476 views

Kurban: Antara Sepeda atau Kambing

Pengorbanan Sepeda dan Kambing

Oleh: Kang Daman*

Beberapa hari terakhir muncul meme perbandingan yang membenturkan antara harga sepeda dan harga hewan kurban. Seolah-olah keduanya adalah hal yang patut dipertentangkan. Semoga bukan perdebatan pemikik sepeda dan pemikik kambing yang sama-sama ingin tetapi tidak sesampaian. Ibadah kurban bukanlah sekedar perdebatan mana yang lebih penting antara sepeda kesayangan atau hewan kurban. Idul kurban itu berkaitan dengan komitmen perjuangan karena di dalamnya ada pengorbanan. Para pejuang sering mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta, kesenangan bahkan kesempatan karir dikorbankan dalam perjuangan. Sehingga dalam al Qur’an yang diperhatikan Allah bukan darah dan daging tetapi tingkat ketakwaan.

Ritual penyembelihan hewan kurban tetap dilaksanakan sebagai bagian dari ritual agama yang bernilai ibadah, namun perluasan makna perlu terus dilakukan supaya spirit perjuangan tetap terjaga. Berkorban dalam perjuangan dapat dimaknai sebagai penyembelihan sifat kikir, egois, serakah, tamak, iri, dengki, bakhil yang sering kali menjadi penghambat perjuangan. Bisa juga mengorbankan keinginan membeli sepeda bagus untuk membeli hewan kurban. Namun pada masa pandemi ini boleh jadi sepeda menjadi barang yang penting untuk meningkatkan kesehatan supaya terus bisa beribadah dan berjuang, tetapi kurban jauh lebih penting dari sepeda kesayangan.

Pengorbanan membeli sepeda dengan menabung dan berhemat mestinya juga berlaku pada usaha mewujudkan hewan kurban. Tapi baiklah, biarkan orang sehat dengan sepedanya dan bertaqwa dengan kurbannya atau meraih keduanya. Yang lebih penting dari perdebatan tersebut adalah bagaimana kita mensikapi bulan Dzulhijjah ini dengan mengambil pelajaran dan hikmah sebuah pengorbanan. Setiap kali kita memasuki bulan Dzulhijjah, kita tidak pernah lupa kisah manusia agung yang diutus oleh Allah Swt. untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya, Hajar dan Ismail a.s. Keagungan pribadinya membuat kita, bahkan Nabi Muhammad saw., harus mampu mengambil keteladanan darinya. “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya” (al-Mumtahanah: 4.)

Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim a.s. adalah sikap visionernya terhadap keberlangsungan generasi pejuang. Nabi Ibrahim a.s. membuat kita harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesinambungan generasi saleh yang dapat memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran. Hal ini karena ketika usia Nabi Ibrahim a.s. sudah semakin tua, kerinduannya pada generasi pelanjut perjuangan menjadi semakin besar dan iapun terus berdoa agar Allah Swt.menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.

Diantara doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam al Qur’an: “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (As Shaffat: 100). Pada ayat lain Ibrahim berdoa agar anak cucunya menjadi orang yang taat beribadah: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (Ibrahim: 40). Juga doa, “Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang yang Berserah diri kepada-Mu dan anak cucu kami juga umat yang berserah diri kepada-Mu” (al- Baqarah ayat: 128).

Nabi Ibrahim tidak berdo’a agar dikaruniai anak yang cerdas, anak yang kaya, anak yang sukses dalam karir dunianya, anak yang tampan dan cantik, tetapi yang saleh dan mau menegakkan sholat. Ini adalah do’a visioner yang memperhatikan bagaimana keberlangsungan agama di muka bumi ini tetap terjaga.  Ini berbanding jauh dengan generasi sekarang yang boleh dibilang cukup memprihatinkan. Kasus-kasus perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian, pencurian, narkoba, AIDS, dan berbagai kasus kriminal lainnya adalah kasus-kasus yang banyak dilakukan oleh generasi muda. Mungkin ekspektasi orang tua yang terefleksikan dalam do’a dan harapan akan anak turunnya menjadi orang yang sukses dan terpandang di dunia.

Oleh karena itu, satu hal yang harus kita ingat bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah. Disebut anugerah karena manusia tidak mampu dan tidak akan bisa menciptakan anak. Sebagai orang tua kita harus ingat bahwa anak itu bukan buatan kita, kita hanyalah sebab bagi lahirnya sang anak, karena itu tidak sedikit suami- istri yang sudah lama berumah tangga dan mendambakan lahirnya sang anak belum juga lahir anak yang didambakan itu karena anak itu bukan ia yang mencipta.

Untuk bisa melahirkan generasi yang saleh, yang harus saleh terlebih dahulu adalah kita sebagai orang tuanya. Bagaimana bisa orang tua mendambakan anaknya menjadi saleh bila ia sendiri tidak saleh? Mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik, karenanya bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik kalau ia tidak menjadi contoh yang baik. Tidak cukup hanya bisa memberi contoh yang baik, tetapi harus menjadi contoh yang baik.

Hobby bersepeda harus dijadikan sarana mendidik keluarga, menanamkan akhlak yang baik bagi keluarga agar lahir keturunan saleh yang memiliki “ghiroh” perjuangan. Sambil bersepeda bersama keluarga nilai-nilai yang baik bisa ditanamkan. Diawali dengan pengenalan baik buruk, benar salah, boleh dan tidak boleh, halal-haram dan bagaimana berakhlak dengan orang lain. Membangun toleransi sesama pengguna jalan dan solidaritas terhadap kesulitan yang lain. Dalam ibadah haji kita juga diajari untuk memperbaiki akhlak: “Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkataan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (al-Baqarah: 197).

Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya memberikan pelajaran kepada kita semua akan keharusan mempertahankan dan memperkokoh jati diri sebagai seorang mukmin yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun tantangan, keadaan dan bagaimanapun situasi serta kondisinya. Apakah sedang di rumah atau keluar bersepeda. Begitulah memang yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya dengan hujjah, argumentasi atau alasan yang kuat. Karakter yang kuat ini terbentuk karena penanaman akidah yang kuat bahwa apapun yang terjadi, hanya Tuhanlah tempat kembali: “Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (ash-Shaaffat: 99).

Jati diri luhur yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia. Tapi bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah Swt. untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Kita boleh bertanya, apakah kita mampu mengorbankan sepeda kita yang bagus, mahal dan kita sayangi itu kita sembelih (jual) dan kita belikan hewan kurban? Inilah batasan yang bisa kita jadikan timbangan seberapa besar ketakwaan kita.

Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan berhala-berhala di masa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan di negeri kita, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, punya idealisme yang tinggi, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa atau dipercaya menjadi pegawai, pejabat atau wakil rakyat di usianya yang sudah semakin tua justru ia sendiri yang melakukan korupsi padahal dahulu sangat ditentangnya.

Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqomah sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik. Rasulullah Saw. mengingatkan:  “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan. Kamu berprinsip kalau orang lain baik, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan maka  berbuatlah kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan maka janganlah kamu turut melakukannya.” (HR. Tirmidzi). Bisa jadi kita akan berkata, jika bersepeda itu membawa kebaikan maka lakukanlah, jika membawa kemudharatan yang menjauhkanmu dari ibadah maka tinggalkanlah. Ataukah kita cuma latah sekedar ikut-ikutan tren dan bukanlah sebuah kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan?

Setiap perjuangan dan pengorbanan selalu ada hambatan dan godaan yang akan membelokkan komitmen kita. Sepeda bisa menjadi godaan atau wasilah pada perjuangan tergantung pada nilai yang dimunculkan. Oleh karena itu kewaspadaan dan perlawanan kita terhadap godaan syaitan harus selalu membara. Ibrahim, Hajar dan Ismail berusaha mengusir syaitan melempari dengan batu yang kemudian dilambangkan dalam ibadah haji dengan melontar jumroh. Ini juga berarti setiap muslim harus kuat permusuhannya kepada syaitan meskipun harus dengan bersusah payah sebagaimana jamaah haji mau bersusah payah saat melontar jumroh. Bahkan melontar jumrah diakui oleh para jamaah haji sebagai rangkaian ibadah haji yang paling berat dengan risiko yang paling besar.

Untuk itulah, di dalam Islam kita sangat ditekankan untuk selalu berlindung kepada Allah Swt. dari godaan-godaan syaitan, sehingga untuk membaca Al-Quran yang sudah jelas-jelas baik, kita tetap harus berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan dengan membaca ta’awudz. Namun yang amat disayangkan adalah banyak di antara kita yang untuk membaca Al-Quran berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan, tapi untuk bersepeda tidak, untuk berdagang tidak, untuk ke kantor tidak, untuk ke parlemen tidak, untuk ke istana tidak, untuk berumah tangga tidak dan begitulah seterusnya, akhirnya banyak di antara kita mengikuti godaan setan saat di pasar, di kantor, di gedung DPR, di jalan-jalan gowes, di hotel dan di tempat-tempat lainnya.

Nabi Ibrahim beserta keluarganya telah memberi contoh kepada kita semua, bahwa berislam tidak terikat oleh masjid tetapi dalam semua tempat, waktu dan keadaan. Nabi Ibrahim berpesan di akhir hayatnya: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, begitu pula nabi Ya’qub: ‘Wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kamu agama (Islam) ini, maka janganlah kalian mati kecuali kalian benar-benar menjadi orang Islam” (al-Baqarah: 132).

Dengan demikian, tidak perlu mempertentangkan antara sepeda dan kambing, tetapi jika keduanya memberikan manfaat bagi keberlanjutan spirit pengorbanan maka bisa diraih secara bersama, namun jika situasi membutuhkan perbandingan maka yang lebih mendekatkan pada ketaqwaan adalah pilihan yang sehat. Antara Sepeda dan Kambing bisa diperjuangkan bersama atau dikorbankan bersama dalam meraih takwa. (Penulis adalah Dosen dan Pengelola Labziz IAIN Ponorogo). [AR]

Avatar

admin

Pengelola Website Nyabtu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: