: EA Books.

Haryadi, Selma Kirana. “5 Alasan Film Ali dan Ratu-Ratu Queens Layak Ditonton”. Dalam https://magdalene.co/. Diakses pada Juli 2021.

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: