91 views

Covid-19: Nestapa Kemiskinan dan Kelaparan

Covid-19: Nestapa Kemiskinan dan Kelaparan Masyarakat Akar Rumput

Oleh : Indana Izzatus Sholikhah*

Kemiskinan bukanlah sebuah pilihan apalagi jalan hidup yang didambakan. Rakyat miskin juga tidak pernah berharap untuk hidup dalam garis kemiskinan, karena bagaimanapun juga, pemenuhan kebutuhan menjadi terhambat, dan dampak yang diberikan tidak main-main. Dampak kemiskinan bisa dari berbagai sektor, yaitu kesehatan, pendidikan, pemenuhan kebutuhan primer, seperti sandang, pangan dan papan. Yang paling buruk dari dampak kemiskinan adalah kelaparan, penyakit paling mematikan dengan obat paling mudah didapatkan. Penyakit yang hanya menyerang satu golongan dalam masyarakat, golongan masyarakat miskin.

Pada tahun 2018 tercatat 9.8% (26 juta jiwa) dari 267 juta populasi di Indonesia mengalami kemisikinan, diantaranya ada 4.6 juta anak yang kekurangan gizi. Pada tahun 2015, 20.7 juta jiwa (8.3% dari populasi di Indonesia) beresiko mengalami kelaparan (Garnesia:2019), sedangkan pada tahun 2019 tercatat lebih dari 24.79 juta jiwa di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan (Fahzry: 2020).

Global Hunger Index (GHI), yang merupakan alat untuk melacak atau menilai adanya kelaparan di berbagai daerah, negara, maupun secara global, menempatkan Indonesia sebagai negara ke-70 dari 117 negara yang ada di dunia, dengan skor 20.1 pada tahun 2019. Yang bisa dikategorikan serius adalah tiga kategori: kategori rendah (kurang dari 9,9), moderat (10-19,9), serius (20-34,9), mengkhawatirkan (35-49,9), sangat mengkhawatirkan (lebih dari 50) (Dzulfaroh: 2019).

GHI diukur melalui 4 indikator yaitu tingkat kematian balita, tingkat kekurangan gizi pada penduduk, stunting pada balita, dan wasting pada balita. Penilaian yang dilakukan sejak tahun 2000 menunjukkan bahwa skor GHI di Indonesia terus mengalami penurunan. Tahun 2000 Indonesia mendapatkan skor 25.8, kemudian pada tahun 2005 Indonesia mendapatkan skor 26.8, skor yang meningkat dan masih dikategorikan serius. Pada tahun 2010 mengalami sedikit penurunan dengan skor 24.9, dan pada tahun 2019 turun sebanyak 3.8 skor hingga menjadi 20.1. (Dzulfaroh: 2019). Meskipun masih dikategorikan serius, setidaknya ada perbaikan yang dilakukan beberapa tahun belakangan.

Menurut data World Food Program (WFP), sebelum adanya wabah COVID-19, terdapat lebih dari 135 juta orang didunia yang mengalami kelaparan dengan penyebab konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi. Bahkan, 75% populasi di Lebanon dikategorikan butuh bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Angka 135 juta orang kelaparan tadi bisa meningkan hingga dua kali lipat setelah adanya wabah COVID-19 (Fahzry: 2020) yang berarti bisa ada lebih dari 270 juta penduduk dunia yang kelaparan karena adanya krisis ekonomi, konflik, dan perang melawan COVID-19.

Hingga 27 Mei, Kemenaker melaporkan ada 1.792.108 pekerja di RI terpaksa dirumahkan atau terkena PHK lantaran dampak corona. Mereka terdiri dari 1.058.284 pekerja formal dirumahkan, 380.221 kena PHK, 318.959 pekerja sektor informal terdampak, 34.179 calon pekerja migran gagal berangkat, dan 465 pemagang yang dipulangkan. Tetapi yang paling terkena dampak dari semua lahan pekerjaan adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang memiliki lebih dari 115 juta pekerta diseluruh wilayah Indonesia (Daud: 2020).

UMKM menjadi lahan terbesar dengan pekerja lebih dari 115 juta penduduk di Indonesia dari berbagai sektor, yaitu kuliner, fashion, bidang jasa, elektronik, pertanian, peternakan, dan furniture. UMKM menyumbang 60% PDB (Produk Domestik Bruto) dan berkontribusi 14 persen pada total ekspor nasional (Fajar: 2020) tetapi sejak april 2020 Kementrian Koperasi dan UKM mencatat bahwa 43% dari seluruh UMKM di Indonesia berhenti beroperasi sejak adanya wabah COVID-19 (Fajar: 2020).

Dengan adanya krisis keuangan hampir di segala lapisan masyarakat, sektor jual beli barang maupun jasa terhambat, social distancing sebagai jalan tengah mencegah menyebarnya COVID-19 membuat banyak pelaku UMKM seperti ojek online tidak mendapatkan pemasukan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Omset pada warung makan maupun cafe juga menurun drastis. Tidak banyak masyarakat berniat untuk keluar sekedar mengobrol dengan teman seperti biasanya. Anjuran untuk tetap berada dirumah sangat penting. Karenanya, banyak UMKM di bidang kuliner yang memutuskan untuk menutup lahan dagang untuk sementara. (*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Agama Angkatan 2018)

DAFTAR PUSTAKA

Daud,Ameidyo. 2020. Menaker Sebut 3 Juta Pekerja Dirumahkan dan Kena PHK Imbas Corona.  Dalam https://katadata-co-id/. Diakses pada 14 Juni 2020.

Dzulfaroh, Ahmad Naufal. 2019. Riset Indeks Kelaparan Global Indonesia dalam Kategori Serius. Dalam https://www.kompas.com/. Diakses pada 14 Juni 2020

Fahzry, Rachmat. 2020. Musibah Kelaparan Melanda di Tengah Pandemi COVID-19. Dalam https://nasional.okezone.com/. Diakses pada 14 Juni 2020

Fajar, Taufik. 2020. 43% UMKM Tutup akibat COVID-19. Dalam https://economy.okezone.com. Diakses pada 15 Juni 2020

Fajar, Taufik. 2020. Tantangan Besar UMKM di Tengah COVID-19. Dalam https://economy.okezone.com. Diakses pada 15 Juni 2020

Garnesia, Irma. 2019. Periksa Fakta Klain 22 juta Rakyat Kelaparan di Era Jokowi. Dalam https://tirto.id/. Diakses pada 14 Juni 2020.

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: