51 views

Deklarasi Islam Moderat dan NKRI

PC ISNU PONOROGO PRAKARSAI DEKLARASI MODERASI KEBERAGAMAAN DALAM BINGKAI NKRI

Isu tentang puritanisme/radikalisme keberagamaan bukan sekedar framing media atau framing dari kelompok tertentu. Puritanisme yang bercorak salafi-wahabi, sebagian sayapnya memperjuangkan “Islam politik” dan “politisasi Islam” untuk menyerang sistem politik dan pemerintahan yang dinilai sekuler. Kegaduhan pileg dan pilpres 2019 di Indonesia ditengarai disebabkan oleh penumpang gelap kelompok puritan dalam kontestasi politik nasional untuk tujuan yang sesungguhnya kontradiktif dengan tujuan pemilu itu sendiri. Tujuan mereka adalah tegaknya negara Islam atau negara khilafah di Indonesia mengantikan negara demokrasi keindonesiaan dan NKRI.
Merespon hal di atas, PC ISNU Ponorogo mengajak berbagai elemen di Ponorogo untuk melakukan deklarasi moderasi keberagamaan dalam bingkai NKRI. Deklarasi dilaksanakan pada hari Ahad, 4 Agustus 2019. Deklarasi melibatkan berbagai pihak: sarjana NU se Ponorogo, Kementerian Agama, unsur Perguruan Tinggi (IAIN, Insuri dan STKIP PGRI Ponorogo), kepolisian Resort Ponorogo, dan Komando Distrik Militer Ponorogo.
Isi lengkap deklarasi tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, setia menjaga Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbineka tunggal ika. Kedua, Setia mengamalkan dan menggelorakan nilai-nilai keberagamaan yang moderat dan memberikan rahmat bagi seluruh alam;Ketiga, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, merajut persatuan, merawat kebersamaan, dan mempedulikan keadilan sosial dalam membangun peradaban sebagai bentuk implementasi nilai-nilai ketuhanan; Keempat, menolak semua bentuk kekerasan atas nama agama, baik dalam bentuk kekerasan fisik atau wacana.
Komitmen terhadap pesan subtantif deklarasi di atas dinilai penting oleh PC ISNU Ponorogo untuk menghadang berbagai gerakan intoleran yang mengancam realitas kemajemukan di Indonesia. Gerakan intoleran, menurut Ketua PC ISNU Ponorogo, Dr. Abid Rohmanu, lebih menonjolkan dan memaksakan simbol dan identitas keberagamaan di ruang publik, termasuk bentuk negara yang sesungguhnya masih bersifat ijtihadiyah. Perlawanan terhadap “Islam identitas” ini adalah dengan menggelorakan keberagamaan yang subtantif di tengah masyarakat, yakni dalam bentuk keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Deklarasi moderasi keberagamaan dalam bingkai NKRI, tegas Ahmad Bayhaqi, M. Pd. , Ketua Panitia Kegiatan, adalah salah satu rangkaian kegiatan musyawarah kerja PC ISNU Ponorogo masa khidmat 2018-2019. Rangkaian kegiatan lain adalah seminar NU dan Literasi Kepemimpinan Publik. Seminar menghadirkan narasumber: Dr. Suprawoto, SH., M. Si. (Bupati Magetan dan Pegiat Literasi) , Dr. Hj. S. Maryam Yusuf (Rektor IAIN Po.), dan Dr. H. Sutejo (Budayawan dan Pegiat Literasi).
Masih dalam rangkaian musker, PC ISNU Ponorogo juga me-launching Buku yang berjudul: Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia. Buku ini adalah karya Dr. Aksin, salah satu satu Dewan Ahli ISNU Ponorogo. Buku tersebut diberikan pengantar oleh Prof. M. Mas’ud Said, Ph. D. (Ketua PW ISNU Jawa Timur). Buku di-launching oleh Dr. Zainul Hamdi perwakilan dari PW ISNU Jawa Timur. Buku secara umum adalah respon terhadap menguatnya penganut teologi intoleran, karenanya upaya menggeser paradigma keberagamaan yg teosentris ke etis-humanis penting dilakukan. (Abid dan Bayhaqi)

Abid Rohmanu
Latest posts by Abid Rohmanu (see all)
Abid Rohmanu

Abid Rohmanu

Dosen IAIN Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: