869 views

Argumen Relasi Agama dan Sains

Argumen Relasi Agama dan Sains

(Menggali Inspirasi dari Kasus Corona)

Oleh: Aksin Wijaya*

Tulisan ini lahir setelah setelah saya menyampaikan materi relasi agama, filsafat dan sains di kanal Youtube beberapa waktu yang lalu. Setelah itu muncul permintaan dari sebagian penikmat Youtube agar saya menuangkannya juga dalam sebuah tulisan singkat. Sajian di Youtube tersebut bermula dari renungan saya atas fenomena muncunya kesombongan beragama yang dipertontonkan sebagian umat Islam di tengah pandemi covid-19. Dengan sombongnya mereka mengatakan, “kami tidak takut pada korona. Kami hanya takut kepada Allah”.

Pada saat yang sama, mereka menuduh pemerintah dan organisasi keagamaan yang menghimbau/memerintahkan dan memfatwakan ibadah di rumah (Sholat Jum’at digantikan dengan zuhur, tarawih, dan lainnya) di zona merah sebagai berideologi komunis dan ingin menghancurkan umat Islam. Padahal,  pemerintah membuat kebijakan politik berdasarkan sains, begitu juga organisasi keagamaan semacam NU dan MUI merumuskan fatwa keagamaan berdasarkan sains. Orang-orang yang sombong dalam beragama itu mempertentangkan agama dan sains, sembari menolak sains. Atas dasar itu, saya ingin memberikan argumen tentang hubungan agama dan sains, sehingga kasus korona ini bisa dipahami secara rasional, dan menghindari kesombongan dalam beragama.

Ilmu Ilahi dan Ilmu Basyari

Perlu dibuat pembedaan antara ilmu ilahi dan ilmu basyari. Ilmu ilahi adalah ilmu yang bersumber dari Tuhan, yang menawarkan kebenaran dan inilah yang disebut agama. Sebagai sesuatu yang lahir dari Dzat yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, agama juga tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ia akan senantiasa relevan dengan setiap ruang dan waktu. Ia sejatinya kaya akan makna.

Ali bin Abi Thalib menyebut al-Qur’an sebagai sumber asasi agama mengandung banyak wajah “hammalu aujuhin”. Di sisi lain, ilmu basyari adalah ilmu yang lahir dari manusia, melalui proses pencarian akan kebenaran, baik kebenaran agama maupun kebenaran non-agama. Ilmu kategori ini disebut ilmu manusia. Karena ia lahir dari dzat yang terikat oleh ruang dan waktu, ilmu kategori ini senantiasa lekang oleh ruang dan waktu. Ia bisa sejalan dengan realitas ruang dan waktu tertentu, dan bisa tidak sejalan dengan realitas ruang dan waktu lainnya. Karena itu, ilmu basyari ini tidak hanya beragam, tetapi juga berjalan dinamis bahkan revolusioner.

Di sisi lain, ilmu manusia mempunyai beberapa nama, dan penamaannya bergantung pada obyek kajiannya. Jika obyek kajiannya adalah agama (al-Qur’an dan hadis), ilmu kategori ini disebut ilmu agama; dan jika obyek kajiannya adalah non-agama, misalnya alam dan manusia, ilmu kategori ini bisa disebut ilmu non-agama. Ilmu agama mempunyai beberapa disiplin, seperti ilmu kalam, fiqh dan tasawuf; sedang ilmu non-agama mempunyai beberapa disiplin lainnya, seperti ilmu alam (sains), ilmu sosial humaniora dan filsafat. Bagaimana bentuk-bentuk hubungan antara disiplin keilmuan itu?

Hubungan antara ilmu ilahi dengan ilmu basyari mengambil bentuk hubungan harmonis, tidak bertentangan. Hanya, posisi keduanya berbeda. Ilmu ilahi (baca: agama) berposisi sebagai sumber kebenaran. Ilmu basyari berposisi sebagai proses pencarian kebenaran melalui sumbernya, baik agama maupun non-agama. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu didiskusikan lebih lanjut dari hubungan keduanya. Yang perlu didiskusikan lebih lanjut adalah hubungan antara ilmu-ilmu manusia itu sendiri, baik antara ilmu agama dengan ilmu non-agama, maupun antara disiplin-disiplin ilmu yang ada di dalam internal ilmu agama dan ilmu non-agama.

Hubungan internal ilmu-ilmu agama bisa mengambil beberapa bentuk: hubungan yang mandiri atau berbeda, hubungan harmonis, dan hubungan tidak harmonis. Ini sebagaimana ditunjukkan oleh dinamika hubungan antara ilmu kalam dengan fiqih, ilmu kalam dengan tasawuf, maupun antara ilmu fiqh dengan tasawuf dalam sejarah keilmuan agama (Islam). Hubungan mandiri terjadi karena masing-masing disiplin keilmuan itu mempunyai obyek, metode dan tujuannya sendiri-sendiri. Hubungan harmonis terjadi jika ketiganya diletakkan pada posisinya masing-masing dan dalam konteks kesempurnaan pemahaman Islam, yang disebut trilogi pemikiran Islam. Sedang hubungan tidak harmonis itu terjadi jika ketiga disiplin keilmuan Islam itu diletakkan pada posisi yang saling bertentangan, saling mengklaim diri sebagai representasi keilmuan Islam, sembari menuduh disiplin lainnya sebagai disiplin di luar keilmuan Islam. ini bergantung pada sikap subyek yang terlibat di dalamnya.

Sudah maklum dalam potert sejarah fuqaha (ahli fikih) menuduh sesat para mutakallimun (ahli ilmu kalam) dan sufi. Sebaliknya mutakallimun menuduh sesat fuqaha dan sufi. Namun, jarang sekali para sufi menuduh sesat fuqaha dan mutakallimun. Para sufi bisanya hanya mementingkan hubungan dirinya dengan Tuhan, dan seringkali melupakan atau mengabaikan pihak lain. Malahan, para sufi selalu menjadi korban persekusi keduanya. Begitu juga, seringkali terjadi hubungan disharmoni antar satu disiplin keilmuan agama, misalnya dalam disiplin fikih antara mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Hal yang sama terjadi dalam disiplin imu kalam antara Muktazilah dengan Asy’ariyah, Syi’ah dan Jabariyah. Dalam disiplin tasawuf, disharmoni terjadi antara penganut tasawuf syar’i dengan penganut tasawuf falsafi.

Hukum yang terjadi pada disiplin ilmu non-agama sama dengan hukum ilmu agama. Bisa terjadi hubungan yang mandiri, harmonis dan disharmonis antara disiplin keilmuan non-agama, misalnya antara disiplin ilmu alam dengan disiplin ilmu sosial dan filsafat, bahkan antara internal disiplin keilmuan alam, sosial dan filsafat itu sendiri.

Jika antara internal disiplin keilmuan agama dan non-agama saja bisa mengambil bentuk hubungan yang mandiri, hamonis dan disharmonis, apalagi antara ilmu agama dengan ilmu non agama. Hubungan keduanya bergantung pada obyek kajiannya, metodenya dan tujuannya. Ilmu agama tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan ilmu non-agama (mandiri) jika obyek kajiannya hanya dibahas oleh salah satunya, dan tidak oleh yang lainnya. Misalnya tentang akhirat. Masalah ini hanya dibahas oleh ilmu agama, dan sama sekali di luar bahasan ilmu non-agama. Sehingga tidak ada hubungan apapun antara keduanya. Dalam masalah ini, keduanya berjalan sendiri-sendiri. Tetapi, bisa terjadi adanya hubungan antara keduanya jika masalah yang dibahas adalah masalah yang sama. Obyek pembahasan sama namun dilihat dari sisi yang berbeda. Bentuk hubungannya tergantung pada metode, tujuannya dan pihak yang terlibat di dalamnya. Bisa mengambil bentuk hubungan harmonis, bisa juga disharmonis, misalnya ketika membicarakan masalah wabah korona yang dikenal dengan nama covid-19.

Para ahli kesehatan menganalisis wabah korona dari sisi sains. Dari sisi sains, penyebaran korona terjadi melalui sentuhan fisik antara seseorang yang terkena virus mematikan ini (positif) dengan orang lain yang sehat (negatif). Karena itu, mereka menyarankan agar masyarakat menghindari sentuhan dan kedekatan fisik terutama denga mereka yang positif korona.

Kebijakan dan Fatwa Berbasis Sains

Pemerintah dan ulama’ lantas membuat kebijakan berdasarkan hasil analisis sains tadi. Untuk memutus rantai penyebaran itu, Pemerintah membuat kebijakan social/physical distancing yang kini diperluas menjadi PSBB, melarang mudik dan pulang kampung. Dengan hasil analisis sains pula, para ulama’ dari NU dan MUI membuat fatwa agar masyarakat tidak melaksanakan kegiatan keagamaan yang mengundang banyak orang, baik dalam bidang muamalah seperti kegiatan pengajian umum, maupun ibadah mahdah, seperti shalat berjama’ah lima waktu, shalat jum’at dan shalat tarawih terutama di zona merah. Di sinilah, hubungan harmonis antara agama dengan sains.

Akan tetapi, bisa saja muncul pemahaman yang mempertentangkan keduanya, yakni oleh kelompok yang sombong dalam beragama, yang pada umumnya tidak memahami kaidah-kaidah ijtihadiyah, seperti dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalb al-mashalih (menghindari kerusakan lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat/kemaslahatan), la darara wa la dirar (dilarang membuat kemudaratan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain).

Shalat berjamaah, baik lima waktu maupun jum’at dan tarawih adalah upaya umat Islam meraih kemanfaatan ukhrawi, yakni pahala. Akan tetapi, di zona merah, upaya itu justru bisa membawa kemudaratan duniawi, yakni menyebarnya penyakit yang berakibat fatal, yang pada akhirnya tidak bisa melanjutkan upayanya meraih kemanfaatan ukhrawi. Maka meninggalkan kemudaratan dunia itu lebih utama daripada meraih kemanfaatan ukhrawi. Bukankah kondisi abnormal ini berbatas waktu? (Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Ponorogo dan Dewan Ahli PC ISNU Ponorogo). AR

Sumber gambar: Merdeka.com

Avatar
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: