148 views

Aspirasi untuk Muktamar Dosen

Muktamar Dosen PMII se- Indonesia Harus Bisa Merumuskan Siapa Navigator Perubahan Bangsa

Oleh: Sunanto*

Kata Muktamar Dosen sekilas pasti membuat orang merinding. Karena di situ ada titel dosen yang secara spesifik orang-orangnya terdidik dan terlatih secara keilmuwan. Mereka luas pemikirannya. Terminologinya bersumber dari berbagai arah. Cara pandang mereka ke depan tidak semata-mata wacana pikiran yang tak diolah, melainkan pemikiran yang bertumpu pada permasalahan. 

Sedangkan masalah dalam hal ini bisa diambil dari suatu perkembangan yang ada di wilayahnya sendiri-sendiri. Tetapi yang perlu jadi perhatian khusus adalah, ketika ada suatu komunal manusia yang sepaham, kemudian membuat perumusan arah kemajuan, maka tidak perlu diragukan lagi, pasca itu, pasti ada banyak macam variasi gebrakan baru guna perkembangan Indonesia, khususnya identitas komunal itu.

Harapan kami sederhana, Muktamar dosen PMII Se-Indoensia kali ini diutamakan mampu menghasilkan rumusan program strategis yang dapat menjawab berbagai persoalan kemahasiswaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan, karena desain besarnya adalah menjawab tantangan demografi di tahun 2045. Jangan sampai demografi yang awalnya jadi bonus, malah bisa jadi mudarat karena tidak ada kesiapan dalam menghadapinya.

Pada Kongres ke-XX PMII kemarin, Presiden RI Joko Widodo berpesan kader PMII harus bisa menjadi navigasi perubahan. Menurut kamus bahasa indonesia Navigasi atau pandu arah, tujuannya adalah penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta, dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang pedoman arah (compass) dan peta serta teknik penggunaannya haruslah dimiliki dan dipahami.
 
“Kader-kader PMII harus bisa menjadi navigasi perubahan. PMII harus terus tumbuh dan berkembang menjadi organisasi kepemudaan yang inovatif dan adaptif. Membuka diri dan adaptif terhadap hal-hal yang baru,” jelas Presiden waktu itu.

Penempatan kata navigasi juga perlu digaris bawahi. Navigasi hanya arah, rute, jalan, dan sebagainya. Sedangkan yang paling penting lagi adalah peran navigator itu sendiri. Jika tanpa navigator, mana mungkin suatu navigasi bisa jelas. Sebaliknya, navigasi tanpa navigator, lalu siapa pengarahnya?. 

Muktamar pertama dosen PMII Se-Indonesia tentunya akan memunculkan banyak rekomendasi yang progresif, inovatif, dan berkemajuan, sesuai dengan kebutuhan bangsa ini. Kader PMII tidak hanya di arahkan ke politik saja. Seharusnya diarahkan ke sektor ekonomi, teknologi, dan kemaritiman. Sehingga selain navigasi, mereka juga harus mampu jadi navigator penununtun arah gerak mau dikemanakan Indonesia di tahun 2045.

Salah satu solusinya mau tidak mau segera dipetakan sesuai dengan ke ilmuan kader, misalnya ada proses kaderisasi mencari bibit-bibit unggul yang sudah dipersiapkan dari awal, contohnya melalui beasiswa untuk kader-kader PMII berprestasi yang di arahkan ke bidang-bidang yang sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini. 

Karena kader PMII akan ketinggalan jauh jika model kaderisasinya tidak di sesuaikan dengan zaman. Presiden juga menyempaikan, dunia telah berubah dengan cepat dan menimbulkan disrupsi pada semua sektor kehidupan. Perubahan selalu tidak ramah bagi yang tidak siap berubah dan berhenti belajar. Akibatnya, banyak organisasi harus rela digilas perubahan karena tidak sigap beradaptasi dengan perubahan.

Untuk itu, Harapan kami Muktamar dosen PMII Se- Indonesia mendapatkan rekomendasi yang sesuai sektor kebutuhan bangsa ini, agar kader PMII dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi terkait dengan penguasaan ilmu dan teknologi sifatnya adalah fardlu ain bagi setiap individu. Kenapa? Karena PMII merupakan laboratorium kepemimpinan generasi muda Islam yang akan ikut menentukan maju atau mundurnya Indonesia di masa depan. 

Harapan lain adalah, Muktamar nanti jangan sampai hanya sekadar rapat, diskusi dan tanpa adanya tindak lanjut. Mengingat ini adalah yang pertama, otomatis nanti diperlukan kajian latar belakang masalah kenapa Muktamar bisa dilakukan. Di samping itu, perumusan objek dan sumber masalah pun tidak lepas dari perhatian. 

Alangkah baiknya, para dosen yang ahli di bidangnya masing-masing itu dikumpulkan, kemudian di setiap bidang dirumuskan suatu permasalahan untuk mencari jalan keluar. Pastinya kalau berbicara organisasi, tentunya tidak jauh-jauh dari soal kaderisasi formal, non formal, dan informal. Lalu dari kaderisasi tersebut dihubungkan dengan sub-sub disipilin ilmu yang terkumpul dalam forum Muktamar.

Oleh karena itu, pengumpulan dan pengelompokan masalah penting dilakukan. Karena untuk mencapai kejelasan hasil yang kongkret, harus dijalankan secara profesional dan berintegritas. Contoh saja, dosen dengan masing-masing keilmuannya digolongkan, sosial dikelompokkan dengan sosial, teknik dengan teknik, seni dengan seni, budaya dengan budaya, sastra dengan sastra, dan dengan ilmu-ilmu lainnya.

Kalau itu memang benar terjadi, saya optimis jika PMII bisa maju di beberapa tahun ke depan, sebab keilmuwan PMII sudah lengkap dan terdisiplin dengan juklak juknis yang matang dari para senior-senior mereka. Asalkan Muktamar memiliki konsep cara pandang luas dan bebas ketika melihat peluang dan kesempatan di masa mendatang. 

Kita tengok persoalan kecil di kampus-kampus saja. Selama ini, selain kaderisasi, pendirian rayon juga bertujuan agar mengklaster bidang keilmuwan kader di masing-masing rayon. Langkah tersebut merupakan langkah yang cukup menjanjikan, pasalnya di tiap fakultas mempunyai ciri keilmuwannya masing-masing.

Kita juga setidaknya paham bagaimana dengan hadirnya suatu ilmu bisa menjawab segala persoalan masyarakat yang ada. Ilmu dan ilmuwan adalah satu kesatuan yang hadir di tengah-tengah masalah. Karena itu untuk menjawab relevansinya ilmu di era sekarang. Apabila sudah teruji relevansinya, baik secara teori atau pun praktik, maka tidak ada alasan lagi bagi mahasiswa untuk tidak bermanfaat. (Penulis adalah Dosen FKIP UNUSA Pengurus ISNU Surabaya). [AR]

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: