300 views

Agama dan Masyarakat Multikultural

Agama dan Masyarakat Multikultural di India

Oleh: Nur Rif’ah Hasaniy*

India adalah salah satu Negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Asia. Populasinya lebih dari satu miliar jiwa. Sama seperti Indonesia, kehidupan di India kaya akan keragamana dan perbedaan. Terutama pada aspek keagamaan. Dari 1,3 miliar warga India, 79,8%-nya beragama Hindu, 14,2% Islam, 2,3% Kristen, 1,7% Sikh, 0,7% Budha, 0,4% Jainisme, dan 0,9%-nya menganut kepercayaan lokal. Selain sebagai kekayaan multikultural, keragaman dan perbedaan itu juga bisa menjadi masalah yang bisa melahirkan konflik antar penganut agama.

Sejalan dengan itu, tulisan ini berusaha menggambarkan bagaimana kehidupan beragama dalam masyarakat multikultural India, baik pada masa lalu maupun dan terutama masa kini. Sumber utama tulisan ini adalah karya Saidul Amin, sehingga bisa dikatakan, tulisan ini berbentuk review pemikiran, yakni pemikiran Saidul Amin. Sebagaimana tulisan Saidul Amin, tulisan ini diawali dengan menggambarkan hubungan Islam, Hindu, Kristen dalam pandangan Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) dan Abul Kalam Azad (1888-1958).

Hubungan Islam, Hindu, Kristen di India

Sebagaimana ditulis oleh Saidul Amin, menurut ahli sejarah, Islam masuk ke Punjab, India pada tahun 712 M, dipimpin oleh Muhammad bin Qasim at-Thaqafi, seorang panglima perang Bani Umayyah pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik. Beliau berhasil mendirikan kerajaan diwilayah yang saat ini disebut Pakistan.

Namun, beberapa sumber juga mengatakan bahwa pada masa Umar bin Khattab tahun 633-637 M, sudah ada ekspedisi laut menuju laut Tana, Broaach, dan Dabul. Lalu dilanjutkan pada masa Ustman bin Affan, dibawah pimpinan Abdullah bin Amr pada tahun 644 M dan berhasil menduduki tanah India pada tahun 699 dibawah pimpinan Haris al Muhabbab. Akan tetapi, fakta sejarah mengatakan bahwa penyebaran Islam ke seluruh India disempurnakan oleh bangsa Turki pada akhir abad ke 10 M.

Puncak kejayaan Islam di India diraih pada masa kerajaan Mughal. Dipimpin pertama kali oleh Babur (1526-1530), Humayun (1530-1556), Sher Shah Sur (1549-1556), Akbar yang Agung (1556-1605), Jahaghir (1605-1627), Shah Jahan (1627-1658), Aurangzeb Alamgir (1658-1707), dan terakhir pada masa Bahadur Shah II (1837-1857). Sultan ini dipecat dan dibuang oleh Inggris ke Rangon dan meninggal di sana tahun 1862.

Pada masa penjajahan Inggris di India inilah, Islam mengalami keruntuhan. Sebenarnya, tanda-tanda kejatuhan Mughal sudah dapat dirasakan sejak akhir pemerintahan Aurangzeb Alamgir. Ada tiga faktor yang kiranya menggiring pada asumsi tersebut, yakni; Pertama, sudah tidak ada lagi Sultan yang kuat dan berwibawa. Kedua, disatu sisi banyak wilayah kekuasaan Islam yang melepaskan diri dari kerajaan pusat, sedangkan dilain sisi, kekuatan Hindu dibawah pimpinan Maratha justru semakin kuat. Ketiga, kedudukan penjajah, yakni Inggris, di India semakin kuat. Penjajahan Inggris juga memposisikan Islam dalam keadaan yang dilematis. Antara bergabung dengan Hindu untuk melawan penjajah, atau sebaliknya, bersekutu dengan Inggris untuk melawan kekuatan Hindu.

Ada dua tokoh yang tampil dalam pembahasan ini, yakni Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) dan Abul Kalam Azad (1888-1958). Menurut Ahmad Khan, perkembangan Kristen di India identik dengan penjajahan Inggris, diwarnai dengan perang dan pertumpahan darah. Ahmad Khan melihat cara lama melawan penjajah sudah tidak mempan lagi. Maka ia menggunakan cara baru; kompromi, bukan konfrontasi, sikap permusuhan harus berubah menjadi persahabatan.  Menurutnya, melawan Inggris melalui jalan perang dan pemberontakan justru akan menambah kehancuran umat Islam.

Ia menggunakan pendekatan teologis dan historis. Menurut Ahmad Khan, Islam memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Kristen ketimbang dengan Hindu, karena Islam dan Kristen sama-sama agama samawi. Islam dan Kristen disebut sebagai Ahl al-Kitab dalam surat Ali Imran ayat 64. Secara historis, umat Islam yang menjadi minoritas di India, sering mengalami konflik dengan umat Hindu yang merupakan mayoritas di Negara tersebut.

Sedangkan Azad, masih dalam sumber yang sama, lebih condong kepada ikatan antara Islam dan Hindu. Menurut Azad, Islam dan Hindu harus bersekutu untuk melawan dan mengusir penjajah dari Negeri mereka. Islam dan Hindu adalah saudara sebangsa, senasib, dan seperjuangan, sedangkan Kristen adalah penjajah yang mengeksploitasi Negeri mereka demi kepentingan Krinsten sendiri. Sama seperti Ahmad Khan, prinsip Azad juga didasarkan pada Al-Qur’an, yakni QS Al-Mumtahanah ayat 8-9.

Ada tiga kesimpulan yang dapat kita Tarik dari pemikiran dua tokoh di atas tentang hubungan Islam, Hindu dan Kristen, yakni: Pertama, keduanya sama-sama menyerukan kebebasan berpikir dan membuka pintu ijtihad. Kedua, keduanya menggunakan pendekatan teologis dalam merumuskan prinsip pemikirannya. Ketiga, pemikiran kedua tokoh tersebut, meskipun hasilnya bertentangan, substansinya sama, yakni toleransi beragama. Dengan kata lain, kedua intelektual itu menawarkan gagasan agar para penganut agama-agama yang berada di India yang multikultur itu untuk berfikir dan bersikap toleran, agar kehidupan multikultur tidak menjadi malapetaka, melainkan menjadi kekayaan yang mendamaikan (Amin: 2014).

Konflik Masa Kini yang Terjadi di India

Kehidupan itu senantiasa mengalami perubahan, termasuk kehidupan di India. Dalam perjalanan sejarahnya, banyak sekali konflik yang mewarnai kehidupan beragama di India. Kendati keduanya hidup berdampingan, budaya kehidupan sehari-hari umat Muslim dan Hindu jauh berbeda, dan bahkan berpotensi untuk terjadinya konflik. Misalnya dalam praktik ritual keagamaan. Ketika melaksanakan hari raya Idul Adha, umat muslim sudah biasa menyembelih sapi untuk dijadikan qurban, sementara itu, sapi adalah hewan yang disucikan dan dikeramatkan oleh penganut Hindu. Begitupun sebaliknya, ritual warga Hindu yang menggunakan tabuhan gendang, dianggap mengganggu kekhusyukan shalat umat Islam. Di situlah konflik muncul

Memang, ada banyak hal yang melahirkan konflik, dan juga banyak model konflik yang melanda mereka, seperti konflik Kashmir, Pembantaian Gujarat, Pembantaian Nellie, terutama konflik antara Hindu dan Islam di New Delhi yang terjadi pada Februari 2020 lalu (Wirayudha: 2020). Konflik yang disebut belakangan dipicu oleh disahkannya Amandemen UU Kewarganegaraan atau Citizenship Amandement Bill (CAB) yang diduga anti-Islam oleh Perdana Menteri Narendra Modi pada bulan Desember 2019. Salah satu isi dari UU ini adalah; para imigran illegal dari Bangladesh, Afganistan dan Pakistan bisa mendapatkan status kewarganegaraan dengan syarat yang ringan, tapi tidak berlaku bagi imigram muslim. UU ini ditentang karena menjadikan agama sebagai kelayakan untuk menjadi warga negara (Putri: 2020)

***

Apa yang sejatinya dilakukan? Tentu saja ada banyak jalan untuk mengatasi konflik di tanah India, salah satunya adalah sadar akan keadaan multikultur mereka, lalu ditindaklanjuti dengan dialog dengan berbasis pada penghargaan dan toleransi akan integritas masing-masing penganut agama. Saling menghargai dan menoleransi merupakan hal utama yang sejatinya mereka pegang teguh, sehingga dialog menjadi bermakna. (Penulis adalah mahasiswi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). [AR]

Referensi

Wirayudha, Randi. Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa. Dalam https://historia.id/agama/articles/konflik-muslim-hindu-india-dari-masa-ke-masa-P4nbM/page/1

Putri, Restu Diantina. Kerusuhan Delhi: Memahami Biang keladi konflik Hindu-Muslim India. Dalam https://tirto.id/kerusuhan-delhi-memahami-biang-keladi-konflik-hindu-muslim-india-eBNd.

Saidul Amin. Hubungan Islam, Hindu dan Kristen di India. Dalam Jurnal Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama, Vol. 6 No. 2 Juli-Desember 2014.

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: