267 views

Dari Jejaring Ulama Diponegoro sampai Jaringan Pesantren Mataraman: Membincang Hari Santri Nasional dengan Perspektif Sejarah Lokal

Berlangsung di Aula Pondok Pesantren Ittihadul Ummah, Jln. Soekarno-Hatta, Gg. VI, No. 24, Jarakan, Banyudono, Ponorogo; PC ISNU Ponorogo dan Pondok Pesantren Ittihadul Ummah menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk Seminar Nasional dan Bedah Buku: Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19, yang ditulis oleh Zainul Milal Bizawie.

Ketua PC ISNU Ponorogo, Abid Rohmanu, dan Ketua Yayasan Al-Ittihad Ponorogo, K. Nastain menilai makna penting topik bedah buku pada momentum Hari Santri. Hari santri tak terlepas dari seruan jihad yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Penelusuran lebih awal embrio patriotisme religious ini ada pada sejarah Diponegoro sebagaimana dipotret oleh Buku Zainul Milal Bizawie.

Acara yang dilaksanakan pada 23 Oktober 2021 atau sehari setelah Hari Santri Nasional menghadirkan penulis, Zainul Milal Bizawie, (Penggiat Islam Nusantara), sebagai narasumber bersama KH. Imam Sayuti Farid (Mustasyar PCNU Ponorogo dan Pengasuh Pondok Pesantren Ittihadul Ummah), yang menuliskan buku: Geneologi dan Jaringan Pesantren di Wilayah Mataram dan dipandu oleh Murdianto (Pengurus PC ISNU Ponorogo sekaligus Warek III INSURI Ponorogo).

Buku Jejaring Ulama Diponegoro, terbitan Pustaka Compass (2019) dengan tebal 444 halaman tersebut dipaparkan dengan mengarusutamakan data-data historis, baik dari Belanda maupun sumber-sumber lokal yang dilatarbelakangi dengan semangat kebangsaan dan nasionalisme. “Buku yang sedang kita bahas ini hanyalah sebagai pemantik saja, dalam rangka mengonfirmasi beberapa temuan-temuan ataupun konteks-kontak yang perlu ditelusuri kembali, digali kembali dan diteruskan per-wilayah-wilayahnya, agar semakin memperkaya data”, ungkap pembicara yang akrab disebut Gus Milal itu. Penulis juga menyampaikan pentingnya mengeksplorasi dan menuliskan sejarah lokal (local history) dan sejarah lisan (oral history) yang bersumber dari rakyat.

Adapun keterkaitan dengan sejarah lokal tersebut, KH. Imam Sayuti Farid, sebagai pembicara kedua, menguraikan sejarah pesantren-pesantren yang ada di Ponorogo, mulai dari Pesantren Ki Ageng Mirah, di Nambangrejo, Sukorejo (penghujung abad XIV), Pesantren Kyai Ageng Muhammad Besari, di Tegalsari, Jetis (abad XVIII), hingga Pesantren Kyai Mardliyyah, di Kradenan, Jetis (sekitar abad XVIII).

Setidaknya dari ketiga pesantren ini tersambung link jejaring Pesantren–Perdikan: Tegalsari, Sewulan dan Banjarsari. Dua yang disebut terakhir berada di Madiun. Menurut KH. Imam Sayuti Farid,—dengan mengutip Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud—Allah mengutus untuk umat dalam setiap seratus tahun, seseorang yang mengadakan pembaharuan; dan Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dengan NU-nya di tahun 1926 merupakan pembaharu pasca-Diponegoro.

Menjelang paripurna acara dibuka sesi diskusi tanya-jawab, baik dari peserta dalam ruangan (offline) maupun dari peserta dalam jaringan (online). Intinya seputar tokoh-tokoh personal lingkaran pengikut Diponegoro di kawasan Ponorogo, kekerabatan dan peranannya dalam Perang Jawa (1825–1830) serta simbol-simbol (petanda) yang mencirikan keduanya.

Pada bagian penutupnya, Zainul Milal Bizawie, tidak luput memberikan apresiasi dan saran bahwa Diponegoro beserta jaringan ulama-santrinya dan pesantren-pesantren di Ponorogo merupakan representasi perlawanan kultural sekaligus intelektual terhadap kolonial; dan terhadap para pemerhati dan pegiat sejarah lokal untuk terus menyuarakan, menuliskan dan menarasikan temuan-temuannya, agar menjadi modal dan sumber pengetahuan di masa yang akan datang. (Pewarta: Izzuddin R. Fahmi)



                         
Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: