705 views

Dakwah Digital Kolaboratif

SANTRI MILENIAL DAN DAKWAH DIGITAL KOLABORATIF

Oleh: Anifatur Rosidah*

Zaman berkembang dengan segala bentuk perubahan yang dinamis. Ia secara signifikan berpengaruh terhadap berbagai dimensi kehidupan. Perkembangan teknologi informasi mendisrupsi nyaris semua aspek. Disrupsi teknologi memicu inovasi. Perubahan yang hebat dan masif tak terelakkan. Rhenald Kasali, dalam bukunya yang berjudul Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber (2017) mengatakan bahwa disruption merupakan tantangan untuk bertumbuh dan berinovasi. Pilihannya hanya dua: menyerang (disrupting) atau diserang (disrupted).

Secara sederhana disrupsi adalah inovasi itu sendiri. Disrupsi teknologi bermata dua. Ia bisa menjadi musuh-musuh yang tidak nampak dan dapat menembus pemikiran masyarakat termasuk para generasi muda milenial. Salah satu contoh fakta yang terjadi adalah menjamurnya penggunaan media sosial digital yang merambah di kalangan muda milenial. Pengaruh negatif adanya media digital ini dapat membelokkan nilai-nilai karakter dan menurunkan kecintaan terhadap budaya lokal Nusantara.

Sebaliknya, dengan pemanfataan yang tepat, teknologi bisa memberikan kemanfaatan secara luas. Pada sisi inilah remaja dan santri seharusnya mengorientasikan diri. Santri dapat mengambil peran karena mereka merupakan bagian entitas dari remaja yang kehidupannya dimulai dari kehidupan yang bermakna dan dilekati oleh sebuah nilai-nilai karakter. Namun akankah santri telah memanfaatkan media sosial digital dengan baik? Strategi apa yang dapat dilakukan santri dalam menghadapi era disrupsi ini kaitannya dengan teknologi digital?

Peran Santri Milenial
Menurut KH Mustofa Bisri (Gus Mus), seorang santri adalah yang mencintai tanah airnya (tempat dia dilahirkan, menghirup udaranya, dan bersujud di atasnya) dan menghargai tradisi dan budayanya (Ahmad, 2018). Dalam konsep ini, santri dituntut untuk turut andil dalam menggelorakan hubbul wathon (kecintaan pada tanah air). Mencintai tanah air, berjuang untuk negeri, menghargai tradisi budayanya sendiri harus dilihat sebagai bentuk ibadah dan penegakan ajaran Islam. Eksistensi santri semakin dibutuhkan di era milenial sekarang ini, karena santri juga cakrawala bangsa, aset dan pundi-pundi negara untuk tujuan di atas.

Budaya asing tengah merenggut hati para generasi milenial melalui tontonan. Meski para santri notabene bermukim di Pondok Pesantren, namun tidak dapat dipungkiri bahwa sedikit banyak budaya asing telah bertahta di hati mereka. Artinya, dunia digital mulai menghadirkan pernak-pernik yang unik sehingga banyak diminati para remaja (termasuk di dalamnya adalah para santri milenial). Lantas bagaimana strategi yang tepat dalam menghadapi modernisasi zaman? Seperti apakah model peran yang tepat untuk dijadikan cermin dalam menghadapi era disrupsi teknologi?

Sudah banyak contoh yang dapat dijadikan cermin oleh para santri. Salah satunya Wirda Mansur, putri sulung dari Ustadz Yusuf Mansur, yang menyita perhatian publik. Seorang santri yang tidak hanya cantik dan pintar namun juga berprestasi. Santri milenial dengan nama lengkap Wirda Salamah Ulya merupakan hafidz Al-Qur’an dan pernah terpilih menjadi Duta Al-Qur’an saat menempuh pendidikan di sekolah swasta Al Mamoor New York, Amerika Serikat.

Dia juga penulis dan mempunyai karya yang berjudul Reach Your Dream. Gadis yang juga merupakan selebgram ini mengungkapkan bahwa dia hanya berpegang dan belajar dari Al-Qur’an dan Hadis dan tafsir yang mu’tabar dari kedua sumber tersebut. Ia menjadikan media sosial wadah untuk berbuat kebaikan dan berdakwah (Sri Utami, 2019). Menurutnya media sosial bisa menjadi sarana penghubung setiap orang tanpa mengenal sekat dan dapat memberikan dampak yang besar untuk kaum muda muslim.

Berangkat dari hal tersebut, santri diharuskan open mind (berwawasan terbuka) dan bersikap inklusif. Dengan bekal ilmu agama dari para Kyai, santri dapat memberikan kontribusinya dengan berbagai cara, salah satunya dengan berdakwah melalui media sosial. Dakwah yang dimaksudkan di sini tidak melulu dengan metode salaf nan kuno. Ilmu dan pedoman tetaplah Al-Qur’an dan Hadis, namun metode dan sarana yang diterapkan bisa dimodifikasi sesuai konteks modern.

Tujuannya agar dakwah bisa diterima dengan baik oleh khalayak. Dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin dengan konsep Ahlus Sunnah Waljamaah serta kecintaan terhadap bangsa-negara (hubbul wathon minal iman), merupakan tema-tema ringan yang dapat disampaikan oleh para santri dengan metode yang menarik.

Dakwah Digital Kolaboratif (Collaborative Digital Da’wah)
Metode dakwah yang diusung oleh Wirda Mansur patut untuk dicontoh. Media sosial yang dimilikinya dimanfaatkan untuk berdakwah yang mampu memotivasi para generasi muda. Tidak menutup kemungkinan santri-santri se-Nusantara berkolaborasi untuk berdakwah mengajak khalayak umum melalui dunia digital. Santri dapat membuat konten yang menarik dan inovatif dalam bentuk tulisan, video, meme, quote, infografis. Santri milenial sudah seharusnya ikut menyemarakkan dakwah digital dibekali bagaimana cara menyikapi media sosial, memilah berita yang baik dan buruk, dan mengisi media daring (online) dengan konten ahlussunnah wal jamaah (Ayu Kristina, 2019).

Era disruptif yang lekat dengan dunia digital ini memberikan peluang besar bagi para santri untuk turut berkontribusi mendakwahkan Islam. Jumlah santri yang tidak sedikit di Indonesia merupakan peluang emas untuk saling berkolaborasi membuat konten-konten islami. Inilah kemudian yang penulis sebut sebagai “dakwah digital kolaboratif” (Collaborative Digital Da’wah atau CDD).

Gagasan tersebut dapat dituangkan dalam langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, sesama santri dalam satu lingkungan misal dalam satu pesantren berkolaborasi membentuk tim digital dakwah. Kedua, membuat kepengurusan yang dibagi menjadi 2 divisi, yakni divisi dakwah dan divisi media digital. Ketiga, divisi dakwah khusus membuat konten materi dakwah yang dikembangkan dan disesuaikan dengan era sekarang. Keempat, divisi media digital khusus menaungi media publikasi yang difokuskan pada media sosial instagram dan youtube. Data yang dirilis Statista (April 2020 ) menempatkan Youtube dan Instagram sebagai sepuluh media sosial terpopuler (Statista, 2020). Dua media sosial ini banyak digandrungi oleh remaja milenial.

Kelima, membuat konten dakwah dan memodifikasinya dalam bentuk meme dan quotes untuk di-share di instagram, serta pembuatan video motivasi untuk di-upload di Youtube. Keenam, tidak hanya santri dalam satu lingkup pesantren, namun kolaborasi lintas pesantren untuk membuat konten dakwah yang lebih luas. Ketujuh, santri berkolaborasi dengan para pelajar dan masyarakat umum untuk membuat film pendek yang berasaskan Islam. Kedelapan, santri travelling lintas pesantren untuk mengumpulkan konten-konten dakwah yang dibuat menjadi video travelling da’wah yang dapat dimuat di media sosial.

Delapan poin penting dalam dakwah digital kolaboratif di atas sangat penting di tengah arus besar pemahaman keislaman transnasional yang juga memanfaatkan teknologi untuk penyebaran paham mereka. Ciri dari ideologi Islam transnasional ini adalah politisasi agama dan purifikasi keagamaan yang berpotensi besar menyerang ideologi negara, kemajemukan, dan tradisi lokal. Realitas agama dan politik di Timur Tengah cukup memberikan gambaran tentang hal ini.

Maka, counter wacana pemahaman keagamaan yang moderat dalam panggung digital menjadi tak terelakkan bagi para santri. Dakwah digital kolaboratif menjadi jawaban dan solusi. Santri milineal harus meningkatkan kompetensi dan kualitasnya. Tantangan global ke depan, santri tidak saja dituntut menguasai konten, tetapi juga skill teknologi informasi untuk menjadi role model santri yang moderat dan inspiratif. Semoga! (Penulis adalah Guru di MTs Ma’arif I Ponorogo dan Nominator I Lomba Karya Ilmiah Populer PC ISNU dan LTN PCNU Ponorogo). [AR]

Sumber Referensi:
Ahmad Rozali, 2018. Definisi Santri Menurut Gus Mus. Diakses dari https://www.nu.or.id/post/read/97721/definisi-santri-menurut-gus-mus pada tanggal 30 Oktober 2020.

Ayu Kristina, 2019. Literasi Digital, Cara Dakwah Santri Milenial. Diakses dari https://islamsantun.org/literasi-digital-cara-dakwah-santri-milenial/ pada tanggal 31 Oktober 2020.

Rhenald Kasali, 2007. Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sri Utami, 2019. Wirda Salamah Ulya Medsos untuk Kebaikan dan Dakwah. Diakses dari https://mediaindonesia.com/read/detail/237954-wirda-salamah-ulya-medsos-untuk-kebaikan-dan-dakwah pada tanggal 31 Oktober 2020.

Statista, 2020. Ini Media Sosial Paling Populer Sepanjang April 2020. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/05/25/ini-media-sosial-paling-populer-sepanjang-april-2020 pada tanggal 31 Oktober 2020.

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: