73 views

Bias Gender dalam Radikalisme

Guru Besar dari Sarjana NU Bicara Bias Gender dalam Radikalisme

Selasa (10/09/2019) digelar Pengukuhan  dua Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, yakni Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah M. Ag. dan Prof. Dr. Mohammad Nur Yadin M. Ag. Pengukuhan dilaksanakan di Auditorium Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim. Terlihat hadir pada acara ini Prof. Mas’ud Said (Ketua PW ISNU Jawa Timur), Dr. Aksin (Dewan Ahli ISNU Ponorogo), dan Dr. Abid Rohmanu (Ketua PC ISNU Ponorogo).

Profesor Umi sumbulah adalah Sarjana NU yang mempunyai konsen pada wacana “Perempuan, Keluarga, dan Gerakan Deradikalisme. Dalam orasinya yang berjudul” Perempuan dan Keluarga: Radikalisme dan Kontra Radikalisme” Prof. Sumbulah menegaskan adanya bias gender dalam melihat keterlibatan perempuan dalam radikalisme.

Prof. Sumbulah menyatakan telah terjadi” pergeseran peran perempuan” dalam gerakan radikalisme di Indonesia. Asumsi radikalisme yang selama ini identik dengan laki-laki telah bergeser dan terdistribusi pada kaum perempuan. Perempuan tidak lagi dibatasi pada peran minor dalam praktek radikalisme (pendukung laki – laki dalam mengumpulkan informasi, merawat kesehatan, dan memelihara rumah aman). Perempuan telah terlibat langsung dalam tindakan kekerasan atas nama agama (pengantin jihad dan kombatan). Kasus terorisme yang dilakukan satu keluarga (pelibatan anak-istri) di Surabaya dan penangkapan enam perempuan dalam kasus terorisme 2016 adalah sebagian kecil contoh pergeseran peran perempuan.

Oleh karena itu, Prof. Sumbulah mengajak mengakhiri pandangan bias gender terhadap radikalisme di Indonesia. Perempuan harus dilibatkan dalam wacana dan gerakan kontra radikalisme. Peran perempuan dalam derakalisme tidak terbatas pada wilayah domestik tetapi juga merambah wilayah publik sesuai dengan kapasitas dan kompetensi perempuan (perempuan sebagai Ibu rumah tangga dan sebagai penggerak sosial).

Untuk kepentingan di atas, Profesor dalam bidang Studi Islam ini yang juga Istri dari Dr. H. Agus Purnomo (Warek II IAIN Ponorogo) menyampaikan beberapa tawaran kontra radikalisme perempuan. Tawaran tersebut adalah: penguatan struktur keluarga sakinah, pendampingan/penguatan perempuan dalam menangkal redikalisme, dan penguatan kualitas hidup perempuan dalam berbagai askpek (sosial-budaya, ekonomi, kesehatan reproduksi) untuk menyebut sebagian.

Di akhir acara, Dr. Aksin, Dewan Ahli ISNU Ponorogo berharap pengukuhan Guru Besar ini membawa spirit baru, khususnya para Akademisi NU untuk meningkatkan jenjang karir akademik tertinggi, yakni Guru Besar. Dengan hadirnya para Guru Besar dari Sarjana NU, diharapkan sumbangsih NU akan lebih besar bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. (AR)

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: