151 views

Dari Fikrah Ke Harakah dan Amaliyah

Dari Fikrah ke Harakah dan Amaliyah dengan Media Baru

Nyabtu.com. Mulai Jum’at hingga Ahad, 13 – 15 September 2019, PW ISNU Jawa Timur menyelenggarakan perhelatan Madrasah Kader NU (MKNU) di Pondok Pesantren Sunan Drajad Lamongan. MKNU diikuti 178 Orang utusan dari seluruh PC ISNU se Jawa Timur, termasuk PC ISNU Ponorogo. Acara dibuka oleh Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa dari  PWNU Jawa Timur.

MKNU adalah institusi pengkaderan struktural yang langsung ditangani oleh PBNU sebagai amanat Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015 (Anggaran Dasar Pasal 19 dan Anggaran Rumah Tangga Pasal 39). Prof. Mas’ud Said, Ketua PW ISNU, saat membuka acara menekankan makna penting acara ini dalam konteks penguatan kader dalam bidang aswaja, nizamiyah, dan karakter kesarjanaan NU. Kagiatan MKNU, sambung Prof. Mas’ud, dimaksudkan juga sebagai ajang komunikasi antar PC ISNU di Jawa Timur.

Acara yang diselenggarakan selama tiga hari ini menghadirkan narasumber-narasumber dari PBNU, PP ISNU, dan PWNU Jawa Timur. Para peserta diajak membicarakan berbagai persoalan NU, keislaman dan keindonesiaan, serta tantangan-tantangan ke depan. ISNU sebagai badan yang membantu cita dan perjuangan NU dituntut untuk berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut sesuai dengan posisi dan fungsi kesarjanaan. Sarjana NU didorong untuk menjadi intelektual organik, yakni sarjana yang tidak hanya duduk manis di menara gading tetapi turun dan terlibat dalam melakukan perubahan dan menemukan problem solving.

Arif Adi Wibowo, M.T. sedang menyampaikan materi Dakwah NU dan Teknologi Media

Peran akademik sarjana tidak terbatas pada how to know tetapi juga how to change. Membaca realitas bukan sekedar untuk realitas, tetapi mentransformasi sesuai dengan paradigma NU yang berporos pada: tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleransi). Paradigma ini harus menjadi spirit perjuangan ISNU dalam berbagai bidang: keagamaan, politik, sosial-budaya dan ekonomi.

Peran dan fungsi kesarjanaan yang berpihak (involved) pada prinsip paradigmatis di atas penting ditegaskan kembali untuk merealisasi pesan rahmatan li al-‘alamin. Dalam bahasa MKNU, fikrah atau cara bernalar harus teraplikasi secara konsisten dengan harakah (gerakan) dan amaliyah. Maka, idealnya sarjana NU adalah yang selalu berorientasi pada wisdom (kebijaksanaan) yang menyatukan antara knowledge (pengetahuan) dan action (amal nyata).

Peserta MKNU dari PC ISNU Ponorogo

Tantangan teknologi yang disruptif menuntut harakah dan amaliyah sarjana NU memanfaatkan perkembangan “media baru”. Media baru telah melahirkan apa yang disebut dengan era pasca kebenaran. Pada era ini “kebenaran” adalah kesamaran, subtil atau bahkan tidak lagi bersifat subtansial. “Kebenaran” bisa saja merupakan “kebohongan” yang di-framing dan dikontruksikan oleh kelompok tertentu lewat “media baru”. Maka, tegas Arif Adi Wibowo, salah satu narasumber MKNU, konter narasi dan menyuarakan kebenaran tidak bisa abai terhadap pemanfaatan internet dan media digital. (AR)

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: