151 views

Agama dalam Masyarakat Multikultural

Agama dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: Ayu Tri Astutik*

Email : ayukk37@gmail.com

Sebagai kepercayaan dan pandangan dunia, agama juga ikut berperan dalam pembentukan interaksi antara manusia dalam suatu tatanan kehidupan. Negara di dunia yang di dalamnya termasuk Indonesia mempunyai masyarakat yang tidak sama agamanya dan kepercayaannya, hal ini yang membuat munculnya masyarakat yang multikultural. Sehingga keberagaman saling menghargai, saling mengayomi dan saling peduli antar sesama juga berbeda-beda cara penyampaiannya. Multikultularisme dijadikan sebagai acuan utama terbentuknya masyarakat multikultural yang damai (Bitar, 2019).

Menurut Parekh masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki berbagai jenis komunitas budaya dengan segala manfaat dan sedikit perbedaan yang ada, sejarah, adat-istiadat dan kebiasaan yang ada. Masyarakat multikultularisme terbentuk karena faktor sejarah, faktor pengaruh kebudayaan asing, faktor geografis, faktor iklim, faktor keanekaragaman ras dan juga faktor agama.

Dalam perspektif Sosiologi, agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu (Rizal Mubit, 2016). Dalam konteks agama, kepercayaan dan praktik tidak bisa dipisahkan. Inilah yang nantinya melahirkan gejala sosialĀ  dan ritual-ritualnya. Menurut Max Weber agama adalah cara yang digunakan manusia untuk berhadapan dengan lingkungan sosial-ekonomi, politik, dan alam.

Weber cenderung melihat realita masyarakat agama secara positif. Namun agama sering kali disalahgunakan bagi tiap pemeluknya namun dalam berbagai hal banyak pula yang menjadikan agama sebagai penguat dan penyatu bangsa dan negara. Relasi sosial yang terjalin antar masyarakat yang beda kepercayaan pun bisa menimbulkan suatu konflik yang akhirnya dapat merugikan masyarakat itu sendiri dan lingkungannya. Karena perilaku yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari hari tidak jauh dari sistem kepercayaan dari tiap agama yang dianutnya. Seperti halnya terjadinya konflik Poso antara umat Islam dan Nasrani, konflik Ambon antara umat Islam dan Nasrani, konflik di Lampung Selatan antara umat Budha dan Umar islam dan konflik lainya yang kerap kali ternjadi di Indonesia.

Perkembangan masyarakat yang semakin maju menyebabkan kejahatan pun ikut mengalami perubahan baik pada sisi bentuk maupun modusnya. Oleh karena itu, sulit kalau dikatakan negara akan melenyapkan kejahatan secara total. Emile Dhurkheim menyatakan bahwa kejahatan adalah suatu gejala normal di dalam setiap masyarakat yang bercirikan heterogenitas dan perkembangan sosial oleh karena itu tidak mungkin dapat dimusnahkan sampai tuntas. Oleh sebab itu tindak berilaku seperti kekerasan dan kejahatan senantiasa ada dan selalu mengikuti zaman.

Namun masih banyak pula, masyarakat kultural yang saling toleran dan memiliki rasa solidaritas yang tinggi di Indonesia contohnya seperti pecalang yang menjaga shalat Idul Fitri yang terjadi di kota Denpasar Bali; pelaksanaan shalat id I syawal 1438 H di lapangan Lumintang; umat Islam di Tambraw Papua yang membantu umat Kristen saat perayaan hari besar; dan juga Gereja Katedral Jakarta yang mengubah jadwal misa di hari Idul Fitri. Masih banyak lagi hal positif yang terjadi antar umat beragama yang perlu dicontoh dan diteladani.

Tindakan sosial ini dapat terjadi kapan saja dan di mana saja karena masyarakat kultur mempunyai berbagai keragaman budaya yang bermacam macam dan bervariasi. Menurut Max Weber tindakan sosial sebagai salah satu konsep kunci untuk memahami realitas sosial (sosiologis.com). Tindakan sosial menurut  Max Weber adalah suatu tindakan individu  sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975).

Di era multikultural seperti sekarang sangat diperlukan penanaman nilai nilai agama melalui pendidikan, seperti yang dikatakan oleh Amin Abdullah bahwa pendidikan merupakan salah satu media yang paling efektif. Dalam hal ini pendidikan adalah sebuah media yang mampu melahirkan generasi yang memiliki pandangan ke depan dalam menghadapi realitas. Generasi yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi secara positif dan konstruktif. Dengan demikian tercipta masyarakat multikultural yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial dan lebih mengutamakan keselamatan sosial. (*Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Angkatan 2018).

Referensi

Azharsaragih. 2014. Tindakan Sosial Menurut Max Weber. Dalam Masyarakat Multikultural.

http://khairulazharsaragih.blogspot.com/2014/01/tindakan-sosial-menurut-max-weber.html?m=1. Diakses pada 27 Januari 2014.

Aletheia Rabbani. 2017. Pengertian masyarakat Multikultural Menurut

Ahli. https://sosiologi79.blogspot.com/2017/04/pengertian-masyarakat-multikultural.html?m=1. Diakses pada 07 April 2017.

Dr. Adon Nasrullah Jamaludin . 2017. Sosiologi Perkotaan : Memahami Masyarakat

Kota dan Problematikanya. Bandung : CV Pustaka Setia.

Achmad Rois. 2013. Pendidikan Islam Multikultural : Telaah Pemikiran Muhammad

Amin Abdullah. STIT Krinci indrapura, Desember 2013. 8(2).

Baidi. 2010. Agama dan Multilulturalisme : Pengembangan Kerukunan Masyarakat Melalui Pendekatan Agama. STAIN Surakarta, Desember 2010. hal 7.

Avatar
Latest posts by admin (see all)
Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: