300 views

Dakwah Transformatif Sebagai Alternatif

Dakwah Transformatif Sebagai Alternatif

Oleh: Dani Saputra*

Aktivitas dakwah memang mendapat ruang yang cukup luas, baik melalui media sosial maupun secara langsung. Namun sayangnya, proses ini “tidak” atau kurang memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Tingkat kejahatan, korupsi, intoleransi, dan permusuhan internal agama Islam sendiri, misalnya, tidak mengalami penurunan, alih-alih menyebutnya berubah.

Inilah yang kemudian perlu menghadirkan paradigma dakwah transformatif dalam proses dakwah. Bukankah tujuan dakwah tidak lain adalah untuk menciptakan sebuah perubahan? Berkelindan dengan itu, dakwah transformatif sama hanya dengan upaya untuk menyampaikan esensi Islam; bagaimana perlunya meninjau historisitas, serta mengembalikan substansi agama itu sendiri.

Dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari. Secara dikotomis, proses dakwah terbagi menjadi dua model, pertama bil lisan sebagai dakwah dengan kalam yang terlalu verbal. Kedua adalah dakwah dengan sikap, dengan amaliah nyata. Secara ideal, keduanya harus berimbang, tapi pada kenyataannya tidak demikian. Yang pertama berkembang dan mudah diterima, sementara yang kedua masih terseok-seok dalam menyampaikan prosesnya.

Sebagaimana yang dikatakan Mansour Fakih, proses dakwah yang berlangsung cenderung berorientasi pada konsep komunikasi ala bank. Audien diibaratkan sebuah tungku kosong yang perlu diisi; berupa keyakinan, nilai moral, dan praktik kehidupan supaya diingat dan digunakan ketika mereka butuh. Padahal menurut Kuntowijoyo, sekurang-kurangnya terdapat dua transformasi sosial yang dilakukan oleh Rasulullah ketika berdakwah, yaitu pembebasan manusia (individu) dan transformasi kemasyarakatan (kolektif).

Melalui cara transformasi ini, perlunya mengkaji konsep ummah sebagai kesatuan regio-politik, sebagaimana konsep negara yang makmur, atau masyarakat yang sejahtera sebagai konsep normatif yang berada dalam struktur kesadaran subjektif. Konsep-konsep itu merupakan proyeksi dari cita-cita masyarakat muslim mengenai apa yang disebut sebagai umat terbaik di sebuah negeri yang baik, di bawah ampunan Tuhan. Tahapan dan proses inilah yang kemudian memposisikan Nabi Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia.

***

Dakwah transformatif merupakan model dakwah yang tidak hanya mengandalkan cara verbal untuk menyampaikan materi-materi agama kepada masyarakat, yang memposisikan pendakwah sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan, melainkan mampu menginternalisasi pesan-pesan tersebut ke dalam kehidupan yang nyata dengan cara melakukan pendampingan kepada masyarakat secara langsung. Artinya pendakwah maupun audien di sini sama-sama mempunyai kapasitas sebagai subjek. Mereka berdialog secara aktif sehingga tercipta sebuah penyelesaian atas permasalahan yang ada.

Proses dakwah yang dimaksud di sini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat aspek religiusitas masyarakat, tetapi juga mampu memperkuat basis sosial guna mewujudkan transformasi sosial. Dengan dakwah transfromatif, pendakwah diandaikan mempunyai fungsi ganda, yaitu melakukan proses penyebaran materi keagamaan dan melakukan pendampingan kepada masyarakat, misalnya, mengenai isu-isu lingkungan hidup, korupsi, hak-hak perempuan, problem kemanusian, dan konflik antar agama, serta isu-isu lain yang berkembang.

Berdasarkan fungsi ini, para pendakwah diharapkan mempunyai basis yang kukuh untuk memerankan fungsinya sebagai mediator bagi perubahan sosial melalui aktifitas pemberdayaan, seperti advokasi terhadap hak-hak rakyat oleh negara.

Secara etimologi, transformasi lahir dari kata transform yang diartikan dengan perubahan bentuk, rupa, dan perubahan format, serta perubahan sifat (sesuatu perubahan bentuk dengan pertimbangan adanya perubahan karakker, kondisi, fungsi, alam dan lainnya). Adams memberikan batas, bahwa transformasi sosial merupakan perubahan secara menyeluruh, baik fisik maupun kepribadian.

Sedangkan pengertian transformasi dalam terminologi sosial adalah perubahan secara menyeluruh dalam hal bentuk, sifat, rupa, watak dalam timbal balik antar manusia sebagai individu maupun manusia sebagai kelompok. Transformasi berkelindan dimaknai dengan perubahan sosial dan faktor yang ada dalam proses perubahan sosial, yaitu meliputi faktor pendidikan, teknologi, nilai-nilai kebudayaan dan gerakan sosial. Masyarakat mengalami transformasi jika timbul kesadaran untuk mencerahkan dan membebaskan diri dari dominasi, baik dominasi feodal, maupun dominasi borjuis. Tujuannya menciptakan masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat tanpa kelas seperti yang dikatakan oleh Karl Marx.

Dalam hal ini, transformasi dapat diartikan sebagai satu model atau bentuk alternatif mengenai perubahan sosial yang menjadi tujuan utama dari setiap gerakan sosial yang tidak dapat dipisahan dari masalah pembangunan. Pembaharuan-pembaharuan tersebut terjadi karena sebab-sebab yang ada di dalam maupun dari luar.

Bagi Muhajir, transformasi dalam sosiologi dan antropologi dimaknai sebagai perubahan yang mendasar sampai kepada perubahan nilai kultural. Bersamaan dengannya ada proses transformasi mengenai proses adopsi dan terhadap budaya lain. Jika kesadaran akan persamaan yang ada pada masyarakat tradisional ini meredam, maka perubahan sosial akan terjadi. Inilah satu poin penting mengenai dakwah yang transformatif.

Kompleksnya kehidupan masyarakat menuntut adanya ruang gerak aktivitas dakwah yang lebih transformatif. Proses ini juga bertujuan untuk “memperhatikan” sarasan dakwah kepada kaum yang lemah. Sebagaimana yang didambakan oleh masyakarat Islam, bahwa bukan hanya tertuju pada status sosial yang homogen, tidak juga memandang status soial yang lebih tinggi dan rendah, pejabat dan bawahan, kaya dan miskin, dan sebagainya.  Melainkan melihat dari tingkat ketaqwaan sebuah individu kepada Khaliqnya.

Untuk mencapai hal di atas, pendakwah perlu menekankan sebuah pendekatan ukhuwah yang lebih menghargai dan menghormati harkat dan martabat manusia, memanusiakan manusia, serta menggunakan pendekatan budaya lokal serta teknologi informasi yang tidak bisa dibendung sebagai alat untuk mentransformasikan sebuah pesan. Jika hal-hal ini dijalankan oleh pendakwah, maka di dalam umat Islam akan terwujud masyarakat yang oleh Ali Nurdin disebut masyarakat muttaqien.

Akhirnya, pendakwah tidak lain adalah pemimpin sebuah perubahan masyarakat, di mana ia meski menyampaikan pesan-pesan dakwah sembari melakukan pendampingan di masyarakat. Dari sini diharapkan masyarakat terilhami sisi religiusitasnya serta persoalan-persoalan yang barangkali sulit untuk mereka selesaikan sendiri selama ini mampu terjawab.

Inilah akhir dari proses dakwah yang dilakukan oleh pendakwah dalam menggunakan pendekatan transformatif. Hasil akhirnya adalah menciptakan pendakwah yang bisa melakukan pendampingan mengenai problem-problem sosial yang sedang melanda masyarakat. Dalam konteks ini, proses penyampaian dakwah kepada masyarakat seharusnya didasari dengan nilai mengenai perdamaian, kesalehan sosial yang sesuai dengan cita-cita dari agama itu sendiri – selain perlunya mendorong pada perubahan ekspresi beragama yang toleran dan inklusif.

Dengan ini diharapkan proses dakwah yang berlangsung akan lebih menyentuh pemahaman keagamaan yang komprehensif. Masyarakat sebagai bagian dari proses dakwah akan mendapat pandangan baru mengenai keagamaannya. Bagaimana Islam ternyata tidak hanya mengurusi persoalan surga-negara, melainkan Islam adalah sebuah solusi atas masalah-masalah yang ada. ( Penulis Alumni IAIN Ponorogo, Santri Ponpes Al-Fadlili Gentan, Jenangan, Ponorogo, sekarang sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: